Simalakama: Mudik dan Corona

Simalakama: Mudik & Corona.
Mudik adalah hak asasi setiap orang untuk kembali pulang ke kampung halaman, melepas rasa rindu dan kangen pada sanak keluarga, sahabat dan handai taulan sekaligus sedikit pamer keberhasilan, kesuksesan dari perantauan. Sementara wabah Corona yang melanda negara kita sungguh luar biasa, membawa dampak diberbagai segi kehidupan, terutama nyawa dan keselamatan.
Simalakama, budaya mudik menjadi tercerai berai, akibat larangan pemerintah yang harus dipatuhi bersama. Jika nekad juga, bahaya, karena membawa dampak buruk bagi kesehatan dan keselamatan diri pribadi, keluarga, orang lain dan masyarakat secara luas. Bikin repot juga pemerintah daerah yang harus melakukan deteksi rekam jejak kesehatan apakah anda termasuk dalam kategori Orang Dalam Pemantauan(ODP) atau Pasien Dalam Pemantauan(PDP). Kesemrawutan pasti akan terjadi luar biasa. Bahkan pemerintah daerah setempat mulai memberlakukan lockdown ataupun blockdown.
Disatu sisi budaya mudik memakmurkan silaturahmi sekaligus menyemarakan pemerataan ekonomi. Tingkat religi masyarakat yang agamis menjadi ciri dalam budaya mudik pula. Namun apa mau dikata, wabah corona mengintai dari setiap sudut jendela tranportasi massal, bus, kereta api, pesawat terbang, kapal laut hingga kendaraan pribadi. Siapa yang tau jika virus tengah bersarang dalam setiap tubuh diantara kita. Mudik menjadi simalakama ketika wabah corona tengah menggila.
Jangan arogansi, jangan egois karena merasa berpunya sehingga nekad menerobos forbiden yang ditentukan negara. Sabar saja, jangan pikirkan oleh oleh yang banyak. Tunda sejenak, hingga wabah corona mereda.
Salam dari Jakarta, kami masih berharap saudara saudaraku menunda mudiknya.

Majayus Irone(Budayawan)/Penulis/Rumediagrup.com