Suplir

Suplir

Akhir bulan, adalah masa kembang kempis bagi rumah tangga pasangan Neng Teti dan Kang Acep. Sebagai seorang tukang ojek online, Kang Acep harus ekstra kerja keras untuk mencari nafkah, apalagi ia dan istrinya sudah mulai hidup mandiri, tidak lagi tinggal di pondok indah mertua. Pasangan sederhana ini baru pindah ke rumah kontrakan. Mereka mulai menata rumah tangga yang baru seumur jagung. Neng Teti sedang semangat membereskan rumah. Setiap hari ada saja yang dilakukan untuk membenahi letak perabotan di rumah mungilnya.

Selesai menikmati teh hangat dan sepiring ubi rebus, Kang Acep merogoh jaket hijaunya. Ia memeriksa isi dompet, hanya ada satu lembar warna merah dan satu lagi berwarna ungu. ‘yang merah buat Neng sajalah’ batinnya berbicara setelah melihat sisa uang di dompet.

“Neng, Akang mau berangkat,” panggil pria santun dan humoris ini pada istrinya yang sedang di dapur, sambil memakai jaket.

“Iya Kang,” jawab Neng Teti dari dapur lalu bergegas menghampiri suaminya.

“Neng, ini uang belanja. Hemat-hemat ya, Neng. Doain Akang dapat rejeki barokah hari ini.” seraya memberikan uang kepada istrinya.

“Alhamdulillah, terima kasih, Kang. Tahu saja Neng sudah enggak punya uang. Semoga lancar dan murah rejekinya. Amin,” Neng Teti mendoakan lanjut mencium tangan suaminya, lalu bertanya, “Akang mau dimasakin apa sama Neng?”

“Hmm … Tumis kangkung sama asin peda, enak kayaknya, Neng. Tapi apa saja masakan Neng, pasti Akang suka.” Berbalas senyum menghiasi wajah pasangan ini sebelum Kang Acep beranjak pergi.

Setelah membereskan sisa sarapan, Neng Teti merapihkan halaman depan rumah. Selagi asyik menata pot-pot bunga. Terdengar tukang tanaman menyapa dari depan pagar

“Ibu, pot-pot kembangnya, Ibu ….”

“Enggak, Mang.” Pikiran Neng Teti langsung mengingat ia hanya memiliki uang terbatas untuk belanja dapur.

“Eh, murah-murah, Ibu. Lihat dulu, aduh ini bagus-bagus, Bu. Nanti nyesel atuh Ibu.” Dengan logat sunda, tukang tanaman terus menawarkan dagangannya dengan ramah. Neng Teti pun mendekat untuk melihat ‘duh, iya, bagus euy tanamannya’ dalam hati Neng Teti mengagumi

“Murah teh berapa, atuh Mang? Saya ini lagi enggak pegang uang, Mang, ih,” sedikit kesal campur penasaran Neng Teti mulai tergoda pada suplir. Tawar menawar berujung transaksi dilakukan Neng Teti dengan ringan lidah, ia melupakan pesan suami tercinta untuk masak tumis kangkung dan asin peda.

Ketika menerima kembalian lima ribu rupiah, hatinya bergemuruh. Antara sukacita dan merasa bersalah. Tetapi ia terus mengagumi lima pot suplir berbeda jenis telah berhasil ia dapatkan.

Menjelang magrib, Neng Teti menanti suaminya pulang di teras rumah. Tak lama suara khas motor Kang Acep mendekat. Menyunggingkan senyum manis di bibir Neng Teti.

Setelah menyapa salam dan mencium punggung tangan, Neng Teti memamerkan suplir barunya. “Kang, coba lihat, tanaman Neng bagus-bagus, kan?”

“Wah, iya, Neng. Rapih dan segar-segar tanamannya. Rupanya istriku pandai menata halaman.” Pujian itu membuat kedua pasangan romantis ini bergandengan tangan masuk rumah.

“Neng, Akang lapar. Tadi enggak sempat makan siang, orderan hari ini lumayan banyak. Akang ngebayangin masakan Neng pasti lezat, makanya pengennya cepat pulang makan di rumah.”

Seketika wajah Neng Teti kaku, ia menundukkan kepalanya dan memainkan jari-jarinya tanda gelisah melanda. “Kang, itu … hmm, maafin Neng. Neng khilaf tadi, uang belanjanya nyisa lima ribu karena Neng beliin suplir.”

“Hah, jadi Neng enggak belanja sayur? Enggak masak? kita mam naon atuh, Neng? Iya, itu suplirnya bagus. Tapi, emangnya suplir bisa ditumis?” dengan nada dibuat-buat seolah sedang marah, Kang Acep menggoda istrinya yang terus menekurkan kepala karena malu.

Tiba-tiba Neng Teti, mengangkat kepalanya lalu melontarkan senyum sambil mengacungkan telunjuk, “Ah, Neng ada ide. Akang mau makan apa? Empal gentong, soto padang atau rendang?”

“Ari kamu, Neng. Uang sisa lima ribu kumaha mau makan yang gitu, atuh?” Kang Acep balik bertanya pada perempuan manja di hadapannya.

Penuh percaya diri, Neng Teti beranjak sambil berkata, “Tenang, Kang. Neng ke warung depan dulu, kita makan soto padang dalam bentuk mie instan!”

rumahmediagrup/gitalaksmi

7 comments

Comments are closed.