Tak Ingin Jatuh Cinta

Awal melihat dia, aku mulai menyukainya, gayanya nyentrik dan agak konyol. Dia kakak kelasku, saatku masih di bangku putih abu-abu. Fadly namanya, orangnya cute. Dibilang ganteng ya nggak ganteng-ganteng amat. Dibilang manis nggak juga, tapi kalau dia tersenyum. Duuh dag dig dug seeer jantung rasanya mau lepas. Fadly anaknya aktif, semua organisasi diikuti.

Perasaan aneh pada diriku mulai muncul ketika aku berpapasan di kantin. Waktu itu aku akan ke kantin dan dia sebaliknya, telah kembali dari kantin. Aku melihat gayanya nyentrik sekali. Rambutnya yang agak botak, kalau anak-anak lain botak itu, ogah bener.

Malulah, dibilang Tentara kalau kata orang-orang. Tapi dia itu lain, ketika teman bahkan gurunya memanggil dia botak cepak ABRI. Wah dia girang bener yaa. Tinggi badannya sih sudah masuk kriteria lah sebagai TNI. Namun poster tubuhnya agak kurus. Mungkin karena orangnya sigap dan lincah. Jadi ketika lemak masuk maka dengan otomatis akan meleleh menjadi keringat.

Akhirnya kembalilah dia jangkis istilah teman-temannya. Jangkung Tipis. Sudah cukup deh mendeskripsikan dia. Nggak akan habis-habisnya aku deskripsi kan Fadly. Terpejam saja aku bisa melihat dia, apalagi mataku terbuka. Seluruh panca Inderaku berfungsi saat dia lewat di hadapanku. Namun aku malu, malu-malu kucing tepatnya. “Sebenarnya kalau dia mau juga, aku nggak akan malu-malu.” Bisikku dalam hati sendiri.

Sempat pula aku berdoa dalam hati, semoga Allah pertemukan aku walau hanya dalam mimpi. Rasanya tak ingin bangun dari mimpi panjang ku. Ternyata saat yang dinantipun tiba, aku mencoba masuk dalam organisasi dengan harapan aku bisa selalu bersamanya. Ternyata aku mempunyai kesempatan bersanding dengan dia sebagai ketua OSIS dan aku sebagai sekretaris. Rasanya ibarat sendok dan garpu tak terpisahkan, layaknya paspor nggak boleh jauh yang begitu penting kala kita di luar negeri. Tak terlupakan mesti selalu dalam dekapan.

Aku yang perfeksionis, bertemu dengan dia yang sedikit nyentrik namun menawan. Santuy sekali bahasa anak muda sekarang. Saat dihadapkan dengan kegiatan OSIS yang harus segera terselesaikan. Kami mesti cepat menyelesaikan proposal pengajuan kegiatan. Terpaksa aku pulang agak telat dengannya. Berdua kami di ruang OSIS, dan yang ketiganya adalah setan. Setannya itu adalah Fitri. Kami bertiga belum pulang, pokoknya harus segera terselesaikan. Karena pembina OSIS sudah menagih dari hari kemarin. Proposal harus segera masuk dan teracc.

Lama juga kami bertiga di ruang OSIS, senda gurau tak tertinggalkan karena memang fadly itu rasa humornya sangat tinggi. Bisa jadi sudah banyak anak gadis yang baper (bawa perasaan) dengan kata-katanya. Tak terelakkan denganku, aku juga baper kala dia mengatakan tulisanmu imut sekali seperti orangnya imut dan manis. Tuing tuing, hidungku rasanya terbang, kalau terlihat mungkin berkepak tanpa sayap hidungku terbang.

