Sop Penuh Cinta

Dokumen Pribadi

Sop Penuh Cinta

Menjelang sepuluh tahun pernikahan anakku—Rafli—dan Nadia. Namun, aku sama sekali tak mengerti hingga kini. Apa istimewanya menantuku itu? Wajahnya biasa saja, berasal dari keluarga sederhana, bahkan ibunya telah lama meninggal dunia, katanya tak lama setelah ia dilahirkan.

Akulah penentang paling keras, ketika Rafli mengungkapkan keinginannya untuk menikah. Kenapa akhirnya aku bisa setuju? Itu tak lain karena aku luluh lantak oleh tangisnya di pangkuanku. Rafliku menangis.  Hati ibu mana yang tega melihat anaknya bersimpuh dengan isak, kecuali mereka yang nuraninya telah buta.

Selepas akad, aku bertekad akan selalu mengawasi mereka. Bahkan bulan madu pun, aku yang menentukan tempatnya. Rafli tak mungkin menolak ibunya, dan Nadia? Tentu saja, jika benar Nadia wanita shalehah seperti yang Rafli katakan, pasti ia akan mengikuti pilihan suami.

Kantor Rafli bekerja tak jauh dari rumah. Jadi, untuk apa membeli rumah baru. Rumah yang kutempati masih sangat luas. Bahkan jika cucu-cucuku nanti lahir.

Ada saja cara yang kucari, kuingin melihat bagaimana Nadia menyikapinya.

“Nadia, masakanmu terlalu asin,” protesku kala mencicipi masakannya di dapur. Jangan bertanya seberapa sering kumelakukannya.

“Iya, Ma.” Nadia kembali mencicipi masakannya dan akhirnya menambahkan sejumput gula.

Aku menang. Kali ini Rafli pasti akan mencela masakan istrinya. Bukankah Rafli suka asin dibanding manis? Aku terkekeh diam-diam.

Makan malam bersama. Tak ada komentar apa pun dari Rafli. Bahkan ia makan hingga bersih piringnya. Aku heran. Dan keherananku tak berlangsung lama. Tak sengaja kudengar percakapan mereka di kamar dengan pintu setengah terbuka.

“Sayang!” Uh, mesra sekali Rafli memanggil Nadia. Hampir saja pintu itu kena tonjokanku, jika tak sadar aku sedang menguping.

“Iya, Mas.” Seperti biasa, Nadia menyahut dengan lembut.

Aku tahu, Nadia tak pernah meninggikan suaranya kepada Rafli, pun kepadaku. Bukan berarti aku memujinya. Memang seharusnya begitu kan, seorang istri bertutur kata lembut kepada suaminya. Bukankah itu pahala untuknya?

“Tumben, hari ini masakannya manis.”

Aha! Ternyata Rafli akan menyidang Nadia. Oh, rupanya rencanaku berhasil. Rafli pandai juga menjaga sikapnya di hadapan orangtuanya. Aku semakin penasaran. Tapi, tunggu dulu. Apakah Nadia akan bercerita aku yang menyuruhnya?

“Iya, Mas maaf. Tadi Nadia salah mengira. Dikira garam ternyata gula.”

Hmm… pandai juga Nadia mengarang cerita. Rafli pun percaya saja semuanya. Jangan-jangan selama ini, sikap Nadia hanya berpura-pura. Palsu. Seperti kisah menantu-menantu jahat yang ada di sinetron. Aku harus waspada. Jangan sampai Rafli diperdaya olehnya.

Sarapan telah siap kusajikan. Sengaja pagi ini kubangun lebih cepat dari Nadia. Tapi, hingga pukul enam, Nadia tetap tak menampakkan batang hidungnya.

“Sayang, sarapan dulu, yuk! Ini sekalian bekal buat kamu kerja,” kataku sambil menghampiri Rafli yang sibuk mencari kunci mobilnya.

“Iya, Bu. Tapi, Rafli buru-buru. Ibu ada lihat kunci mobil Rafli?” Rafli menyahut dengan kepala yang masih celingukan ke sana kemari.

“Istrimu mana? Jam segini, kok, belum bangun! Semua keperluanmu kan harusnya disiapkan Nadia. Ibu mana tahu kunci mobilmu di mana. Ibu lihat beberapa hari ini ia tampak malas-malasan. Apalagi jika kamu tak ada di rumah.” Ha! Bukannya membantu, aku justru menggunakan kesempatan ini untuk mengompori Rafli.

“Bu, sudah ketemu!” Binar mata Rafli menenteng sebuah kunci di hadapanku. Aku semakin kesal. apa tadi ia tak mendengar ceramahku? “Oh, iya, Bu. Titip Nadia sebentar, ya. Nanti sepulang kerja, Rafli akan mengajak Nadia ke dokter kandungan.”

APA?

Nadia rupanya hamil. Pantas saja sikapnya berubah dan terlihat cepat lelah. Kandungannya juga lemah, ia tak diperbolehkan bekerja terlalu berat. Dan aku? Apa mesti aku yang melayani semua keperluan Nadia?

“Bu, mulai besok Rafli akan menyediakan dua orang asisten rumah tangga. Satu untuk stand by menjaga Nadia, satu untuk pekerjaan rumah tangga.”

Rafli, sayang, kau anak yang shaleh. Tak pernah mau membuat ibumu kesusahan. Tapi, Nadia?

Bulan berganti. Perut Nadia semakin membesar. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang nenek. Aku senang sekali, tapi tetap tidak pada Nadia.

