Sesak dalam Sesal

Sesak dalam Sesal

Mas Hari masih terbaring lemah di ranjang sembari kusuapi perlahan. Dia baru saja pulang dari rawat inap di rumah sakit karena hipertensinya tak terkendali. Penyakit itu pula yang menyebabkan Mas Hari kena stroke dan dirumahkan dari tempat kerjanya.

Sejak Mas Hari sakit, saat itulah kami terasa dekat. Tugasnya sebagai ABK (anak buah kapal) dengan posisi KKM (Kepala Kamar Mesin) di sebuah kapal penangkap ikan, membuat kami jarang bertemu.

Saat di darat pun, Mas Hari juga lebih banyak meluangkan waktu di rumah ibunya. Hal ini yang sering membuatku cemburu dan menjaga jarak dengan ibu mertua.

“Asri, seharusnya kamu ikut memperhatikan ibu. Beliau sudah tua dan Badri serta istrinya juga bukan orang mampu.” begitu kata Mas Hari saat aku protes dan menunjukkan rasa tidak suka pada ibunya.

“Berulangkali aku mencari alasan saat Ibu menanyakan kenapa kamu tidak ikut menginap. Jangan salahkan Ibu bila beliau lebih memilih tinggal di rumah peninggalan Bapak almarhum.” lanjut Mas Hari.

Aku terdiam, tapi tetap tak bisa menepis rasa tidak sukaku pada Ibu.

Awal menikah, ibu menemani kami di rumah ini. Aku yang masih muda dan sering ditinggal suami berlayar, merasakan Ibu terlalu mengekangku dengan aturan-aturannya. Sampai akhirnya kusampaikan ke Mas Hari untuk memisahkan kami.

Kini Mas Hari yang terbaring sakit dan agak sulit bicara, berusaha berkomunikasi dengan jemarinya. Digerakkan jarinya di atas sprei dan kulihat seperti bentuk huruf. Ku eja satu persatu huruf yang ditulisnya. “IBU”

“Ya Mas, nanti kuhubungi Badri untuk mengajak Ibu kemari dan menginap.” kataku menjawab sekenanya maksud gerakan jemari Mas Hari.

===

Pagi itu harus kubereskan kamar untuk Ibu. Anak-anak baru saja selesai sarapan. Makanan khusus untuk Mas Hari sudah disiapkan dan kubawa ke kamar. Kudekati Mas Hari yang tampak masih tertidur. Ku pegang tangannya, dan kusentuh pipinya, “Mas, sarapan dulu yuk.” Mas Hari tak bereaksi.
Kuguncang perlahan sambil menyebut namanya, namun tetap diam. Anak-anak yang masih berada di ruang tamu segera berlari saat aku berteriak memanggil mereka.

“Bayu, Tegar, Nabila, ayahmu ini. Cepat kemari!” teriakku.

Bayu si sulung segera tanggap apa yang terjadi. “Bayu ke dokter Tito ya Mah,” kata Bayu yang berinisiatif memanggil tetangga kami yang juga seorang dokter.

Aku sesenggukan serasa kehilangan akal harus berbuat apa, sampai dokter Tito datang. Perlahan ia menyampaikan bahwa suamiku sudah tiada sekitar dua jam lalu. Ya Allah, itu waktu aku sibuk di dapur dan bersiap untuk membersihkan kamar bagi ibu nanti. Kenapa Mas Hari tak mau kutemani di saat-saat terakhirnya, atau aku istri yang lalai yang seharusnya lebih banyak menemaninya di saat ia sangat membutuhkan.

Tangisku tambah pecah, kudekap Mas Hari yang tak bergeming lagi. Rasanya aku belum meminta maaf atas perlakuanku padanya yang selalu emosi hanya karena ibu.

===
Seminggu setelah kematian Mas Hari, ibu mertuaku masih menemani di rumah kontrakan kami ini. Yah, rumah yang selalu Mas Hari sebut ‘rumah kita’ bukan milik kami. Sebuah rumah yang sudah kami tempati sejak Bayu berumur satu tahun.

Malam itu Ibu mertua mendekatiku. Esok beliau berencana akan kembali ke rumahnya.

“Asri, besok Ibu pulang. Ada yang ingin Ibu sampaikan kepadamu,” kata Ibu sambil menatapku.

“Maafkan Asri bu, selama mendampingi Mas Hari tidak memperlakukan ibu dengan baik.” kucium tangannya sambil terisak.

“Ibu sudah memaafkan sejak lama Asri, karena tidak mudah kita berbagi, tidak bisa memiliki secara utuh orang yang kita cintai. Sekarang ini Ibu ingin menyampaikan amanat Hari yang dititipkannya ke Ibu.” sembari ibu membuka retsleting tas besarnya.

Ada amplop besar di tangan Ibu, lalu diserahkannya padaku.

“Ini milikmu sekarang Asri. Simpanan Hari yang seharusnya dia serahkan nanti saat ulang tahun perkawinan kalian yang ke dua puluh. Bukalah.”

Tanganku gemetar menerimanya, dan perlahan kubuka, kukeluarkan isinya.

“Mashaa Allah.” Tangisku pecah kembali, sama seperti saat memegang tangan Mas Hari yang kaku.

Ibu melanjutkan bicaranya, “Itu sertifikat rumah ini, Hari sudah membelinya dari Haji Sodiq. Dan ini uang milik anak-anakmu yang sudah ditabungnya sejak mereka kecil. Ada juga milikmu.”

“Ibu harap ….” Sebelum beliau selesai bicara, aku sudah memeluknya dan bersujud.

“Maafkan Asri, Bu. Ampuni kekeliruan selama ini.”

Aku terus terisak dan tak mampu lagi berkata-kata.

rumahmediagrup/hadiyatitriono