Sulitnya Menjadi Dewasa

Perkembangan zaman mampu mengubah seseorang menjadi orang lain. Entah dari kebutuhan atau gaya hidup seseorang. Perubahan tersebut dapat dilihat dari sikap, gesture, dan dari perkataan.

Sikap, gerak tubuh dan perkataan semua mampu mencerminkan seseorang terlihat dewasa atau belum dewasa. Usia tak menjamin seseorang telah dikatakan dewasa atau tidak. Terkadang usia sudah seperempat bahkan separuh abad ketika menyikapi suatu persoalan belum mesti mampu menentukan cara berpikir dewasa. Terkadang egopun berdampingan dalam pengambilan suatu keputusan.

Ego yang didahulukan sebenarnya akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Tidak tertutup kemungkinan seseorang akan merasa benar. “Nih, kamu salah, saya yang benar” Benar dapat dilihat dari sudut pandang berbeda. Ibaratkan kita melihat angka 6 atau 9 disudut pandang yang berbeda. Semua mampu dikatakan benar ketika melihat di samping dan posisi terlihat angka 6. Namun tidak salah orang mengatakan angka 9 ketika dia melihat di posisi dari samping dan terlihat angka 9. Kebenaran itu terlihat dari 3 sisi

Bagaimana kebenaran dilihat di sisi Allah

Bagaimana kebenaran dilihat di sisi orang lain.

Bagaimana kebenaran dilihat oleh diri sendiri.

Setiap orang mempunya penilaian terhadap kedewasaan seseorang tanpa lepas benar atau salah.

Menurut Ust. Haris dewasa itu ada 6 terlihat dari huruf awalnya ada 6 huruf. Menurut sayapun dewasa ada 6, namun ada beberapa yang berbeda karena sudut pandang setiap insan berbeda

  1. Diam : Orang dewasa mampu dikatakan telah dewasa, dia mampu berdiam untuk merenung dan menahan amarah saat menghadapi suatu persoalan. (Diam untuk berintrospeksi)
  2. Empati: Orang dewasa mampu terjun langsung ketika melihat orang lain dalam kekurangan atau kesusahan dengan langsung terjun membantu bukan hanya mengucap “kasian ya, tanpa aksi” namun dewasa itu bukan hanya mengucapkan saja melainkan bertindak langsung.
  3. Waspada: Orang dewasa mampu mewaspadai segala tindak tanduk diri atau orang lain. Agar lebih berhati-hati bertindak dan menindaklanjuti. (Buka Suudzon yaa)
  4. Amanah: Orang dewasa mampu menyampaikan dan menjaga amanah dengan sungguh-sungguh.
  5. Santun: Orang dewasa mesti santun terhadap siapa saja yang dihadapinya. Tanpa melihat batasan usia, ekonomi, jabatan ataupun keturunan. (Tiada membedakan)
  6. Adil: Orang dewasa diharapkan mampu untuk lebih adil kepada siapa pun, terlihat ataupun tak terlihat, di manapun tempatnya, kapanpun waktunya, sekarang, besok ataupun lusa.

Semoga kita mampu menjadi lebih baik. Hari ini lebih baik dari kemarin. Lusa harus lebih baik dari hari ini.

Wallahu A’lam Bisshwoab

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

2 comments

Comments are closed.