Sudahkah Aku Menjadi Orang Tua Yang Baik

Sudahkah Aku Menjadi Orang Tua Yang Baik

Tak terasa tahun ini putri kami Aisyah berusia 3 tahun. Itu berarti, ia sudah harus mendaftar sekolah Paud. Jujur, melihat gadis kecil kami yang sudah mulai bersekolah ada perasaan sedih dan bahagia. Bahagia karena ia sudah semakin besar dan pintar. Sedih karena merasa, sudahkah kami menjadi orang tua yang baik. Bahagiakah dia menjadi putri kami. Sudahkah kami memberikan contoh yang baik.

Parents, pengaruh orang tua dalam kehidupan anak-anak sangatlah besar. Ia akan beragama sebagaimana agama keluarganya. Ia akan tumbuh sebagaimana kebiasaan keluarganya.

Jika dibiasakan diajari kebaikan, maka ia akan tumbuh dalam kebaikan itu. Namun bila keburukan yang diajarkan, maka ia akan tumbuh dalam keburukan itu pula. Perlu diketahui, kebaikan yang kita ajarkan kepada seorang anak, akan menjadikan kita sebagai orang tua yang beruntung di dunia dan di akhirat. Tapi jika keburukan yang kita ajarkan, maka kita akan menjadi orang tua yang buntung atau rugi di dunia dan di akhirat.

Mendidik anak sama halnya dengan kita sedang menyebar benih. Demi kualitas hasil panen yang baik, sudah pasti kita akan merawat tanaman tersebut. Bagaimana caranya agar ia tumbuh subur, bagaimana caranya agar ia tak diserang hama. Kita akan terus berikhtiar, bekerja keras demi kualitas hasil panen yang maksimal.

Anak adalah aset terbesar bagi orang tuanya. Sebuah tanggung jawab dan amanah yang tidak mudah untuk dijalani. Ditangan orang tualah seorang anak akan menjadi Yahudi, Majusi, atau Nasrani.

Untukmu Ayah dan Bunda. Sesungguhnya Allah ‘azza wa Jalla akan meminta pertanggung jawaban kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya. Presiden untuk rakyatnya, atasan untuk bawahannya, suami untuk keluarganya, istri untuk rumah suami dan anak-anaknya, seorang pelayan untuk majikannya.

Saatnya kita untuk mengoreksi diri, apakah kita sudah mengajarkan kebaikan, atau malah keburukan. Sudahkah kita mempedukikannya, atau malah lalai terhadapnya. Sudahkah kita berlapang dada menerima anak apa adanya, atau malah membandingkannya dengan yang lain. Sudahkan kita bersabar atas keaktifan dan semua tingkah lakunya, atau masih meninggikan suara, membentak dan mengancamnya. Sudahkah kita tulus menyayangi dan mendidiknya atau malah menghardiknya.

Anakmu asetmu, jadikan ia anak yang bertanggung jawab, amanah, jujur, berbakti kepada orang tua, berakhlak mulia karena kelak ia akan menjadi sumber pahalamu di akhirat.

Memberikan kasih sayang bukan berarti memanjakan, utamakan pendidikan agama, buat mereka mencintai islam, mencintai Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Rumahmediagrup/Vita