Tak Cukup Waktu (bagian 2)

Tak Cukup Waktu (bagian 2)

“Aku … Aku mencintaimu Mas,” ucapku langsung pada inti. Aku sudah tidak tahan lagi, ribuan kata yang sempat kurangkai untuk membuat baris puisi terindah untuk Ilyas tiba-tiba hilang dari pikiranku. Ilyas tersentak kaget mendengar pengakuanku.

“A..apa?? Kenapa bisa??” tanyanya terbata. Ia seperti tidak menyangka aku akan menyatakan cinta padanya.

“Kenapa bisa? Aku tidak tahu Mas, perasaan itu hadir dengan sendirinya, tanpa diminta, tanpa disuruh,” jelasku.

“Kenapa kamu mencintaiku??”

“Aku melihat kebaikan dalam dirimu sehingga aku mencintaimu. Aku tidak bisa menolak perasaan yang ada dalam diriku untukmu,” jelasku.

“Kalau begitu aku yang akan menolaknya untukmu.”

“Apa??” Aku tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Ilyas. “Maksud Mas Ilyas?”

“Maksudku aku akan membantumu menolak perasaan yang ada di dalam dirimu.”

“Tapi aku ….”

“Ini untuk kebaikan kita berdua,” potongnya.

“Aku mencintaimu Mas.” Mataku mulai berkaca-kaca tidak percaya bahwa Ilyas menolak perasaan cintaku.

“Tapi aku  tidak memiliki cinta lagi, Dina.”

“Kenapa?? Apa aku kurang baik buatmu?”

“Kamu itu gadis yang baik, pintar, pasti banyak lelaki yang mengharapkanmu.”

“Aku tidak ingin lelaki lain. Aku mencintaimu, Mas, cuma kamu yang kuharapkan menjadi bagian dalam hidupku.”

“Tapi aku tidak mencintaimu.” Kata-katanya begitu jelas menusuk limpaku. Ia alihkan pandangannya.

“Kalau Mas Ilyas tidak mencintaiku, katakan dengan tegas dengan menatap mataku.” Ilyas tetap tidak menatap mataku. Ia terdiam sambil memandang ke arah lain.

“Aku tidak mencintaimu, aku minta maaf.” Ilyas kemudian berlalu dari hadapanku dan masuk ke dalam kantor.

Betapa hancur hatiku. Orang yang kucintai menolak perasaanku. Ternyata Ilyas tidak mencintaiku. Aku tidak percaya dengan apa yang ia katakan. Dari sikapnya yang sedikit dingin pada semua gadis, ia bersikap berbeda padaku. Aku bisa merasakannya. Sedingin-dinginnya seorang lelaki, ia akan bersikap lebih lembut dan perhatian pada gadis yang ia sukai. Itu yang kurasakan dari sikap Ilyas. Tapi kenapa ia menolak cintaku?? Apa yang salah denganku??

Tanpa berputus asa kucari informasi selengkap-lengkapnya tentang Ilyas seperti detektif yang ingin memecahkan sosok misterius seorang Ilyas. Kutanyai setiap teman yang dekat dengannya. Aku ingin menguak informasi apakah Ilyas sudah menikah? Ataukah ia mencintai seseorang? Yang jelas semua hal tentang Ilyas k korek tanpa sepengetahuannya. Hingga aku mendapatkan sebuah kenyataan pahit dari penyelidikanku. Air mataku mengalir mendengar cerita salah satu sahabat terdekatnya mengenai rahasia Ilyas.

“Kenapa Mas Ilyas tidak jujur sama Dina?” tanyaku pada Ilyas sore hari sepulang kami bekerja.

“Apa yang harus aku katakan?” jawabnya.

“Kenapa Mas Ilyas menyembunyikannya dari Dina?” ucapku lagi dengan berlinang air mata. “Kenapa Mas Ilyas tidak mengatakan kalau Mas menderita penyakit Kanker Paru-paru?? Kenapa Mas Ilyas tidak jujur saja waktu itu?? Aku tahu Mas mencintaiku juga kan seperti aku mencintaimu?!” lanjutku. Air mataku terus mengalir deras melewati pipiku.

“Bagaimana aku bisa mengatakan padamu bahwa aku sangat mencintaimu? Bagaimana aku bisa mengatakan bahwa aku ingin hidup lebih lama bersamamu di sampingku? Sedangkan aku tidak memiliki cukup waktu untuk mengatakannya. Tak cukup waktu untuk mencintaimu.” Air mata Ilyas pun ikut mengalir bersama derasnya air mataku. “Aku selalu berharap di sisa umurku menemukan cinta sejati, yang mencintai dan kucintai. Di saat cinta itu sudah kutemukan, waktuku tidak banyak lagi. Penyakit ini seolah-olah melarangku untuk jatuh cinta lagi.”

(bersambung ke bagian 3)

rumahmedia/alfafa