Stop Phubbing Demi Interaksi Sosial yang Sehat

Stop Phubbing Demi Interaksi Sosial yang Sehat

Saat bertemu muka, berkumpul dalam satu pertemuan, walaupun bukan dalam jumlah banyak, hal yang paling menyenangkan dan utama adalah ngobrol.

Ajang berkumpul, tempat bertemu, penuh tawa canda, cerita ngalor ngidul atau yang mengandung tausiah bermanfaat buat semua. Kita kerap menyebutnya silaturahmi, menekankan pada interaksi sosial. Kita butuh berinteraksi antar sesama, timbul aksi dan reaksi dalam hubungan ini.

Terlibat dalam pembicaraan ataupun hanya menjadi pendengar yang baik, sembari menyimak akan lebih santun terlihat. 

Namun nyatanya, ada saja orang-orang yang asyik dengan dunianya sendiri. Dia tak acuh dengan orang disekitarnya, tidak peduli dengan apa yang sedang dibicarakan. Gawai digenggamannya lebih menarik ketimbang pembicaraan yang sedang berlangsung

Inilah yang dikenal dengan ‘Phubbing’ kependekan  dari kata : phone and snubbing. Salah satu pola anti sosial yang semakin banyak ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari, formal maupun informal.

Pada satu kajian, seorang Ustadz secara tidak langsung mengingatkan jamaah soal phubbing. Begini ujarnya, 

“Silakan buka kitabnya, atau bagi yang punya aplikasi Al Quran di gawainya bisa dibuka. Fokus di surat dan ayat yang kita kaji ya ibu-ibu, jangan melenceng buka yang lain. Sakit lo diduain itu.”

Tentu tidak semua orang atau pembicara mengingatkan lawan bicara untuk lebih memperhatikan isi dan tujuan pertemuan. Diri sendirilah yang harus mampu menempatkan kapan kita harus menghentikan ketergantungan pada gadget, gawai yang selalu ada dalam genggaman. 

Jangan sampai kecanggihan teknologi yang selalu kita pegang sendiri ini, justru memisahkan kita dengan lingkungan sosial. Ingatlah kita ini makhluk sosial, pasti membutuhkan orang lain. Bangunlah interaksi sosial yang sehat dengan stop phubbing.

rumahmediagrup/hadiyatitriono