Tahukah Kamu, Tanggal 3 Desember Diperingati Sebagai Hari Disabilitas Internasional?







Tahukah kamu, tanggal 3 Desember diperingati sebagai hari disabilitas internasional?

Alhamdulillah, kini tiba saatnya memasuki hari ketiga di bulan Desember. Tapi tahukah kamu, hari apakah ini? Ternyata, pada tanggal 3 Desember ada suatu peringatan yang berlaku internasional. Apakah itu?

Setiap tanggal 3 Desember dikenal sebagai hari penyandang cacat sedunia atau hari disabilitas internasional. Maksud dan tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait isu kecacatan, hak penyandang disabilitas. Hari penyandang cacat internasional ini bertujuan untuk meningkatkan martabat, hak dan kesejahteraan para penyandang cacat. (Sumber: Kemenkes, Direktorat Promosi Kesehatan)

Lantas, apa yang dimaksud dengan kecacatan atau biasa disebut dengan disabilitas?

Penyandang disabilitas adalah orang yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sikap masyarakatnya dapat menemui hambatan yang menyulitkan untuk berpartisipasi penuh dan efektif berdasarkan kesamaan hak (Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 Tentang Pengesahan Hak-Hak Penyandang Disabilitas).

Istilah disabilitas berasal dari bahasa Inggris yaitu different ability yang artinya manusia memiliki kemampuan yang berbeda.

Ternyata ada beberapa istilah yang merujuk pada penyandang disabilitas.  Beda bidang, beda pula cara penyebutannya.
Jika Kementerian Sosial menyebut dengan istilah penyandang cacat, maka Kementerian Pendidikan Nasional menyebut dengan istilah berkebutuhan khusus dan Kementerian Kesehatan menyebut dengan istilah penderita cacat.

Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, maka disabilitas dikategorikan menjadi tiga jenis, yaitu:

1. Cacat Fisik

Cacat fisik adalah kecacatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi tubuh, antara lain gerak tubuh, penglihatan, pendengaran, dan kemampuan berbicara. Cacat fisik ini yang biasa kita kenal dengan sebutan, antara lain: tuna netra, tuna rungu, tuna daksa, dan lain-lain.

2. Cacat Mental

Cacat mental adalah kelainan mental dan atau tingkah laku, baik cacat bawaan maupun akibat dari penyakit, antara lain retardasi mental, gangguan psikiatrik fungsional, alkoholisme, serta gangguan mental organik dan epilepsi.

3. Cacat Ganda atau Cacat Fisik dan Mental

Yaitu keadaan seseorang yang menyandang dua jenis kecacatan sekaligus. Tentu begitu sulit bagi penyandang cacat ganda untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Nah, yang perlu kita ketahui, bahwa penyandang disabilitas ini memiliki hak-hak yang sama dengan semua manusia pada umumnya. Bahkan hak mereka dilindungi oleh Undang-Undang.

Seperti pada Pasal 6 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat ditegaskan bahwa setiap penyandang cacat/disabilitas berhak memperoleh:

  • Pendidikan pada semua satuan, jalur, jenis, dan jenjang pendidikan. 
  • Pekerjaan dan penghidupan yang layak sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan, pendidikan, dan kemampuannya. 
  • Perlakuan yang sama untuk berperan dalam pembangunan dan menikmati hasil-hasilnya
  • Aksesibilitas dalam rangka kemandiriannya. 
  • Rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial. 
  • Hak yang sama untuk menumbuh kembangkan bakat, kemampuan, dan kehidupan sosialnya, terutama bagi penyandang cacat anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. (Sumber: Kajian Pustaka)

Kesimpulannya, bahwa penyandang cacat berhak untuk memperoleh upaya-upaya yang memudahkan mereka untuk menjadi mandiri/ tidak tergantung pada pihak lain. Mereka juga berhak mendapatkan pelayanan medis, psikologis dan fungsional, rehabilitasi medis dan sosial, pendidikan, pelatihan ketrampilan, konsultasi, penempatan kerja, dan semua jenis pelayanan yang memungkinkan mereka untuk mengembangkan kapasitas dan keterampilannya secara maksimal sehingga dapat mempercepat proses reintegrasi dan integrasi sosial mereka.

Untuk itu, penting sekali perhatian kita mengenai hak-hak penyandang disabilitas ini. Misalnya: dalam semua pembangunan fasilitas layanan publik hendaklah memperhatikan kondisi bangunan agar dapat memudahkan digunakan oleh penyandang disabilitas.

Hendaknya Fasilitas Publik Ramah Disabilitas


Pemahaman selanjutnya yang perlu kita tanamkan bahwa cacat adalah keadaan yang bisa saja terjadi di dalam kehidupan manusia, baik bersifat sementara maupun permanen. Tak hanya karena cacat bawaan, disabilitas ini bisa juga terjadi pada manusia normal. Misalnya karena tertimpa musibah atau bencana alam. Tentu saja tidak ada seorangpun menghendaki hal ini.

Mereka yang menyandang cacat fisik maupun mental, selamanya akan menjadi  bagian dari kehidupan sosial di masyarakat yang juga memiliki hak sama. (Sumber: Kompas)

Maka dari itu, mari kita rangkul sesama manusia, tak pandang apakah dia penyandang disabilitas. Karena bukankah setiap manusia sama? Setiap manusia adalah luar biasa!

Baca juga: Just Be You








rumahmediagrup/emmyherlina

2 comments

Comments are closed.