Singa dan Si Pengerat (Fabel)

Alkisah di sebuah hutan belantara hiduplah seekor singa. Terpisah dari kawanannya, ia berjalan dengan gontai. Musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan kekeringan melanda kawasan hutan.

“Tak seekor mangsapun tampak di depanku. Aku lapar,” erang singa.

Tak berapa lama terlihat di bawah semak kering seekor tikus yang tengah mengendus-endus.

Dengan mata tajamnya singa perlahan mendekati si tikus yang masih asyik berada di semak kering. Perlahan dan pasti singa segera mencekeram ekor si tikus dengan kaki depannya. Seketika terkejutlah si tikus namun ia tak dapat melarikan diri.

“Jangan coba-coba lari jika kau tak ingin kucabik-cabik!” ancam sang singa.

“Baiklah, akan kuturuti ucapanmu. Tapi jika kamu akan memakanku alangkah ruginya. Tubuhku kurus dan pastinya dagingnya juga tak ada,” terang si tikus berusaha mengulur waktu.

“Bagaimana jika kita berdamai dan berteman saja, siapa tahu suatu saat nanti aku dapat membantumu,” terang si tikus lagi.

Sang singa dengan perlahan melepaskan cengkeramannya. Seketika si tikus dengan cepat melarikan diri menjauh dari semak-semak.

Dengan lemas sang singa melanjutkan perjalanannya. Ia tak menyadari ada perangkap pemburu ada di depannya.

“Argggh, sakit kakiku terjerat tali. Tolong, tolong !” teriak singa kesakitan.

Hingga beberapa jam tak juga ada yang menolong singa keluar dari jeratan tali pemburu.

“Tolong …. tolong …” rintih singa semakin lemah.

Tiba-tiba dari semak belukar keluarlah tikus menghampiri singa yang sudah kelelahan.

“Tenanglah, jangan berisik ! Aku akan membantumu,” bisik tikus sambil mengendap-endap.

Segera tikus mengigit tali yang telah menjerat singa dengan menggunakan gigi tajamnya. Seketika lepaslah semua tali yang menjerat tubuh singa. Maka larilah kedua binatang tersebut ke dalam semak-semak.

“Terimakasih ya tikus. Kau telah membantuku bebas ,” ucap singa.

Gambar Ilustrasi : Koleksi Pribadi

rumahmediagrup/She’scaFajar