Selamat Pagi, Pak Hakim Yang Mulia

  Selamat Pagi, Pak Hakim Yang Mulia


  
 Ucapan terima kasih saya haturkan
 Kesempatan berharga tak ternilai
 Berdiri di muka majelis
  
 Ijinkan diri yang biasa ini
 Membacakan selembar pernyataan
 Sebuah pembelaan sederhana
 Atas nasib malang yang menimpa
  
 Hanya sejumput kata-kata biasa
 Yang keluar dari benak seorang insan
 Seorang bodoh ilmu tak berpunya
  
 Salahkah saya, Yang Mulia?
  
 Ketika tuan besar tanpa belas kasih
 Menendang diri keluar
 Pupuskan harapan menatap masa depan
 Bermimpi miliki hidup sejahtera
  
 Tak tega diri ini, Yang Mulia
  
 Saat mendengar tangisan si buah hati
 Berhari-hari tak menyentuh nasi
 Relakan perutnya mengembung tak alami
 Terisi air kendi dingin tanpa gizi
  
 Tak terhitung jauh kaki ini melangkah
 Hingga melepuh terbakar kejamnya aspal hitam
 Mencari pintu yang masih sudi terima diri
 Demi nafas keluarga esok hari
  
 Salahkah hamba, Yang Mulia?
  
 Saat temukan sebutir buah terjatuh di tanah tak bertuan
 Berharap akan terganti selembar rupiah
 Hadiah sebungkus nasi bagi si kecil
  
 Lalu tiba-tiba mereka datang
 Tuduhan pencuri membakar emosi
 Hadiah kepalan bertubi-tubi
 Hingga nyaris terlepas nyawa ini
  
 Apakah masih ada keadilan bagi insan kecil, Yang Mulia?
  
 Mereka yang tak mampu membela dirinya sendiri
 Mereka yang tak sanggup menghujani pembela dengan guyuran rupiah
 Mereka yang selalu terinjak hingga tak berbekas
  
 Hanya satu pinta hamba, Yang Mulia
  
 Jika benar, hadirkan kebenaran itu
 Jika nyata, hadirkan keadilan itu
  
 Sebelum kelaliman meraja
 Sebelum kezaliman berkuasa
  
 Sebelum masanya tiba
  
 Sang Pemilik Masa meminta pertanggungjawaban
 Kelak di Hari Penghakiman
  
 Bandung Barat, awal Oktober 2019
  
 #Nubar
 #NulisBareng
 #Level4
 #BerkreasiLewatAksara
 #menulismengabadikankebaikan
 #week1day5
 #RNB48
 #rumahmediagrup
 #deskripsigambar — bersama Titi Keke, Rumedia Nubar Bla dan Ilham Alfafa. 





rumahmediagrup/masmuspoetrygraphy