Suatu Pagi di Solobalapan

 Suatu Pagi di Solobalapan

 
Mentari masih malu-malu tampakkan wajahnya
Pendaran sinar berhias awan sisa semalam
Semilir dingin angin berhembus pelan
Bangunkan raga yang masih terjebak lelap
 
Disini aku berdiri
 
Menatap dua pasang mata penuh sahaja
Sosok tercinta pemilik hati
 
"Engkau telah dewasa, anakku"
 
Senyum ayah mengembang bangga
Memandang sang buah hati kesayangannya
Tak percaya si putra mungil nan menggemaskan
Kini berganti tegap gagah dihadapannya
 
Tangan bunda memelukku erat
Ada tangis haru terdengar lirih di sudut telinga
Menatap dengan pandangan lembutnya
Binar mata berkaca-kaca
Coba menahan bulir air yang hendak jatuh
 
"Berhatil-hatilah disana, jaga dirimu"
 
Petuah singkat terucap
Sebuah anggukan kecil jadi jawabanku
 
"Aku pamit, doakan"
 
Lambaian tangan tanda perpisahan
Sebelum menghilang dibalik pintu kereta pagi
Di balik jendela kutatap dua sosok tersenyum
Rasanya rindu sudah hadir
 
Suatu pagi di Solobalapan
 
Kembali kaki ini menjejak kota tercinta
Rasa rindu tak terbendung
Menuntun langkah ini
 
Senyum kembali mengembang
Saat perjumpaan yang telah kunanti
Tak sabar lagi hati ini
Ingin curahkan semua kerinduan yang tersimpan
 
Kupeluk bergantian dua nisan lusuh berdampingan
Berbisik lembut penuh cinta
 
"Ayah... Bunda... Aku pulang"
 
Solobalapan, pertengahan September 2019
D3100 18-200 mm
Snapseed

#Nubar
#NulisBareng
#BerkreasiLewatAksara
#Level3
#menulismengabadikankebaikan
#week3day2
#RNB48




rumahmediagrup/masmuspoetrygraphy