Ketika Surut (2)

Ketika Surut (2)

Satu Minggu Empat Hari


Ketika banjir, pengalaman tahun 2012, saya membersihkan lumpur berbarengan dengan surut. Sehingga lumpur belum mengendap dan kering. Tetapi kali ini karena saya datang ke rumah saat banjir sudah surut, lumpur sudah mengendap sehingga lebih berat untuk membersihkannya. Belum lagi bau yang menyengat.

Alat-alat kebersihan yang lebih banyak dibutuhkan adalah karet pendorong, sikat, lap, pel lantai serta ember. Jangan lupa selang panjang untuk menyiram ruangan. Kita pasti butuh air bersih dalam jumlah besar agar bisa bersih seluruhnya. Tetapi harus hati-hati juga, perhatikan penggunaan mesin pompa airnya. Jangan sampai nyala terus menerus, jaga agar mesin air tidak bermasalah.

Persiapkan juga sabun krim, detergen, cairan pembunuh kuman seperti karbol wangi. Bagus juga menyiapkan kapur barus dan pewangi ruangan.

Keadaan di dalam rumah setelah banjir surut

Prioritaskan untuk membersihkan salah satu kamar dan kamar mandi, paling tidak ada satu ruangan bersih yang bisa kita gunakan untuk istirahat atau untuk sarana ibadah.

Kita butuh bantuan orang lain untuk mempercepat proses pembersihan. Gunakan jasa orang lain jika ada. Kalau tidak, minta bantuan saudara terdekat. Paling tidak dengan kehadiran saudara, bisa mengalihkan rasa sedih kita.

Saya dibantu oleh kakak dan keponakan untuk mengeluarkan barang- barang dari dalam rumah serta mengeruk lumpur. Jadi, saya sendiri bisa fokus membersihkan lumpur dari pakaian sebelum dicuci bersih.

Proses mencuci perabotan juga sama dengan pakaian, bersihkan dulu dari endapan lumpur. Lalu cuci menggunakan sabun. Ulang kembali pencucian jika dirasa belum yakin akan kebersihannya. Keringkan dahulu sebelum dilap dan disimpan.

Hingga hari ini sudah satu minggu lebih empat hari sejak banjir. Saya butuh waktu selama itu untuk mengurai lumpur. Mencuci pakaian, mencuci perabotan dapur, membersihkan sofa dan perintilan lainnya. Namun, masih saja belum selesai. Masih banyak barang kotor di depan rumah saya.

Ada masanya saya merasa jenuh melihat lumpur. Hingga mengalami trauma. Seperti mual dan ingin muntah ketika melihat lumpur. Bahkan saat salat saya bisa menangis pilu. Air mata deras membasahi mukena yang saya pakai. Bukan sedih, tetapi sakit dan marah pada diri sendiri karena rasanya lambat sekali membuat rumah bersih.

Beruntungnya saya, tidak seharian penuhmenghadapi lumpur. Karena menjelang malam saya kembali mengungsi ke rumah kakak. Pagi harinya saya baru ke rumah lagi.

Begitu pun, saya masih mengalami trauma. Jika tengah malam saya terbangun lalu ke kamar mandi. Saya seperti dikepung lumpur sampai merasa ketakutan. Padahal kamar mandi di rumah kakak memang warna keramiknya krem. Saya mengalami hal seperti ini selama dua hari.

Akhirnya saya sharing dengan teman yang mengerti keadaan saya, beliau teman baru dalam komunitas menulis. Beliau, Mbak Ribka, adalah seorang penyintas berbagai jenis trauma. Darinya saya belajar lagi untuk menerima. Saya lepaskan stress lalu mulai lagi menghadapi lumpur dengan senang hati.

Lalu ada juga kalimat penguat yang dikirim oleh senior saya dari alumni Sipil Trisakti, Bang Dewo, yang dikirim lewat aplikasi olah pesan.

“Kamu nggak sedang hancur. Kamu sedang Allah bentuk … Menjadi manusia lebih bertakwa, lebih tangguh, lebih bermanfaat. Bersabar saja!”

rumahmediagrup/gitalaksmi

3 comments

  1. Peluk erat Mbak Gita. Ini pasti sangat tak mudah. Tapi aku yakin, Mbak Gita pasti bisa melewati ujian kali ini. Karena Allah memudahkan dan menguatkan Mbak Gita. Peluk erat

Comments are closed.