Tak Cukup Waktu (bagian 1)

Tak Cukup Waktu (bagian 1)

Sudah banyak lelaki yang kukenal dan muncul dalam hidupku, tapi aku belum pernah bertemu dengan lelaki seperti Ilyas. Seorang pemuda sederhana dan baik hati, setiap kali ada dia di sisi kami, selalu ada kebahagiaan karena ia selalu membuat kami tertawa dengan humor-humornya yang sederhana namun mengundang gelak tawa. Yang paling tidak bisa aku lupakan darinya adalah senyumnya. Bagaimanapun keadaannya, ia selalu tersenyum dan memberikan senyuman pada orang yang ia temui. Sungguh Ilyas adalah seorang pribadi yang menakjubkan menurutku.

Sebelum adanya Ilyas di sini, kantor kami terkesan kaku dan membosankan. Aku bekerja di perusahaan berkembang dengan jumlah karyawan sekitar seratus orang, namun di antara kami jarang ada yang saling mengenal meskipun setiap hari bertemu, namun tak ada yang saling sapa ataupun saling senyum. Kita hanya bergelut dalam kotakan divisi masing-masing. Setelah Ilyas hadir di tengah-tengah kami, ia mengubah suasana kantor yang seperti kuburan menjadi seperti di seminar. Awalnya tidak saling mengenal jadi saling berteman. Bisa dibilang kita menjadi satu kesatuan utuh setelah ia menjadi bagian dari kantor kami.

Tak bisa kuungkapkan sifatnya yang begitu sempurna di mataku karena di zaman sekarang ini sulit kutemukan pribadi sebaik Ilyas. Setiap kali ia datang ke kantor, ia selalu menyapa dan menyalami setiap rekan karyawan yang ditemui. Sifat dermawannya yang tak perhitungan, tenggang rasanya yang pengertian, sifat menolongnya yang tak pandang bulu. Kebaikan-kebaikannya seperti malaikat di mana manusia zaman ini banyak berubah seperti setan.

Ada hal yang membuat perasaanku begitu berbeda padanya, selain kebaikan-kebaikannya, wajahnya yang begitu tampan dan menyejukkan bila dipandang membuatku tanpa sadar tergila-gila padanya. Sebenarnya bukan aku saja wanita yang menaruh hati padanya, selama setahun ia bekerja di sini, sudah ada belasan karyawati yang menyatakan cinta padanya, namun tidak ada satu pun yang ia terima cintanya, hal itu membuatku semakin penasaran padanya dan memberiku peluang untuk mendekatinya hingga waktunya tepat aku akan menyatakan perasaan cinta padanya.

Kukumpulkan beribu keberanian untuk menyatakan cintaku pada Ilyas. Tak kuat lagi rasanya aku menahan gejolak cinta dalam jiwaku ini. Kurangkai seribu kata dalam kepalaku agar nanti jika aku telah berada di depannya, maka aku tidak akan terlalu bingung untuk mengatakan perasaanku.

Seperti biasa pagi-pagi sekali Ilyas telah duduk di sofa depan bersama karyawan lainnya sambil bersenda gurau senyum simpul di pagi hari. Masih ada waktu setengah jam lagi bagi kami untuk memulai pekerjaan rutin kami. Kesempatan itu harus kugunakan sebaik mungkin.

“Mas Ilyas, bisa minta waktunya sebentar??” pintaku pada Ilyas di tengah aktivitasnya berkumpul bersama yang lainnya.

“Oh, ada apa, Din?” tanyanya keheranan.

“Ada sesuatu yang harus aku sampaikan sama Mas Ilyas,” jelasku.

“Baiklah!” Ilyas kemudian bangkit dari tempat duduknya dan menghampiriku. Teman-teman lainnya meledeki kami. Ilyas hanya tersenyum dengan ledekan mereka. Aku pun mengajak Ilyas ke sudut halaman di depan kantor.

“Apa yang mau Dina bicarakan??” tanya Ilyas setelah jarak kami lumayan jauh dari teman-teman lainnya.

“Ada sesuatu yang harus aku sampaikan sama kamu, Mas, ini masalah hidupku,” ucapku. Aku sendiri tidak tahu harus memulai perkataan dari mana.

“Apa yang mau kamu sampaikan?? Aku jadi penasaran nih,” tanyanya setengah meledekku dengan gaya khasnya.

“Mas serius dikit, aku tidak punya banyak waktu untuk mengatakannya padamu saat ini,” pintaku pada Ilyas.

“Untuk apa terlalu serius, Din?” jawabnya sambil memberikan senyuman manisnya padaku. “Kamu masih memiliki banyak waktu setelah ini. Masih banyak kesempatan buatmu. Tapi tidak denganku …,” lanjutnya.

“Maksud Mas apa?” tanyaku heran dengan ucapannya.

“Lupakan …. Jadi apa yang mau kamu bicarakan? Ayo cepat, waktuku tidak banyak,” tanya Ilyas setengah memaksa padaku.

“Aku … aku mencintaimu, Mas,” ucapku langsung pada inti. Aku sudah tidak tahan lagi, ribuan kata yang sempat kurangkai untuk membuat baris puisi terindah untuk Ilyas tiba-tiba hilang dari pikiranku. Ilyas tersentak kaget mendengar pengakuanku.

(bersambung ke bagian 2)

rumahmedia/alfafa