Yunnan Al-Farizi. Begitulah nama yang kuberikan. Kukatakan kepada Rafli, bahwa cucu pertama ini harus aku yang memberinya nama. Rafli? Seperti biasa setuju saja, dan Nadia? Tentu ia akan patuh pada suami.

 Tak ada yang benar di mataku. Sering kukatakan kepada Nadia, ‘kau itu belum berpengalaman merawat anak, biar ibu saja.’

Dari jenis mainan, pakaian, tempat tidur, makanan, dan hal kecil lainnya sekali pun. Aku akan turut serta di dalamnya. Rafli? Lagi-lagi ia setuju. Mungkin ia mengakui, kalau ibunya ini memang hebat di bidang ini. Buktinya kutelah melahirkan dan menjadikan sosok hebat seperti Rafli, kan?

“Sayang, mengapa kau tak pernah protes kepadaku dengan segala perlakuan ibu?” tanya Rafli suatu saat. Pertanyaan yang tak sengaja kudengar saat hendak mengantarkan baby Yunnan ke kasurnya. Cucu mungilku yang tertidur saat kutimang.

“Tidak apa-apa, Mas. Ibu memang sangat hebat dalam urusan Yunnan. Ibu juga terlihat sangat bahagia ketika menimang Yunnan. Nadia tak ingin mengurangi senyum ibu.” Pujian yang ke sekian kali untukku. Tapi, aku tetap tak percaya. Bisa saja itu hanya pura-pura.

Tahun berganti. Ini tahun ke sepuluh pernikahan mereka. Ada tiga cucu yang kumiliki. Pagi ini, seperti biasa, usai sarapan Rafli berangkat kerja. Aku sibuk bercanda dengan Alfi—cucu ketiga—yang baru berusia tiga tahun. Nadia sibuk di belakang menjemur pakaian.

Telepon berdering. Hanya aku yang dekat dengan benda itu. Kuangkat dan kudengarkan gelombang suara di dalamnya. Kabar itu membuat semua syarafku menegang. Darahku mendadak bergemuruh. Kepalaku tiba-tiba sangat pening. Ada nyeri di bagian dalam dadaku. Seperti tusukan jarum-jarum yang menghentikan semua aliran darah dan napasku. Hingga ….

Brukk!

Aku tumbang. Menghasilkan pecahan vas bunga yang terhantam tubuhku, tepat di samping telepon. Samar masih sempat kudengar suara Nadia berteriak dan langkah tergesanya, “Ibu!”

***

Lelaki kebanggaanku pergi. Kecelakaan pagi itu merenggut semua senyumku. Rafli meninggalkan tiga cucu untukku dan tentu saja ada Nadia. Wanita yang hingga kini tak kudapati apa istimewa dirinya. Aku menderita, sungguh. Aku tak sadarkan diri hingga hampir sepekan. Jangankan menyertai pemakamannya, melihat wajah terakhir Rafli aku pun tak bisa. Adakah yang lebih sakit dari sebuah perpisahan? Kala waktu berakhir dan aku tak ada di sana melepasnya.

Nadia? Terbuat dari apa wanita itu. Wajahnya tampak sangat tegar. Dan ini bulan ketiga sepeninggal Rafli. Nadia bekerja online. Menjadi tulang punggung untuk ketiga buah hatinya. Dan aku? Kau mau tahu apa yang kukerjakan sepeninggal Rafli?

“Bu, makan dulu, ya. Nadia memasak sop kesukaan ibu hari ini.” Wanita itu mendekat seraya membawa semangkuk sop, baunya sangat enak. Asap masih mengepul dari atas mangkuk. Aku hanya diam seribu bahasa.

“Kita makan di teras depan, ya, bu.” Nadia mendorong kursi roda ke depan rumah.

Satu per satu bubur sop itu masuk ke dalam mulutku. Sangat lezat sungguh. Apakah ini benar masakan Nadia? Rasanya aku tak pernah makan makanan senikmat ini. Dan lihat! Wajah itu tak pernah melepaskan senyum di bibirnya. Senyum yang baru hari ini kusadari begitu tulus.

“Ibu, menangis? Kenapa?” tanya Nadia seraya menyapu lembut pipiku.

Sungguh, hari ini aku baru menyadari. Nadia memang tak cantik wajahnya, tak pandai bergaya, dan bukan teman ngobrol yang enak. Tapi, Nadia—menantuku, anakku—yang mengabdi dengan sepenuh hati, tak pernah mengeluh dan menjadi wanita paling tegar yang pernah kulihat. Nadia, wanita yang kini mengurus tiga buah hatinya sendiri dan … aku. Wanita tua yang bergantung pada kursi roda, tanpa bisa bicara dan menggerakkan tangan kakinya. Stroke menghantamku bersama berita duka akan Rafli.

Oh, anakku, sayang. Sungguh kau sangat tahu wanita mana yang pantas menjadi menantu ibumu ini.

“Maafkan ibu, Nak! Maafkan ibu, Nadia!” Tentu saja Nadia tak akan mendengar ucapanku, tapi kuharap ia mampu membaca permintaan maaf ini lewat mataku.

Nadia terus menghiburku. Membelaiku penuh kasih. Semangkuk sop penuh cinta telah kulahap habis. Bersamaan dengan itu, rintik hujan mulai membasahi tanah. Cerah terganti gerimis, menghasilkan aroma khas yang sangat kusuka, aroma menenangkan—petrichor.

rumahmediagrup/walidahariyani

2 comments

Comments are closed.