Tak Hilang Melayu di Negeri Orang

“Eh, hilang lagak kalau menangis,” canda seorang Nenek pada si bungsu yang merajuk minta es milo.

Ucapan nenek tersebut menjadi pembuka pembicaraan kami di Kampung Glam Cafe siang itu.

“Dari mane nak ke mane?” tanya si nenek pula.

“Kami dari Belitung, Nek, hari ini rencana mau pulang. Sudah 5 hari kami di Singapura,” jawab suamiku dilanjutkan bertanya, “Nenek dari mana?”

“Takde la, kami mimang orang sini, cuma jalan-jalan saja lihat-lihat kampong,” jelasnya. Kafe tempat kami makan siang itu berada di dekat pusat kerajaan Melayu zaman dulu. Tempat kampung Melayu mula berkembang. Aman sedikit hari itu tak terpelintir lidah harus berbahasa Inggris. Kemudian beliau bercerita pernah mengunjungi beberapa kota di Indonesia.

“Kami mencari suasana yang dulu pernah ada dan sangat kami nikmati. Cari suasana kampong,” mata si nenek agak menerawang.

“Datang saja ke Belitung, Nek. Barang yang sudah masuk museum di Singapura masih kami pakai sehari-hari di Belitung. Daerahnya pun banyak kampong, tak moden.” Ayahnya anak-anak promosi tanah kelahirannya.

Seketika aku teringat ucapan seorang kurator di museum Taman Warisan Melayu, “Sesama Melayu tak ada batas negara. Anda bisa bahasa Melayu artinya kita satu. Dulu, lewat mana-mana pun boleh. Tak ada orang tanya surat. Inggris dan Belanda yang telah membuat batasan hingga kita perlukan surat atau dokumen bila melewati perbatasan itu, meski kita sama Melayu.”

Aku sedih mendengarnya. Ditambah lagi sang kurator berwajah mirip dengan Atok tercinta yang telah meninggal dunia 3 tahun lalu. Gerak-gerik dan cara bicaranya pun mirip. Jadi tak terasa sedang di negeri orang.

Ah, mungkinkah nusantara akan kembali bersatu dan batas negara akan melebur?

rumahmediagrup/fifialfida