Syukuri Apa Yang Ada

Migrant saya kumat.”

Mamah Selly memijat kening, wajahnya terlihat pucat.

“Semalam Ray ngamuk. Aquarium pecah dilempar gelas.”

” Kenapa ?”

“Entahlah, dia berteriak mas Agung nakal, mas Agung nakal. Padahal Agung sedang dikamar. Buku-buku Agung dilempar, kursi makan ditendang.”

“Agung masih suka marah ke Ray ?”

Mama Selly mengangguk pelan, terlihat air mata menggenang.

Jika mempunyai anak dapat dipesan layaknya kita memilih menu di sebuah cafe, tentu kita akan memesan anak yang otaknya cerdas, berwajah rupawan, badannya atletis serta memiliki akhlak mulia.

Sayangnya anak seperti sebuah kado, yang tidak bisa kita pesan pada si pemberi. Kita hanya berhak bangga dan bahagia saat menerima.

“Mungkin Agung pernah nyakitin hati Ray?”

“Entahlah, rumah seperti kapal pecah. Ray sering mengambil barang Agung tanpa ijin, ujung-ujungnya Agung marah ke Ray.”

“Coba mah, ngomong ke Agung, ajak dia agak mengalah. Ray anak down sindrom, cara berpikir sangat simpel.”

“Dari kecil Agung selalu mengalah untuk Ray.”

“Bagus dong.”

“Sekarang, Agung tidak mau saat bermain diikuti Ray. Katanya malu.” Suara mama Selly terdengar bergetar, “Apakah karena itu, Agung sering marah-marah ke Ray?”

Aku terdiam, membayangkan Agung kecil yang selalu menggandeng tangan adiknya saat berjalan. Memberikan mainannya saat sang adik meminta. Apakah hanya karena malu memiliki adik down sindrom, Agung berubah ?

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Seandainya Ray boleh memilih, tentu dia tidak ingin menjadi anak down sindrom, masuk dalam kelompok minoritas yang populasinya hanya 0.13 % dari penduduk dunia.

“Aku tahu Agung malu karena diledekin teman-temannya, katanya ia sering di bully karena punya adik Ray.” Tangis mama Selly pecah.

“Sabar mah, Allah menitipkan Ray, karena Allah tahu, mama Selly layak. Allah percaya mamah mampu menjaga, merawat dan membimbing Ray menjadi manusia yang berguna bagi dirinya, agama, lingkungan, bahkan bagi negara.” Tanganku menepuk punggung mama Selly pelan.

“Mamah adalah manusia pilihan, sungguh saya sangat terharu setiap melihat mamah menggandeng Ray, menemani Ray bermain ayunan.” Aku diam, melihat mama Ray yang masih menangis. “Jika ada orang datang, dan ingin menukar Ray dengan anak yang pintar dan cakap, apakah mamah mau?”

Aku menatap mama Selly lama, kepalanya yang tertutup jilbab biru berbunga-bunga menggeleng keras.

Aku tersenyum, itulah orang tua. Seperti apapun kondisi anak, Ia tidak akan mau diganti dengan harta apapun.

Rumahmediagrup/srisuprapti