Semangat Pantang Menyerah

Semangat Pantang Menyerah

Oleh : Ribka ImaRi

Mamat seorang pemuda biasa yang tinggal di desa. Usianya belum lagi masuk kepala tiga. Tetapi sudah bisa menjadi juragan kambing kurban cukup ternama di kecamatannya. Karena kambing kurban yang dijualnya hampir semua kualitas terbaik.

Padahal cerita beberapa tahun silam, Mamat hanya tamatan sekolah dasar (SD). Karena saat hendak melanjutkan ke jenjang menengah pertama, tak ada lagi yang membiayainya. Sebab bapaknya meninggal dunia tepat dihari kelulusannya. Sedih rasanya.

Ingin Mamat meratapi diri. Ia merasa Tuhan tak adil padanya, “Mengapa kah harus pupus cita-citaku untuk bisa bersekolah tinggi?” keluhnya dalam hati.

Sedang ibunya tak bisa bekerja selain menjadi buruh cuci dan setrika. Hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan harian ala kadarnya. Dan juga keperluan sekolah dua orang adiknya yang masih duduk di kelas 5 dan 2 sekolah dasar.

Mau tak mau Mamat harus mengalah pada adik-adiknya saat itu. Agar kedua adiknya bisa tetap bersekolah. Setidaknya sampai bisa lulus SD juga seperti dirinya. Dan hal inilah yang membuatnya tak ingin menyerah. Ia mulai berpikir, apa yang bisa dilakukannya untuk meringankan beban ekonomi ibunya.

Mulailah ia berjalan-jalan ke pasar. Berkenalan dengan beberapa penjual di pasar. Mamat mulai membantu-bantu penjual yang dikenalnya. Kadang menjadi buruh lepas. Kadang menjadi buruh panggul. Mana saja yang membutuhkan tenaganya. Karena hanya tenaga yang bisa dikeluarkannya untuk mendapat upah

Karena Mamat ringan tangan, jadilah Mamat diberi upah layak setiap kali selesai membantu selama seharian. Ya, Mamat bersyukur sekali dengan upah yang diterimanya. Setidaknya ibunya tidak lagi memikirkan jatah untuk dirinya.

Beberapa tahun kehidupan Mamat begitu-begitu saja. Sampai suatu ketika Mamat terbersit untuk pergi ke pasar hewan. Lalu berkenalan dengan salah seorang juragan hewan kurban yang baik hati. Pak Kusno, namanya.

Mamat membantu-bantu juga di sana. Membantu mengurus pakan hewan kurbannya. Kadang kala ikut serta saat ada pengiriman hewan kurban. Dengan menaikkan dan menurunkan hewan kurban ke atas mobil bak terbuka.

Pernah suatu siang yang terik menjelang Hari Raya Iduladha, saat armada milik sang juragan sedang keluar mengantar hewan kurban semua. Si pembeli memaksa minta diantarkan kambing kurbannya siang itu juga. Sebab si pembeli hendak pergi. Ada keperluan penting yang tak bisa ditunda. Dan tak mau menunggu hari esok untuk pengiriman kambing kurban yang dibelinya.

Selama tiga bulan membantu pak Kusno, baru kali ini Mamat bertemu dengan pembeli yang tidak sabar menunggu waktu pengiriman. Biasanya dibarengi dengan pembelian yang lainnya. Agar mobil bak terbuka bisa mengantar sekaligus ke beberapa tempat.

Saat pak Kusno agak kebingungan menghadapi si pembeli yang keras kepala, Mamat dengan sigap menjawab, “Biar Saya saja Pak yang antar kambingnya. Pakai sepeda Saya saja.”

Sehari-hari Mamat memang memakai sepeda warisan bapaknya untuk dipakainya sebagai alat transportasi. Sehingga bisa menghemat pengeluaran untuk naik angkutan umum. Sepeda onthel peninggalan bapaknya sekaligus sebagai pengobat rindu akan sosok bapak yang baik di hati Mamat.

Pak Kusno terperangah demi mendengar tawaran Mamat dengan sigap tadi, “Ini alamatnya jauh loh, Mat. Panas terik pula. Kasian ah.”

“Tak mengapa Pak. Saya tahu jalan tembus ke alamat itu. Setelah melewati jembatan. Bisa lewat jalan kampung. Jadi lebih dekat dan tidak terlalu panas. Banyak pohon rindang di tepi jalannya.” jelas Mamat meyakinkan.

