Selesaikan Trauma Inner Child dengan Sosok Bapakku, Baru Bisa Terima Sosok Suamiku Apa Adanya (1)

Selesaikan Trauma Inner Child dengan Sosok Bapakku, Baru Bisa Terima Sosok Suamiku Apa Adanya (1)

Oleh:Ribka ImaRi

Aku ingin menulis banyak tentang semua cara yang kutempuh untuk sampai di titik perjuanganku saat ini. Perjuangan berdamai dengan bapakku dan suamiku. Dua sosok laki-laki yang seharusnya aku cintai, tetapi justru sempat kubenci setengah mati.

Hanya karena inner child-ku tentang suami masih salah persepsi. Karena memang aku tak menemukan idola dalam sosok bapakku. Sosok yang seharusnya menjadi cinta pertamaku, justru pernah membuatku depresi berkepanjangan.

Tak lagi kuingat berapa banyak nasehat yang menghakimi, “Jangan sampai jadi anak durhaka.” Aku bahkan tak peduli lagi jika aku benar-benar menjadi anak durhaka pada bapakku.

Karena pada kenyataannya, sejak kepindahanku tiga tahun lalu dari Depok, Jawa Barat ke Sokaraja, Banyumas, ada keinginan kuat untuk tidak ingin bertemu lagi dengan bapakku. Bila mungkin ajal beliau telah mendekat. Egoku begitu tinggi.

Aku lelah … sangat lelah. Aku bingung dari mana harus memulai memperbaiki segalanya. Namun, tetap cara Allah memang luar biasa telah membolak balikkan hati kami masing-masing.

Tepat di tahun 2016-2017 aku berproses mengasuh inner child-ku. Dengan bimbingan mentorku kala itu, bapak Supri Yatno, aku belajar mengurai satu per satu akar serabut masalahku hingga aku bisa menemukan akar utama dari sumber emosiku yang meledak-ledak. Sampai pada akhirnya aku bisa mengendalikan ego dan emosiku sampai pada titik kurva yang lurus.

Tak ada sensasi negatif apapun saat memeluk bapakku. Tumpukan kemarahan itu telah berganti dengan self compassion luar biasa. Aku jadi punya rasa welas asih kepada bapakku.

Padahal, 25 tahun silam aku pernah sangat ingin membunuh bapakku atau aku yang mati saja dengan menceburkan diri ke sungai saat sedang berangkat sekolah tingkat SMP.

Aku terus menerus berjuang belajar ilmu ACCEPTANCE (PENERIMAAN). Bukan tentang seberapa dalam luka batinku atas perlakuan kedua orangtua. Namun tentang seberapa dalam aku bisa memaafkan keduanya.

Aku menerima mereka apa adanya sampai ke akar-akarnya. Aku terima keadaan mereka yang pernah berlaku menyakiti hati, terutama bapakku. Itu semua karena mereka belum pernah belajar ilmu parenting sepertiku sekarang ini.

Maka, wajar bila mereka sama sekali tidak paham tentang cara berlaku menjadi orang tua yang baik. Satu hal yang aku yakini, mereka telah berjuang dan berusaha sebaik-baiknya dan semampunya.

(Bersambung)

Sokaraja, 30 November 2019

-Ribka ImaRi-

(Penulis, Penyintas Depresi dan Bipolar, Mentor Parenting Kelas Online)

Sumber foto: dokumentasi pribadi

rumahmediagroup/ribkaimari