Kenangan Yang Menyapaku Saat Itu

Usiaku kini memang tak muda lagi. Meskipun, kebanyakan yang melihat sosok penampakan meraba umurku, disangka masih belia.

Tapi itu semua aku jadikan pecutan untuk bisa membuat hidupku lebih sempurna dengan kelakar mereka, yang terkadang sedikit membuat aku tersenyum.

Tapi jujur, aku sangat bersyukur dan bahagia dengan semua yang sudah ditakdirkan-Nya sampai saat ini. Dimana aku masih diberi kesempatan untuk sekedar bisa melakukan sesuatu meski belum membahagiakan orang lain.

Walaupun, terkadang perasaan malu yang agak berlebihan, membuat mereka orang disekelilingku sering merasa heran. Tetapi itu hanya sentilan kecil yang tak usah aku pikirkan.

Ini cerita tentang kenangan dimasa kecilku. Meski sontak ingatanku kembali ke masa lalu. Awal kisah yang memacu langkahku untuk bisa menghargai kehidupan.

Dimana aku dulu diasuh kakek tercinta yang selalu meninabobokan aku dengan sebuah lagu. Dan sampai sekarangpun, aku masih belum pernah tahu bagaimana lirik dan nadanya saat itu.

Yang aku tahu liriknya tentang rangkaian kata moscow-moscow. Ibuku yang cerita, betapa dulu, aku sangat menikmati alunan suara kaset yang diikuti nyanyian suara kakek, pada saat menidurkan aku ketika masih bayi.

Entah bagaimana aku bisa membayangkan. Betapa indah dan bagusnya lagu itu ketika melihat saat ini, masjid-masjid atau bangunan-bangunan berdiri unik dan indah di kota moscow. Entahlah.

Meskipun sedih ketika kita kembali mengenangnya, beliau sosok pahlawan yang ada pada jamannya. Kakek yang tak lelah memuat kita berdiri tegak menatap masa depan.

Ya, seorang kakek yang dengan segala kegiatannya, selalu menyempatkan membagi cinta kepada cucu-cucu kesayangannya.

Sampai kinipun masih terkenang dengan kelembutannya, perhatian dan kasih sayangnya. Bila aku merindukan, aku buktikan dengan setiap alunan do’a yang tak pernah terhenti setiap malamku untuk beliau.

“Aish”, adalah nama panggilan sayang yang beliau suarakan ketika memanggilku. Lucu memang, namun aku baru menyadari bahwa kehadiran seseorang sangat berharga. Sampai didetik aku melahirkan buah hati, dia yang pertama yang memberiku pelukan itu.

Seminggu sebelum kepergiannya, dia menatap dengan penuh kasih meski dalam keadaan lemah, dia masih sempat berucap ke arahku yang ada di pinggirnya, “Ayo mari kita pulang,?!, dengan tersenyum aku dan keluarga yang berada disana bertanya kembali, “pulang kemana, kek?!”, tak ragu beliau menjawabnya “pulang kepada Tuhan”..

Ucapan yang aku sangka gurauan dan hanya sedikit meracau itu, ternyata sebuah pesan yang memang seperti itulah kita nanti semua pasti akan pulang.

Kenangan yang tak terlupakan, beliau termasuk kakek yang paling aku banggakan selama hidupku, yang semoga selalu berada dalam surgaNya yang indah disana.

Rumah Media Grup / Allys Setia Mulyati
Foto : dokumentasi pribadi