Sepenggal Episode Tentang Hisab

Sepenggal Episode Tentang Hisab

“Kenapa setiap kali teman-teman berbuat salah, selalu Aa yang kena marah? Padahal bukan Aa yang memulai duluan. Nggak adil!”

Suatu hari, sulungku pulang dengan wajah kusut dan cemberut. Dia sibuk menceritakan hukuman yang baru saja dijalaninya saat di sekolah karena melakukan kenakalan bersama teman-temannya. Wajahnya memerah menahan amarah, kadang suaranya berubah menjadi sengau dan berubah menjadi isak tangis tertahan.

Aku hanya diam mendengarkannya. Tak sedikitpun mata ini beralih memandangi yang lain. Kuperhatikan semua ekspresi dan lontaran-lontaran kekesalan yang meluncur deras dari mulutnya hingga tuntas semua.

Berkaca pada kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat, yang tak pernah sedetikpun terlepas dari rasa malu dan takut karena merasa diawasi oleh Allah SWT. Hari-hari mereka disibukkan untuk berbuat amal kebajikan, tanpa kecuali dan tanpa syarat. Mereka melakukannya dengan sepenuh kesadaran, bahwa setiap perbuatan pasti ada perhitungannya. Ada hisabnya.

Mari kita perhatikan bagaimana kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat. Mereka sebenarnya mampu untuk hidup bergelimang harta setelah Islam mendapatkan kemenangan di mana-mana. Tetapi mereka tidak memilih dunia. Mereka memilih zuhud, hidup sederhana. Merasa berlebihan dan masih terlalu kaya, padahal yang tersisa di rumahnya hanya pakaian perang, pedang, beberapa helai baju yang sudah lusuh, dan alat makan serupa mangkuk yang jumlahnya hanya satu dua buah saja.

Mereka masih merasa terlalu kaya, padahal sehari-hari hanya mampu mengkonsumsi beberapa butir kurma bahkan sering berpuasa karena tak memiliki makanan untuk dimakan.

Berlebihankah? Tidak menikmati hidupkah mereka?

Bukan! Bukan itu. Akan tetapi mereka sangat memahami bagaimana dahsyatnya suasana hari penghisaban kelak di yaumul akhir. Mereka takut serta khawatir, kenyang yang dirasakan di dunia tidak mendapat keridaan dari Tuhannya dan melalaikan dari mengingat-Nya. Bukankah perut yang senantiasa kenyang akan menjadikan seseorang malas, hilang rasa empati pada orang lain yang kelaparan, dan seringkali lupa bersyukur?

Lalu perhatikan diri kita. Seberapa sering mengeluh tak memiliki baju yang cukup pantas untuk dikenakan saat menghadiri acara keluarga atau dengan relasi bisnis, sementara faktanya baju yang dimiliki bertumpuk di lemari, tas-tas dan sepatu-sepatu berjejer di rak-rak. Sebagian bahkan sudah berdebu karena jarang kita sentuh dan kita pakai. Tidakkah suatu saat barang-barang tersebut akan menuntut pertanggungjawaban kita karena tidak dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik?

Jika kita bicara tentang tingkah laku di dunia, maka kesalahan-kesalahan yang dilakukan sebaiknya segera diselesaikan di dunia lewat hukuman-hukuman yang sesuai dengan kaidah agama. Perbuatan kita yang merugikan orang lain, ada baiknya segera dibereskan lewat hisab dari orang-orang yang berwenang. Agar sebelum kematian menyapa, maka semua dosa-dosa kita sudah punah. Bukankah kita akan lebih ringan dan bersuka cita menyambut kedatangan malaikat maut dalam keadaan sudah ringan dari dosa?

Semua ada hisabnya. Semua ada perhitungannya. Apa yang kita punya, lakukan, dan pakai hari ini. Takkan luput dari pandangan Allah SWT. Itulah mengapa para hartawan dan pemimpin di akhirat nanti menjadi barisan terakhir yang dihisab. Sebab banyak pertanggungjawaban yang mesti dilakukan. Sementara orang dengan sedikit harta dan tanggungan, akan dihisab paling awal.

“Jadi, seperti itu, Bun?” Sulungku menyeka airmatanya dan menatap sayu setelah mendengar kisah-kisah Rasulullah SAW dan para sahabat. Amarahnya sudah mereda.

“Iya. Lebih baik semua diselesaikan di dunia. Supaya kita ringan melangkah di akhirat kelak. Sekaligus menjadi pengingat agar kita jangan mengulangi kesalahan yang sama. Bunda tidak meminta Aa berjanji, tetapi berusahalah untuk menjadi lebih baik lagi. Terimalah hukuman dari ibu guru dengan ikhlas. Sebab itu artinya mereka sayang padamu. Mereka tidak ingin membiarkanmu terus berbuat salah apalagi sampai membawa beban dosa hingga ke akhirat kelak.”

Maka, sudahkan kita menghisab diri hari ini?

Wallahu alam bishowab.

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah