Setan Pasti Takut ( Cerpen )

Alkisah di sebuah dusun bernama Dusun Bambu, ada seorang anak bernama Udin berumur 5 tahun. Ia tinggal bersama ayah dan ibunya. Ayah dan ibunya bekerja di sawah menggarap sepetak tanah peninggalan sang kakek.

Udin anak yang lucu dan lugu, karena keluguannya sering kali temannya memanfaatkannya. Suatu ketika saat bermain bersama teman-temannya, “Udin, kamu dipanggil Ustad Lukman. Ditunggu di rumahnya cepetan!” ujar Badu teman Udin.

Seketika tanpa berpikir panjang Udin lari menuju rumah Ustad Lukman yang jaraknya lumayan jauh. Sesampai di rumah Ustad Lukman ternyata rumahnya kosong, keluarga Ustad sedang menjenguk putranya di pesantren. Akhirnya Udin kembali ke lapangan di mana teman-temannya sedang bermain dengan napas yang masih terenggah-enggah.

“Ustad Lukman gak ada di rumah pergi jenguk anaknya di pesantren,” jelas Udin masih dengan napas tak beraturan. Teman-temannya tertawa melihat tindakan yang dilakukan Udin. Namun Udin tak marah hanya tersenyum simpul sambil mengernyitkan dahinya.

Suatu sore menjelang Maghrib Udin dan teman-temannya akan mengaji di surau. Jalan menuju surau gelap melewati kebun bambu yang terkenal angker. Mereka berjalan cepat saat melewatinya, bahkan beberapa anak berlari menuju surau.

Tidak demikian dengan Udin, ia percaya setan penghuni kebun bambu takut kepada manusia. Ustad Lukman mengajari banyak doa-doa untuk mengusir setan batin Udin. “Aku gak boleh takut,” ujar Udin memantapkan hatinya.

Saat keluar rumah hendak berangkat ngaji ia melewati rumah Badu. Dilihatnya Badu tak berangkat ngaji, “Yuk ngaji Du,” ajak Udin.

“Hari ini aku gak ngaji ah … udah gelap takut,” jelas Badu.

“Bareng aku yuk, sana siap-siap aku tungguin ya!” ujar Udin.

Akhirnya dengan terpaksa Badu berangkat mengaji bersama Udin. Saat akan melewati kebun bambu, Badu memegang lengan Udin dengan erat. “Din kita balik aja yuk, aku takut,” bisik Badu dengan suara bergetar karena takut.

“Tenang aja gak usah takut, kita berdoa aja ya,” ujar Udin. Semakin masuk ke dalam kebun bambu suasana semakin gelap dan mencekam.

Dengan langkah berat Badu memejamkan mata dan ia semakin erat memegang lengan Udin. Langkah mereka terasa berat. “Din, aku takut kakiku lemes gak kuat nih,” ujar Badu.

“Tenang Du, ada aku!” jawab Udin sambil mencoba melepaskan pegangan tangan Badu.

Tiba-tiba Udin menghentikan langkahnya dan dengan lantang berdoa. “Bismillahhirohmannirohim. Alloohuma Baarik lanaa fimaa razaqtanaa waqinaa adzaa ban-naar.”

Gambar ilustrasi : Koleksi pribadi

rumahmediagrup/She’scafajar