Selamat Jalan Mak Nyak

Semua tak ada yang berubah, sama seperti dulu. Tidak pernah ada yang berbeda.

Hanya saja, kabar kepergian itu teramat sangat membuat siapapun syok menerima.

Telepon di ruang kerja Rindu berdering lama, entah kenapa hari ini malas menerima apapun soalan yang mengelus.

Non, itu diangkat dulu lah telepon-nya. Siapa tahu hal yang sangat penting!.”

Dengan penuh rasa malas Rindu akhirnya memaksakan tangan lembutnya untuk mengangkat gagang telepon kantor di meja kerjanya itu.

Satpam kantor yang seringkali berkeliling melihat suasana di kantor selalu siap dengan tugas penjagaannya memberikan nyaman.

“Hallo?! Siapa ya?!,” tanya Rindu sambil mata tetap terfokus ke layar monitor PC.

“Lama banget sih ngangkat telepon aja? Gimana kalo entar disuruh ngangkat jemuran Mpok ?!,” seraya terdengar suara tertawa termehek-mehek di balik telepon.

Kamu siapa sih? Maaf ini jam kerja, anda salah sambung!.”

Dengan ketus Rindu menutup telepon-nya tak mau menghiraukan orang diseberang sana yang hanya ingin menggoda.

Tak lama telpon berdering kembali. Dengan sedikit kesal Rindu mengangkatnya, dan langsung terdengar suara parau di seberang sana.

“Mbak,, aku mau kasih kabar, kalau ibunya bang Ken sudah meninggal.”

Tak bisa menangkap apa yang sedang terjadi, Rindu hanya menganga dengan tangan masih memegang erat gagang telepon, dan masih dengan suara tanya,,

Terhentak langsung kembali mendekatkan telepon ke tenlinga dengan agak keras, belum bisa memastikan dengan kabar yang baru saja di terima.

Panas dingin suhu tubuh Rindu tiba-tiba seperti ikut meracau.

“Maaf, kenapa? Kenapa sebelumnya gak kamu kabari kalau memang beliau tengah sakit?,” suara Rindu terasa agak berat.

“Maafkan kami Mbak, semua di luar kuasa kami, yang pasti ibu kemarin ingin sekali ketemu dengan Mbak, tetapi Tuhan berkehendak. Ini jalan yang terbaik yang menjadi ketetapan takdir Tuhan Mbak. Yang kuat ya Mbak.”

Tuuuuuuuuut…

Suara telepon ditutup lama, sinyal suara semakin melemah. Rindu hanya bisa mengeluarkan air mata. Tak percaya dengan apa yang terjadi.

Hampir terdiam beberapa saat, Rindu-pun bergerak cepat. Merapihkan meja kerjanya, kemudian langsung pamit kepada atasan untuk langsung pergi ke rumah duka.

Selama di perjalanan pulang itu, baru terbayang segala kenangan baik yang pernah dilalui, meski ibu angkatnya itu tidak pernah bisa sering bertemu, namun perasaan kehilangan pasti ada.

Hanya lautan do’a yang mengantarkan kepergian Mak Nyak, semoga amal kebaikan beliau selalu menjadi ladang pahala kebaikan yang akan dirasakan di kehidupan selanjutnya setelah kematian.

Pict : dokumen pribadi