Semua Orang Berbakat Menulis

Saya percaya bahwa kita semua adalah orang yang pernah menulis. Hanya saja disebabkan oleh anggapan yang salah tentang menulis dan kepenulisan, kita merasa diri bukan penulis dan karenanya menjadi segan untuk menulis. Sampai pada level tertentu, menulis itu bukanlah bakat. Menulis itu adalah sebuah kemampuan, yang seyogianya dimiliki oleh semua orang yang sudah tahu “tulis-baca”, karena setiap hari kita juga menulis. Kita menulis memo, kita menulis surat, kita menulis proposal, kita menulis laporan, dan sebagainya. Tapi kemampuan itu tidak kita pelihara dan kembangkan. Bila tidak ada kebutuhan untuk berkomunikasi dengan sebuah sosok yang nyata, kita cenderung untuk tidak menulis.

Tujuan dan motivasi menulis harus kita akui bahwa berbeda dengan di negara-negara Eropa atau AS, sistem pengajaran di bangku sekolah kita memang tidak terlalu mendorong kita untuk menulis. Sementara itu nilai-nilai yang berkembang di masyarakat juga masih belum memberikan penghargaan yang cukup tinggi bagi orang yang mampu dan gemar menulis.

Saya selalu memotivasi anak-anak dan para anggota komunitas dengan berkata, “Kalau hatimu sedang susah karena merasa sepi dan tidak dimengerti orang lain, maka tulislah perasaanmu itu di buku harianmu. Dengan menuliskannya maka paling tidak kamu akan merasa terbebaskan.” Demikian juga kalau mereka sedang “meluap-luap” disebabkan oleh sebuah pikiran atau gagasan yang ada di kepalanya, saya selalu menganjurkan mereka untuk menulis, dan menjadikan menulis sebagai sebuah kebutuhan yang sama pentingnya dengan membaca. Bila menulis telah menjadi sebuah kebutuhan, maka pada tahap berikutnya kita tidak lagi hanya menuliskan hal-hal yang paling pribadi dalam kehidupan ini di buku catatan harian. Kita akan menjadi terbiasa untuk menuliskan apa saja yang sedang kita pikirkan, baik itu yang menyangkut pergaulan, pendidikan, pelajaran dan sebagainya.

rumahmediagrup/deejay