“Alamak, bahagia sekali aku mendengarnya.” Rasanya ini proposal sengaja aku salah-salahkan agar aku bisa berlama-lama dengannya di ruang OSIS ini. Namun apa daya waktu berjalan dengan cepat. Terpaksa kami akhiri dulu pembuatan proposalnya.
Sepekan telah berakhir pembuatan proposal dan kegiatannya pun berjalan dengan lancar. Kamipun semakin akrab, sering kami chat lewat whatsApp atau vc. Ternyata di antara kami ada benih-benih rasa yang membuat kami tak enak makan dan tidur saat belum melihat atau mendengar suaranya. Di saat pulang sekolah tak bosan kami berteleponan atau perang stiker menyatakan rasa kangen dan sayang.
Perasaan yang tumbuh di hati kami tak ada yang tahu, bahkan Fitri sahabat ku belum tahu kalau kami sudah menaruh hati satu sama lainnya. Fitri tidak tahu, kalau kami sudah dikatakan menjadi bucin atau budak cinta. Karena saat bertiga kami tak pernah memperlihatkan kalau di antara kami ada apa-apa. Malah seringnya kami debat, Fadly yang terlalu santuy bertolak belakang dengan aku yang perfeksionis.

Terkadang karena perbedaan pendapat ini, menyebabkan aku berdiam tak bicara sama sekali. Sampai pada akhirnya aku dirukunkan kembali oleh Fitri. Fitri sahabatku itu sedikit sama karakternya dengan Fadly seolah-olah mereka laksana pinang dibelah kampak. Entah apa sebabnya mereka mempunyai kebiasaan dan hobi yang sama. Tidak jarang mereka pergi bareng walau hanya sekadar mencari buku, komik konyol yang lucu. Tapi kepergian mereka selalu aku temani. Karena sesungguhnya Fadly memang ingin ditemani olehku.

Jauh dari persoalan ini, Fitri menganggap bahwa aku hanya menemani dia. Dia tidak tahu sebenarnya aku menemani bukan karena dia melainkan karena Fadly.
Ternyata di antara pertemanan kami bertiga. Telah tumbuh benih-benih kasih sayang yang bukan sekadar teman. Fitri ternyata juga menaruh hati kepada Fadly. Aku tahu saat itu malam pergantian tahun baru, sekolah libur panjang. Fitri ingin memberikan kejutan kepada Fadly dan dia memintaku
pendapat. Sekiranya apa yang bagus untuk hadiah tahun baru buat Fadly. Aku bertanya mengapa harus memberikan sesuatu kepadanya? Padahal malam itu pula aku akan jujur kepada Fitri, tentang hubunganku dengan Fadly. Namun belum juga aku bercerita, Fitri sudah memberi tahu bahwa dia memendam rasa kepada Fadly. Jleb, ada sesuatu yang menusuk jantungku. Sakit rasanya, belum pernah aku merasakan hati, sesakit ini. Sejenak aku terdiam, ketika Fitri jujur dengan perasaannya.
“Farah bagaimana pendapatmu, dengan perasaanku ini?” Tanya Fitri membuyarkan lamunanku.
“Eh, apa tadi Fitri, aku belum jelas.” Pintaku agar dijelaskan ulang.
“Itu lho, Farah. Aku ingin memberikan sesuatu di malam tahun baru sebagai tanda perasaan ku kepada Fadly, kira-kira bagusnya aku memberikan apa yaa?” Fitri mengulangi pertanyaan.
“Aduh, memang spesial ya kalau tahun baru? Kita kan nggak pernah merayakan sepertinya.” Jawabku seoalah-olah aku tidak paham, padahal aku tidak ingin Fitri mengungkapkan perasaannya kepada Fadly.

“Oh begitu ya, terus bagaimana dengan perasaanku? Menurutmu aku cocok tidak dengan Fadly.” Kembali Fitri bertanya perihal Fadly, aduuh makin tidak karuan hatiku ini. Di sisi lain Fitri sahabatku, di sisi lain Fadly kekasihku. Aku tak mau mereka bersatu, egoku berkecamuk dalam pikiranku. Namun aku sayang juga kepada Fitri, sudah lama aku bersahabat dengannya. Malam tahun barupun berlangsung, aku di rumah saja bersama keluarga ku. Padahal dari sore Fadly menghubungi lewat Whatsup dan Videocall. 5x telepon berdering, aku diamkan ponselku bergetar berulang-ulang. Bercampur aduk perasaanku, rasa sedih, kangen, cemas, gelisah berbauran di pikiranku.
“Farah, aku tunggu kau di taman Ismail Marzuki” WhatsApp yang dikirim oleh Fadly malam itu. Aku hanya read dan mendiamkan tanpa membalas nya. Sebelumnya kuatur WhatsApp ku seolah-olah belum kubaca.

