Setelah Kepergian Mama (Sebuah Cerpen)

Setelah Kepergian Mama (Sebuah Cerpen)

“Papa nggak punya hak ngatur hidupku! It’s my life!”

Tak sanggup menahan emosi, kubanting pintu kamarku. Tak peduli pelototan Papa di hadapan pintu. Bagaimana aku tidak marah? Papa saja biasa pulang larut malam karena ada rapat di kantor. Sedangkan aku, baru saja sampai di rumah jam delapan malam, Papa marahnya sudah seperti perang dunia ketiga! Malah menuduh anak gadis satu-satunya ini pergi sama laki-laki lagi. Ih, nggak banget! Begitu lelahnya tubuhku hingga kutertidur pulas tanpa sempat mandi terlebih dahulu.

“Makan dulu sebelum berangkat, Esti.”

Aku melengos tanpa menjawab pertanyaan Papa. Kuraih sepedaku yang tergeletak di sisi mobil Nissan Juke hitam miliknya. Baru kali itu, aku berangkat sekolah tanpa pamitan terlebih dahulu. Lantas aku mengayuh sepedaku berharap tidak terlambat sambil mendengarkan musik melalui earphone di telinga.

It’s my life! It’s now or never!

I ain’t gonna live forever.

I just want to live while I’m alive

(It’s my life)

My heart is like an open highway

Like Frankie said

I did it my way

I just wanna live while I’m alive

It’s my life

Suara merdu Bon Jovi menemaniku sepanjang perjalanan. Biar kata lagu ini terbilang jadul, tapi aku sudah menyukainya sejak pertama mendengarnya dari ponsel Mama.

“Esti!”

Aku menoleh tanpa menghentikan kayuhanku. Tampak Mirna datang menyusul dengan sepeda pinknya.

“Nanti sore ikut latihan band lagi, kan?” ujarnya dengan napas agak terengah.

“Pastinya dung!”

“Bokap lu nggak marah, lu pulang malam terus?”

Aku mendengus seketika.

“Dia nggak berhak marah ama gue, Mir! Ini hidup gue!”

“Esti, Esti. Ya wajarlah bokap lu posesif! Cuma lu yang ada di hidup dia sekarang!”

Mirna mempercepat kayuhannya hingga mendahuluiku.

“Balapan, Es!”

Aku bahkan tak sempat meladeni tawa Mirna yang rupanya sengaja meledekku karena kepingan memori tetiba melintas di ingatan.

***

“Mama! Jadi kan nanti ajak Esti ke Mall?”

Aku menggamit lengan sang Mama dengan manja.

“Ya jadi dong! Tapi kamu udah kerjain PR belum?”

“Ah, Mama. Nanti malam kan weekend. Kerjain PR mah bisa besok aja.”

“Bener besok kamu mau kerjain PR? Bukannya malah keluyuran sama … siapa tuh? Mirna ya namanya?”

Aku memajukan bibir setelah menjauhkan lengan dari tubuh Mama. Tingkah itu justru menjadikan Mama tertawa.

“Maaa, tadi itu aku udah kerjain pe-ernya. Tapi ada satu nomor yang aku nggak bisa. Kepalaku udah pusing, mau refreshing dulu. Masa nggak boleh sih, Ma? Besok kan libur!”

“Iya, Sayang. Boleh kok! Tapi jangan minta belanja banyak-banyak ya. Kecuali kamu pakai uangmu sendiri!”

“Oke, Bos!”

Kurapatkan jemari kanan dan letakkan di atas alis kananku membentuk gerakan hormat. Setelahnya kurangkul Mama sesaat sebelum akhirnya melangkah pergi. Tak kulihat lagi Mama menggelengkan kepala setelah kupergi.

“Ma, Papa belum pulang ya?”

“Iya, nih. Sepertinya kita ke Mall nggak sama Papa. Kita naik motor aja, nggak papa ya? Mobil kan dibawa Papa.”

“Iya deh, Esti mah terserah Mama aja.”

Kembali aku bergelayut mesra pada Mama. Dari kecil aku memang sudah begitu dekat dengan Mama. Dibandingkan Papa yang sebagian waktunya habis untuk bekerja, aku lebih betah berdekatan dengan Mama. Aku tak malu meski usia sudah melewati sweet seventeen tapi masih sering bermanja-manja dengan Mama. Apalagi aku anak satu-satunya. Kata Mama setelah melahirkan aku, dua tahun kemudian Mama hamil lagi. Namun karena mengalami keguguran dan harus dikuret, jadilah Mama seperti mengalami trauma untuk hamil kembali.