Seakan tak rela Mamat bersusah payah, Pak Kusno baru tersadar bertanya karena bingung, “Eh, tapi Mat, bagaimana cara bawanya?”

“Gampang Pak … Saya gendong belakang.” jelas Mamat lagi-lagi meyakinkan Pak Kusno.

“Iih … berat loh, Mat. Bapak ga tegalah.”

“Tak apa Pak. Bismillah, Saya dan sepedanya kuat Pak.”c

Melihat keyakinan dan semangat Mamat yang pantang menyerah demi mengantarkan pembelian kambing kurban, akhirnya pak Kusno mengiyakan penawaran Mamat.

Jadilah Mamat mengantar kambing kurban dengan menggendongnya dibelakang. Setelah dibantu menggendongkan dan mengikat kaki kambing dengan aman serta nyaman untuk Mamat dan kambing, pak Kusno akhirnya rela melepas Mamat dengan membaca basmallah. Berharap Mamat sampai dengan selamat ke rumah pembeli tanpa kurang suatu apapun.

Sambil terus mengucap terimakasih dan hati-hati, sang juragan merasa takjub pada Mamat. Pemuda berusia 19 tahun itu begitu semangat pantang menyerah. Pak Kusno dibuatnya kagum.

Hal ini yang membuat pak Kusno akhirnya memberi kepercayaan untuk membantu mengelola usaha jual beli hewan kurban. Upahnya yang terus naik sampai akhirnya Mamat bisa menabung mengumpulkan modal untuk usaha.

Dan tanpa diduga, pak Kusno memberi pinjaman lunak kepada Mamat. Pak Kusno sangat percaya pada Mamat yang telah teruji kejujuran dan keuletannya selama bekerja di lapaknya hampir 6 tahun lamanya.

Pada akhirnya Mamat memilih usaha yang sama dengan juragannya. Tetapi Mamat membuka usaha di desanya sendiri. Dengan tujuan agar warga desanya tak perlu repot-repot membeli hewan kurban dengan jarak yang jauh dari pasar hewan besar di kabupaten.

Beberapa tahun secara terus menerus Mamat berproses menjadi juragan hewan kurban seperti pak Kusno. Ada banyak ilmu di dapatnya langsung saat membantu pak Kusno dulu.

Mamat pun tak pernah malu bertanya jika memang ia tak paham. Sebab ia sadar hanya tamatan SD terkadang membuatnya belum mengerti banyak hal.

Namun Mamat selalu yakin dan percaya pada Allah SWT yang memberi rezeki untuk hamba-Nya yang selalu berusaha. Pesan dari almarhum bapaknya inilah yang selalu dipegang teguh oleh Mamat.

Benar saja, usaha tak pernah mengkhianati proses. Pun, tak pernah ada perjuangan berakhir sia-sia. Kalau ini pesan dari ibunya. Atas seizin dan kehendak Allah SWT, kini Mamat bisa mengenyam hasil dari semangat pantang menyerahnya pada siang yang terik hampir sepuluh tahun silam.

Atas hasil dari kerja kerasnya itu, Mamat bukan saja berhasil mengangkat derajat hidupnya, ibu dan kedua adiknya menjadi lebih baik. Tetapi tetap bisa bersekolah bahkan hingga jenjang kuliah strata satu. Alhamdulillah … wa syukurillah….

Bagi Mamat, tamatan SD tak menjadikan halangan baginya untuk bisa berusaha sekuat tenaga demi mengubah nasibnya. Bukan tentang bisa atau tidak bisa. Namun tentang mau atau tidak mau. Keyakinan Mamat, asalkan ada kemauan, pasti ada jalan keluar dan pertolongan dari Allah SWT untuk mengubah nasib umat-Nya. Untuk itu, tetaplah semangat pantang menyerah.

-Ribka ImaRi-
Sokaraja, 28 September 2019.

#Nubar
#NulisBareng
#Level3
#RumediaNubarBla
#menulismengabadikankebaikan
#RNB33
#week4
#day4
#temadeskripsigambar
#rumahmediagrup

Emmy Herlina
Asri Susilaningrum
Lelly Hepsarini
Hadiyati Triono
Hayfa Ega Farzana Rafie
Syarifah Nur Adni

Sumber foto: admin RNB

rumahmediagroup/ribkaimari

2 comments

Comments are closed.