Esok harinya tepatnya tanggal 01 Januari 2019 aku menerima WhatsApp dari Fitri.
“Farah, mengapa kamu tidak datang ke taman Ismail Marzuki?” Akhirnya aku lega Farah, aku sudah mengungkapkan semua isi hatiku kepada Fadly. Jeleger suara petir di teriknya mentari, menghantam ulu hatiku, sakit. Ya Allah sakitnya tak tertahankan. Tak terasa buliran bening berlomba-lomba bergitu deras membasahi bantal dan guling. “Ya Allah, aku harus kuat menerima kenyataan. Aku harus rela melepaskan Fadly kekasihku. Mungkin ini cara Allah menegurku agar aku tidak bermain hati. Aku pasrah ya Allah, seandainya mereka sudah menjadi kekasih, aku rela. Keduanya adalah orang yang sangat aku sayangi.” Aku berkata sendirian di kamar, kadang senyum sendiri lalu menangis selanjutnya berteriak sejadi-jadinya dan akhirnya menangis selepas-lepasnya. Aku timbun kepalaku ke dalam bantal, kututup suara apapun di luar. Aku tak ingin mendengar apapun di luar. Padahal suara bunyi pintu beberapa kali diketuk yang pada akhirnya pintu itu didobrak oleh ayah dan kakak laki-laki ku.
“Gubrak” suara pintu jatuh mengenai lantai, aku kaget dan terperangah. Mataku sembab, mukaku pucat, rambutku acak-acakan aduuh jelek banget deeh pagi itu.
“Farah, kamu nggak apa-apa?”
“Apa yang terjadi?”
“Kamu sakit?”
“Kamu kenapa Farah?”
“Jam segini, kamu belum bangun?”
“Sudah shalat belum kamu Farah?”
” Ya ampun Farah, cepatan kamu bangun.”

Aku ditembaki pertanyaan-pertanyaan oleh ayah dan kakakku. Aku semakin pusing, badanku lemah tak bertenaga. Saat kulihat jam sudah menunjukkan pukul 08.00wib.
“Kamu tidak sekolah, Farah?” Kakakku bertanya kembali
“Ayo, segera mandi! Kamu mau sekolah tidak? Sudah terlambat ini kamu. Kamu kesiangan padahal tidur dari sore, ya Allah Farah. Kamu ini bagaimana siih.” Aduuh tembakan kalimat kembali membredel, aku dimarahi ayah dan kakakku. Bersyukur ibuku tak ada di tempat, karena sedang pulang kampung. Ampun deeh, ternyata aku mimpi semalam, aku bermimpi mempunyai kekasih bernama Fadly, Fitri nama sahabatku. Aku mempunyai kekasih ternyata, aduh begitu ya rasanya jatuh cinta. Yaa namanya juga jatuh ternyata menyakitkan. Aku tak mau jatuh cinta yang pada akhirnya harus menyakitkan yaa. Aku janji tidak akan jatuh cinta, kalau sudah lulus kuliah nanti aku akan langsung bangun cinta saja. Tanpa harus jatuh, karena jatuh itu sesungguhnya amat menyakitkan. Akupun segera mandi dan untuk hari itu aku bolos tidak masuk sekolah.

Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama dan tempat semata-mata hanya rekayasa belaka.

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

2 comments

  1. Ya Allah ibu…. saya sudah larut sampai hati, ehhh ternyata just a dream heeheheh, tapi keren buuu makasihhhh👍👍👍😊😊😊😊😊

Comments are closed.