Bersama Mama aku tumbuh menjadi anak ceria. Siapapun yang menjadi teman dekatku pasti Mama kenal. Termasuk gebetanku waktu SMP. Tapi tetap saja, aku nggak mau pusing urusan pacaran dulu ah. Daripada nanti dapat cowok, tahu-tahu seperti Papa. Nggak pedulian sama keluarga dan lebih cinta pekerjaannya.

“Aduh, Esti. Kayaknya belanjaan Mama ketinggalan di food court deh.”

Padahal kami baru saja menginjakkan kaki di rumah kembali setelah puas mengubek-ubek Mall di pusat kota.

“Wah, iya ya? Esti nggak merhatiin tadi. Gara-gara pas makan, dapat telepon dari Mirna.”

“Iya, ini salah Mama, kok. Mama yang lupa. Mama cuma inget sama plastik belanja bulanan kita. Nggak inget kalo Mama juga tadi beli pakaian. Mana ada lingerie Mama lagi di situ.”

“Haaaa? Jadi Mama jadi beli itu? Idiihhh.”

Aku bergidik ngeri membayangkan lingerie berwarna soft pink yang tadi ditunjukkan Mama sambil tertawa. Kukira Mama hanya bercanda waktu bilang ingin membelinya dengan alasan mau memberi kejutan pada Papa. Memang sih, wajah Mama masih terbilang cantik meski usia hampir berkepala empat. Tapi ya, tetap saja.

“Ya udah, deh. Mama balik aja. Mudah-mudahan masih ada di food court tempat makan kita tadi.”

“Ah, ini gara-gara Papa nih, sampe jam segini belum juga pulang jadi nggak bisa nemenin kita. Rapat apaan sih Malam Minggu gini.” Kembali aku merutuk Papa tanpa sadar.

“Udah, kok kamu malah merembet nyalahin Papa. Kan Mama yang salah. Ya udah kamu di sini aja, nunggu Papa ya, Nak. Biar Mama sendiri yang ambil ke Mall lagi.”

Aku mengangguk dan membuka kunci rumah tanpa terlintas perasaan apapun bahwa malam itu pertemuan terakhir kami. Mama mengalami kecelakaan motor setelah sebuah mobil pengemudi mabuk menabraknya. Terlambat Mama mendapatkan penanganan hingga nyawanya tak selamat. Kalau saja malam itu, aku bisa mencegah Mama pergi.

***

Aku tak dapat mencegah genangan air yang mulai muncul di pelupuk mata. Ingatanku kembali ke masa kini. Tersadar bahwa diriku hampir terlambat segera kukayuh lagi sepedaku hingga sampai di gerbang sekolah.

***

“Makanya  Esti. Sebelum pergi sekolah tu, sarapan dulu.”

Wajahku meringis saat mendengar perkataan Mirna yang menjengukku di kamar UKS. Di tengah pelajaran tadi aku tak bisa menahan sakit yang tiba-tiba melilit perut. Terpaksa aku meminta izin guru untuk meminta obat dan beristirahat di ruang UKS.

“Udah. Istirahat aja. Lu juga nggak usah pikirin latihan band dulu. Besok kan bisa nyusul.”

Aku tersenyum mendengar ucapan Mirna.

By the way, lu sudah lapor Bokap untuk minta jemput?”

“Ha? Buat apa? Gue udah minum obat. Nanti juga mendingan, kok. Kalopun gue mau pulang gue kan bawa sepeda.”

“Ya kalo sepeda lu nggak bisa sekalian dibawa, bisa titip sama Mang Kosim. Lu ambilnya besok lagi.”

“Esti, Esti, segitunya lu sama Bokap sendiri.”

Tak lama terdengar bunyi bel sekolah tanda jam istirahat berakhir.

“Eh, gue balik ke kelas ya, Es,” Mirna beranjak dan berhenti sejenak di pintu untuk melanjutkan, “saran gue, kasih tahu Bokap lu. Masalah dia bisa apa nggak jemput elu, kita lihat nanti.  Inget loh, kalo nggak ada dia, lu nggak bakal ada di dunia ini!”

Ish, cerewet amat sih lu, udah kayak Emak-Emak!” Mirna tertawa mendengar sahutan sewotku dan ngeloyor pergi.

Aku meraih ponsel dan mengetikkan sebuah pesan Whatsapp. Akhirnya aku menuruti kata Mirna. Aku kabari Papa tentang kondisiku namun tanpa meminta beliau menjemput.

***

Baru saja kuberanjak ke parkiran sepeda ketika melihat Nissan Juke Papa memasuki halaman sekolah. Jam sekolah belum berakhir tapi aku terpaksa izin untuk pulang cepat.

“Esti, kamu nggak papa, Nak?” Papa turun dari mobilnya dan tanpa kuduga segera merangkulku,  “jangan buat Papa cemas lagi ya, Nak!”

Ah, Papa, hatiku meleleh.

***

rumahmediagrup/emmyherlina