Sejarah 22 Desember bukan sekadar Hari Ibu

Ternyata tak hanya cerita tentang ibu yang mewarnai tanggal 22 Desember. Memang Hari Ibu di Indonesia dirayakan secara nasional pada tanggal 22 Desember, hal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928.

Nilai luhur wanita melekat pada Hari Ibu

Berbeda dengan Mothers day dari negara lain, penetapan itu disesuaikan dengan kenyataan bahwa Hari Ibu di Indonesia pada hakikatnya merupakan tonggak sejarah perjuangan perempuan sebagai bagian dari perjuangan bangsa yang dijiwai oleh Sumpah Pemuda 1928.

Pemilihan tanggal itu untuk mengekalkan sejarah bahwa kesatuan pergerakan perempuan Indonesia dimulai pada 22 Desember 1928. Setiap tahun, peringatan dilakukan untuk menghayati peristiwa bersejarah tersebut.

Dilansir dari Harian Kompas yang terbit pada 22 Desember 1977, Hari Ibu di negara lain biasanya diperingati untuk memanjakan ibu yang telah bekerja mengurus rumah tangga setiap hari tanpa mengenal waktu dan lelah. Sementara di Indonesia, momen Hari Ibu ditujukan untuk menandai emansipasi perempuan dan keterlibatan mereka dalam perjuangan kemerdekaan.

Sebelumnya, peringatan Hari Ibu selalu tertuju pada kaum perempuan. Namun, pada 1986, peringatan ini ditujukan untuk seluruh rakyat Indonesia. Dilansir Harian Kompas yang terbit di tanggal 16 Desember 1986, mulai 1986 bahwa Hari Ibu diperingati secara nasional oleh seluruh rakyat Indonesia. L Sutanto selaku Menteri Negara Urusan Peranan Wanita ketika itu. Dengan diperingati oleh elemen masyarakat, khususnya generasi muda lebih bisa menghayati arti kebangkitan dari peran wanita, sehingga nilai luhur yang terkandung dalam sejarah kebangkitan wanita dapat diwariskan kepada seluruh rakyat Indonesia.

Atma Heroik Kehidupan

Oleh: Dewi Adikara
💐💒💒💒💒💒💐

Renjana tiba saat Adzan berkumandang,
Bukan karena hati ini biasa berdendang.
Namun sejauh mata memandang,
Teriakan Malaikat kecil bak big ben berdentang.

Ia tak luput dari dekapan,
juga tak lepas dari suapan.
Hanya saja jiwanya gelabah di depan,
saat belahannya melesap ke dipan.

Oh, malaikat kecilku bisakah sejenak tuk senyak?
Apakah shyam tak mampu membuatmu nyenyak?
Harsa hati ini walau uang tak banyak,
Rejeki mengalir membuatku terperanyak.

Saat semua orang kembali bekerja dibawah kepala,
daksa ini memilih untuk menimangmu.
Cahaya Bagaskara membelah nabastala,
membawa pada cahaya untuk kesehatan daksamu.

Bisa saja aku menjadi pilon pada buana,
saat perhatian ini untuk kesempurnaanmu saja.
Atma ini hanya bisa sumarah mencapai bijaksana,
saat lokawigna berjulid dengan statusku saja.

Lokawigna tak tahu bahwa pekerjaan ini begitu mulia,
mungkin ia terlalu iri dengan kesenanganku.
Biarkan ia bebas berjulid bak orang masih belia,
akan ada saatnya semua akan paham dengan kenanganku.

Atma seorang ibu yang tak lekang oleh waktu,
pun tak goyah dengan sarayu pencelaan.
Ia membuat kekuatan dimulai dari nawaitu,
pun kelambatan dibalik kecerdasaan

Galis Bangkalan, 13 Agustus 2019

Puisi dibuat dalam rangka challenge menulis rumedia nulis bareng bacth 1.

Sumber referensi berita: Pratama, Aswab Nanda. 2018. 22 desember diperingati sebagai hari ibu ini sejarahnya. https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/nasional/read/2018/12/22/08260031/22-desember-diperingati-sebagai-hari-ibu-ini-sejarahnya diakses pada 29 desember 2019