Sepucuk Surat Untuk Ramadhan

Sumber gambar : www.google.com

Sepucuk Surat Untuk Ramadhan

Atas nama Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang….

Ramadhan, kamu tahu kan aku selalu rindu. Apa aku harus pura-pura sekarang? Sementara saat ini, tanganku masih saja sibuk menari-nari dalam laptop, mataku masih saja menatap tanpa capek naskah-naskah buku, telingaku masih saja sibuk mendengar kelas-kelas daring, bahkan hatiku ini masih saja kesal dengan urusan covid. Inikah kesungguhanku untuk menyambutmu tahun ini? Atau sekadar rutinitas yang jauh dari bermakna?

“Marhaban Ramadhan,” ucapku lirih. Lirih sekali, hampir tak terdengar oleh telingaku sendiri. Karena aku hanya mendengar SMS, notifikasi WA, notifikasi email saja. Permintaan maafku sudah aku tuliskan di beberapa grup WA, tapi sesungguhnya apa ini hanya sebagai pencitraan saja? Agar mereka menganggapku sebagai muslimah yang alim? Aku juga sudah memberikan hadiah kecil bagi tetanggaku, kedua orang tuaku, saudara terdekatku, serasa minta maaf. Tapi apa ini bukan hanya upaya agar aku dianggap baik saja? Seolah-olah aku benar-benar merindukanmu. Aku hanya mengharap pujian kecil, ini yang hatiku katakan. Astaghfirullah….

Saat aku berbelanja di minimarket, apa yang aku cari? Ya, aku mencari potongan harga. Aku memanfaatkanmu. Karena aku melihat tulisan di sana, aku baca lirih “ Potongan harga saat menjelang Ramadhan”. Lalu, aku berbelanja, memaksa agar mendapatkan harga yang murah. Membeli banyak makanan dan kebutuhan. Agar aku bisa fokus ibadah, benarkah begitu?.

Aku juga membuka lemariku. Aku melihat berjejer Al-quran, sedikit berdebu. Tumpukan mukena dan alat sholat yang lain juga.Tapi tahu kau apa yang aku lakukan? Aku masih saja tergiur membeli mukena baru. Ya, aku masih saja memanfaatkan kedatanganmu. Inikah yang disebut rindu?

Bahkan, aku sudah sering melihat iklan sirup dan jadwal ceramah atau bahkan acara khusus di bulan ramadhan. Aku bahkan hafal dengan acara-acara tersebut. Lalu, hati kecilku bertanya, “sudahkah kau berubah menjadi bertaqwa?” sudah setahun dakwah itu aku dengar, sudah setahun para ustad, para ulama mengingatkanku. Sudah setahun ramadhan berlalu. Tapi mengapa aku belum berubah? Kesejukan dakwah yang mereka sampaikan aku taruh di mana? Menguap bersama waktu. Inikah yang aku rindukan?

Ramadhan, aku sungguh merindukanmu. Bukan merindukan datangnya iklan sirup, bukan rindu iklan acara TV dakwah, bukan rindu acara hafizh Indonesia, bukan lagi rindu sinetron ramadhan. Bahkan aku bukan rindu pada diskonan harga. Aku merindukanmu dengan berpura-purakah ini? Serasa tak punya malu ya, bilang rindu tapi menginginkan yang lain. Bukankah rindu itu sangat ingin bertemu? Aku mencintaimu dengan caraku. Cara yang salah. Maafkan aku ya..

Ramadhan, jika kau datang nanti. Masihkah ada ruang luas untuk aku bertobat? Masihkah ada lipatan pahala untuk aku jika aku ikhlas?. Adakah kesempatan untuk aku datang di sepertiga malam?. Masihkah kau datang untuk aku yang munafik ini?. Masihkah kau mau mampir ke rumahku yang selalu sepi ibadah?

Ramadhan, rindukah kau padaku? Seperti aku merindukanmu, walau dalam kepura-puraan saja. Tapi jangan kau berpura-pura juga ya. Karena aku takut tak bertemu denganmu saat ini, atau tahun depannya lagi. Masuklah dalam pintu relung hatiku yang dalam, dekaplah aku Ramadhan. Aku mohon, karena aku sangat ingin kau rindukan.

Dalam keharuan dan kerinduan

Anita Ali/ April 2020

rumahmediagrup/AnitaKristina

3 comments

Comments are closed.