Tak Cukup Waktu (bagian 3 tamat)

Tak Cukup Waktu (bagian 3 tamat)

“Bagaimana aku bisa mengatakan padamu bahwa aku sangat mencintaimu? Bagaimana aku bisa mengatakan bahwa aku ingin hidup lebih lama bersamamu di sampingku? Sedangkan aku tidak memiliki cukup waktu untuk mengatakannya. Tak cukup waktu untuk mencintaimu.” Air mata Ilyas pun ikut mengalir bersama derasnya air mataku. “Aku selalu berharap di sisa umurku menemukan cinta sejati, yang mencintai dan kucintai. Di saat cinta itu sudah kutemukan, waktuku tidak banyak lagi. Penyakit ini seolah-olah melarangku untuk jatuh cinta lagi.”

“Tidak Mas, kamu masih memiliki banyak waktu, percayalah. Penyakitmu masih bisa diobati. Kamu harus yakin kamu akan sembuh,” ucapku menyemangatinya.

“Justru aku tidak memiliki keyakinan itu. Aku berharap aku memiliki banyak waktu, tapi tidak. Sakitku sudah tidak bisa disembuhkan. Bertahun-tahun aku berobat namun tak ada hasilnya, hanya dengan sedikit sisa kekuatan saja aku bertahan.”

“Mas tidak boleh pergi meninggalkanku sendiri. Mas tidak boleh pergi …,” lirihku merayu.

“Aku pun berharap seperti itu. Tapi aku bukan pemilik dari nyawa ini, sehingga aku tidak bisa melahan kehendak.” Ilyas terdiam beberapa saat. Ia usap air matanya dan tersenyum padaku. “Suatu hari nanti aku hanya akan menjadi kenangan. Oleh karena itu aku akan memberikan kenangan terindah untuk kalian kenang,” lanjutnya meyakinkanku bahwa ia ikhlas dengan kehandak-Nya. Air mataku semakin deras. Tangisku semakin keras. Kenapa orang baik sepertinya harus diuji dengan ujian yang berat seperti itu?

“Dina, mungkin ini kesempatan terakhirku berada dekat denganmu. Maka izinkan aku mengatakannya ….”

“Apa yang mau Mas katakan? Katakan saja.”

“Aku mencintamu. Ingin rasanya aku hidup denganmu menghabiskan sisa usiaku. Namun aku takut sebelum bisa bersamamu, maut sudah bersamaku terlebih dahulu. Sering kuberandai-andai, jika saja memiliki banyak waktu, ingin sekali melamarmu dan secepatnya kita menikah. Membangun rumah tangga bersama. Memiliki banyak anak sebagai penghias di kala kita muda dan penghibur saat kita sudah renta. Setiap hari aku berangkat untuk bekerja dengan terlebih dahulu mencium keningmu di saat pagi. Pulang dari bekerja kamu memberiku teh hangat sebagai pelepas penatku setelah seharian mencari nafkah untuk kita. Di saat kita berkumpul kadang kita tertawa kadang kita bertengkar untuk hal-hal kecil dan setelah itu kita baikan. Sebelum tidur kukatakan padamu bahwa aku mencintaimu. Jika esok harinya aku tidak terbangun lagi. Hadiahi aku dengan doamu dan ….”

“Cukup …. Jangan berandai-andai lagi. Itu membuatku semakin sakit,” potongku, “jika memang kamu mencintaiku sebesar itu, berusahalah untuk bisa tetap hidup agar impianmu bisa terwujud, karena itu adalah bagian dari mimpiku juga,” lanjutku berusaha memberinya semangat untuk tetap hidup.

“Aku sudah berusaha. Tapi hasilnya penyakitku tidak bisa disembuhkan. Dokter mengatakan padaku bahwa kemungkinan aku bisa bertahan tipis sekali. Ia memaksaku untuk operasi. Namun aku menolaknya karena resikonya akan bertambah besar …. Satu yang kupinta darimu. Tetaplah hidup menjadi orang yang baik. Tebarkan kebaikanmu di mana saja kamu berada, karena kamu akan memberikan kenangan terindah bagi mereka, setelah kamu tidak ada di dunia ini.”

Pesannya begitu dalam hingga kesedihan semakin menusukku. Itu adalah pesan untuk dirinya sendiri di saat waktu memburunya. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku hanya menganggukkan kepalaku tanda mengerti. Ia tersenyum padaku dengan sisa linangan air mata di bola matanya.

“Pergilah, lanjutkan hidupmu, dan jangan beri tahu tentang keadaanku pada siapa pun karena akan membuat banyak orang sedih. Aku tidak mau kepergianku membawa duka bagi banyak orang, tapi aku  ingin kepergianku disertai senyuman.”

“Bagaimana orang-orang bisa tersenyum jika harus kehilangan orang sepertimu??”

“Sudahlah, cepat pergi. Aku tak mau melihat kesedihan di wajahmu dan aku tak mau kamu melihat lagi air mataku.” Ilyas memaksaku untuk pergi dari hadapannya. Dengan perasaan haru dan sedih aku pergi meninggalkan Ilyas seorang diri.

***

Pusara ini menjadi bagian dari kenanganku karena di dalamnya terbaring seorang pemuda yang sangat kucintai. Ilyas, beristirahatlah dengan damai. Semoga kita dipertemukan kembali di kampung abadi di sana. Kebaikanmu, senyumanmu, tawamu, akan menjadi kenangan untuk kami; orang-orang yang menyayangimu. Bila kau tak cukup waktu untuk mencintaiku, maka aku memiliki cukup waktu untuk mengenangmu sepanjang hidupku.

(diambil dari buku “Di Sudut Luka” berjudul Tak Cukup Waktu Karya Ilham Alfafa)

rumahmedia/alfafa