Sounding, Trik Ajaib Ajarkan Anak Puasa Sejak Dini

Dok. Pribadi

Sounding, Trik Ajaib Ajarkan Anak Puasa Sejak Dini

Usianya baru empat tahun sebulan, ia belum bisa membaca huruf latin. Baru belajar mengenal huruf. Ia baru bisa membaca dengan lancar alif sampai zai. Ia baru bisa menghapal surah Al-Fatihah dengan bahasanya sendiri.

Bahkan ia belum bisa menyebutkan huruf R. Ia baru bisa berhitung satu hingga sepuluh dengan penjumlahannya. Ia baru bisa menggambar bentuk orang-orangan versinya. Ada gambar dirinya, Ayah, Bunda, Ade, dan Kakaknya.

Itulah ia dengan usianya kini. Tapi, aku bahagia karena di usianya kini, ia mampu menahan diri untuk tak makan dan minum sehari penuh. Mengikuti perintah-Nya untuk berpuasa.

Meski ia baru belajar, tapi tak ada rengekan dan keluhan yang menyayat hati untuk meminta berbuka. Tak ada kelesuan berarti yang membuatnya tak berdaya seolah terpaksa. Ia tetap aktif bermain dengan teman dan saudaranya. Berlari dan bercengkerama bersama.

Walau kadang di sela keasyikannya bermain, ia lupa dan menanyakan. “Bunda, boleh minum?”

“Bunda, Abang lapar. Abang haus.”

Tapi, setelah itu dia akan diam atau berkata, “ooo….” Ketika aku jelaskan.

“Lho, kan Abang puasa.”

“Kalau puasa kan memang lapar dan haus. Bunda juga.”

“Belum waktu berbuka, masih lama … atau sebentar lagi, ya.”

Dan jawaban-jawaban lainnya. Semisal mengisahkan puasa kakaknya dulu sewaktu kecil.

Awalnya sebelum Ramadhan aku ragu. Apakah bisa mengajarkannya puasa? Karena biasanya setiap bangun tidur ia pasti akan meminta makan atau minum susu, dan berkata,”Bunda, Abang lapar.”

Tak mengira dia akan sekuat ini. Aku kadang merasa malu. Jika ia yang masih belum memahami apa itu puasa. Jika ia yang masih belum memahami apa itu dosa tak berpuasa.

Jika ia yang masih belum memahami sepenuhnya apa-apa ternyata mampu berpuasa, mau diletakkan ke mana wajahku? Jika aku yang paham tak bisa melakukannya.

Efek sounding untuk anak sedini mungkin, ternyata benar-benar memberikan efek yang luar biasa. Yah, sejak masih dalam kandungan.
Anak-anak memang dibiasakan untuk berpuasa.

Tak ada alasan, ‘aku tak bisa puasa, kan lagi hamil’
‘aku tak bisa puasa, kan lagi menyusui’. Apa pun itu, aku berusaha mengesampingkan ketidak mampuan sebelum mencoba.

Alhamdulillah, dari 2010 hingga kini. Aku yang tak berhenti menyusui karena terus bersambung hamil, melahirkan, menyusui hingga anak ketiga aku diberi kekuatan untuk bisa berpuasa.

Kekuatan yang sebenarnya bersumber penuh dari satu kata yakin, karena ragu tak akan pernah memberikan hasil yang berarti.

Bukankah motto tentara kita juga begitu ‘ragu-ragu lebih baik kembali’? Jika menjadi anggota militer saja jangan ragu-ragu. Berarti untuk menjadi hamba-Nya yang secara otomatis telah kita sandang, mengapa harus ragu kepada-Nya?

Kadang ketidak mampuan itu hadir karena adanya keraguan. Ketidak mampuan yang belum kita coba. Beda halnya jika kita sudah mencoba dan berusaha.

Efek kebiasaan dan sounding di waktu kecil, membuatku tak bersusah payah menjelaskan panjang lebar hingga iler menetes untuk memberi pemahaman kepada anak-anak. Cukup dengan membiasakan dan mencontohkan kepada mereka.

Meski di luar godaannya begitu tinggi, tapi minimal dengan pondasi yang kita bangun untuk mereka. Mereka akan memahami apa yang kita ajarkan.

Tak perlu paksaan tapi kita juga perlu ketegasan, agar anak memahaminya tidak setengah dan terkesan plin plan.

Pernah di puasanya yang ke berapa hari, di saat waktu berbuka tinggal setengah jam. Ia mengambil secuil telur dadar di meja yang baru di letakkannya saat membantu menyiapkan menu berbuka.

Lantas dibiarkan saja? TIDAK.

Biasanya ketika ia benar-benar mampu berpuasa full day, maka saat berbuka aku akan memberikan reward kepadanya.

Reward yang sebenarnya tak pernah ia minta. Tapi, aku hanya berusaha menghargai kemampuannya. Reward yang diberikan tidak berbentuk materi, hanya sebuah tepuk tangan dan ucapan selamat karena ia telah lulus berpuasa satu hari.

Kalian tahu, bagaimana responnya? Luar biasa. Ia menjadi lebih bersemangat dan meminta lagi besok untuk berpuasa.

“Bunda, besok kalau Abang puasanya bisa sampai buka, Bunda tepuk tangan lagi, ya.”

Just it. Hanya itu yang ia minta.

Aku tak perlu menyiapkan menu spesial untuk reward-nya. Tak perlu menyisihkan lembaran rupiah untuk hadiahnya. Hanya menyiapkan kedua telapak tangan, senyum, dan lidahku untuk berkata ‘selamat’. Hanya dorongan semangat, rasa yakin, dan percaya diri yang ia butuhkan.

Hingga di hari ia mencuil sedikit telur, aku tak memberinya tepuk tangan. Meski tinggal setengah jam lagi dari waktu berbuka.

Dalam hati, aku bangga kepadanya. Ia telah mampu melewatinya hingga detik itu. Tapi, aku juga ingin ia tahu bahwa puasanya telah batal dan tak ada tepuk tangan untuknya.

Apakah ia marah? TIDAK. Ia hanya tersenyum malu dan ber’oooo ria lagi.

Mengajarkan kepada anak, perlu waktu, pelan-pelan. Ia tak bisa diajarkan sekaligus apalagi dengan paksaan. Ia bak sebatang kayu bengkok, jika kau paksa luruskan maka akan patah.

rumahmediagrup/walidahariyani