Suara dari Bawah

Suara dari Bawah

“Pa, mama berangkat dulu, ya,” kataku kepada suami. Aku selalu pamit sebelum berangkat kerja.

“Iya, Ma. Hati-hati di jalan. Ingat bahwa kerja adalah ibadah,” kata suamiku.

Aku berjalan kaki menuju tempat kerjaku. Lokasinya tidak terlalu jauh. Membutuhkan waktu sekitar 10 menit.

Pagi ini aku agak malas sarapan nasi. Aku menikmati rebusan ubi. Kupikir sekali-kali mengganti nasi di pagi hari.

Kali ini aku kurang perhitungan dalam merebus ubi. Kupikir sudah masak. Aku agak terburu-buru karena ingin ke kamar mandi. Alhasil, ubi yang kumakan kurang masak.

Tak terasa, aku sudah sampai di sekolah. Anak-anak menyambutku. Mereka bersalaman satu per satu. Begitulah perilaku anak-anak kepada gurunya.

Setelah mengisi absensi kehadiran dan menyalami kepala sekolah, aku menuju ruang kelas. Tidak lama kemudian bel masuk berbunyi. Kelas sudah bersih, aku menemani piket bertugas. Mereka bertanggung jawab menjaga kebersihan kelas.

Kegiatan belajar mengajar berlangsung. Tiba-tiba aku ingin buang angin (ketut). Aku pamit kepada anak-anak, “Anak-anak, ibu ke luar sebentar.”

“Iya, Bu,” jawab mereka serempak. Tanpa menunggu mereka menjawab, aku sudah berada di luar kelas dan melepaskan angin yang tak sabar ingin ke luar dari tubuhku.

Lega rasanya. Kutengok kiri dan kanan karena khawatir ada yang menyaksikan perilakuku. Setelah itu aku sudahi dan masuk kembali ke kelas.

Suasana kelas agak gaduh. Anak-anak ngobrol sehingga menimbulkan keributan. Aku menenangkan suasana namun kurang berhasil. Sehingga nada suaraku agak meninggi, “Tolong diam. Anak-anak tolong diam.” Suaraku yang meninggi itu memaksaku mengeluarkan tenaga yang mengakibatkan ke luar suara dari bawah, “Duuuut ….”

Suasana kelas diam. Mereka seperti kaget menatapku. Aku pun menatap mereka. Entah apa yang ada di benak mereka.

Rumahmediagrup/ saifulamri

One comment

Comments are closed.