SETITIK PEDIH DARINYA

Setitik Pedih dariNya

Pesan tajam yang membuat kita menoleh ke belakang, apa saja yang sudah kita lakukan hingga sampai saat kita berada sekarang. “Jika hidup sekedar hidup, Babi di hutan juga hidup, Kalau bekerja sekadar bekerja, Kera juga bekerja” (Prof.Dr.Buya Hamka)

Menemukan makna hidup adalah sesuatu yang tak boleh salah. Salah menemukan makna maka salah motivasi perjalanan hidup yang akan ditempuh. Tak berujung, tak perpangkal ditengah dimakan kumbang. Hidup, tumbuh, berkembang kemudian mati, sungguh tak tinggalkan jejak-jejak penuh makna.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat: 56)

Benar, tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah. Apapun aktivitasnya, ibadah motivasinya. Karena hidup kita hari akan menentukan hidup kita di akhirat kelak. Hanya sebentar saja waktu yang kita punya untuk mengumpulkan bekal untuk kehidupan setelah kematian.

Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada (malaikat) yang menghitung Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui(TQS al-Mu’minuun : 112-114)

Kehidupan serupa musafir yang hanya singgah sebentar lalu pergi. Perjalanan tak hanya lewati jalan mulus tanpa lubang. Hidup itu perjalanan lengkap penuh dinamika, namun tak semua orang bisa rasakan karena waktu baginya terbatas.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji?” (TQS. Al Ankabut: 2)

Namun jangan biarkan setitik pedihNya membuat hati tersungkur, jangan biarkan Iman menjauh. Sadari saja, ujian itu bukti kasih sayang Pencipta hingga senja tua itu pasti akan datang menyentuh tubuh yang renta. Dikala berada diantara dua persimpangan, hak dan batil akan selalu terbentang. Melangkah mundur bukan pilihan, namun tetaplah memilih untuk tentukan masa yang akan datang. Meski rasa perih memaksa untuk keluar disaat beban berat mencabik-cabik asa.

Sesekali cobalah berhenti sejenak menghela nafas, meski langkah membuat mata nanar seakan tak mampu menahan pedih berharap tak sendiri dijalanan penuh duri ,menangis dan meratap tiada guna. Pencipta tengah menilaimu, tak perlu mati rasa cukup jalani dengan segala upaya penuh syukur. Semua datang dariNya, kembalipun padaNya. Ujian itu undangan dariNya untuk diri terus bersimpuh, bersujud, dan berbisik pada bumi,  berharap langit mendengar jeritan tak bersuara.

Teruslah meminta padaNya, tengadahkan tangan. Kita semua adalah seorang hamba, merayu padaNya tak mengapa karena tangis bukti kita hamba yang begitu lemah. Pemilik alam semesta menilaimu dengan pedih-pedih yang kau terima.

rumahmediagrup/firafaradillah