Senyum dan Tangis Pilu di Sahur Pertamaku

Siapa coba, orangnya yang tidak gembira bila akan memasuki bulan Suci Ramadan? Pastinya semua sumringah menyambutnya bukan?.

Tak terkecuali mereka yang dengan ikhlas merasakan setitik kebahagiaan, meski tidak memiliki apapun untuk dihidangkan.

Tetapi yakinlah bahwa yang Maha Rahim akan menjamin rejeki bagi setiap hamba di muka bumi. Asalkan tetap berikan dan selalu meningkatkan ketaqwaan kepada-Nya.

Meski kami keluarga yang sangat pas-pasan dan insyaAllah berkah, tetapi kami selalu berdo’a penuh harap yang terbaik, untuk bulan suci di tahun ini. Layaknya keluarga cemara, yang selalu bersama membagi kasih dan sayang.

Sedih pun tak memberi peluang untuk melanjutkan jejak. Sebaiknya tetap menjalani dengan penuh pasrah dan tawakkal kepada-Nya.

Saya hanya bisa tersenyum, meski pada akhirnya air mata bergulir, memberi kode suara hati, saat memasuki sahur di Ramadan pertama.

Belum bisa puasa karena halangan, saya tetap semangat mempersiapkan seadanya untuk anggota keluargaku yang esok berpuasa.

Pengalaman yang sedikit haru saya alami. Bagaimana tidak, sebegitu Maha Adilnya Allah Swt, membagi rejeki tanpa pandang bulu.

Bagaimana kita bisa tetap meningkatkan rasa kesyukuran itu, untuk tetap yakin.

Padahal, situasi ekonomi yang melanda saat ini, membuat siapapun tak bisa berpikir jernih. Kecuali orang-orang pilihan yang sabar yang selalu mendapat kebaikan.

Saya boleh cerita sedikit ya. Mohon ijin. Meski saya merasakan malu, ketika ada tokoh pendidik dengan memberikan kejutan atas nama putrinya, membagi beras sembako. Dan jujur saat itu, beras di rumah memang benar-benar kosong. Subhanallah.

Rejeki yang tidak disangka-sangka. Mamang Gosend tiba di depan rumahku dengan basah kuyup, bermandikan air hujan. Segera memberikan kiriman paket beras dan sembako untuk saya dan keluarga.

Saya tidak bisa berkata, selain ucapan Alhamdulillah dan terima kasih banyak. Semoga beliau selalu dinaungi rahmat dan berkah berlimpah dari-Nya.

Sekonyong-konyong tangisanku pun bercerita.

Apalagi seorang tukang ojek gosend yang rela jauh-jauh mengantarkan ke depan rumahku selepas maghrib.

Dengan tulus ku berikan do’a. Semoga diapun memperoleh keberkahan yang banyak dari ALLAH Swt.

Selepas itu, aku cepat masuk kembali ke dalam rumah. Tangisanku makin menjadi, aku terkulai di kursi pavilyun saat itu. Sambil tak berhenti menghaturkan do’a terbaikku.

Ternyata masih ada orang baik di tengah pandemik. Di awal sahurku, di bulan Ramadan.

Titip do’a untuk mereka. Para hamba pilihan terbaik, yang tetap merangkai tangan indahnya dengan sedekah berburu pahala.

Rumah Media Grup / Allys Setia Mulyati
Foto : dokumentasi pribadi