Tak kan Lari Gunung Dikejar

Awalnya aku tak mengenalnya. Namun tiba-tiba saja dia bertamu ke rumahku katanya atas saran dari temannya, tetanggaku. Dia bermaksud meminjam skripsi yang pernah kubuat untuk rekomendasi bahan penulisan skripsinya. Aku sudah lulus kuliah sedangkan dia baru tingkat akhir dan ikut kelas karyawan, karena dia sudah jadi guru di salah satu SD Negeri. Pantas saja kami ga saling kenal walaupun satu kampus, karena aku termasuk kelas reguler.

                “ Gini Neng, tadinya saya mau pinjam skripsi ke Bu Lilis, tapi dia malah menyarankan saya untuk ketemu Neng.” Dia mulai bercerita maksud kedatangannya.

                “Oh, emang Bapak sekarang lagi nyusun ya, satu angkatan sama Bu lilis?” tanyaku

                “ Engga, kalau sama Bu Lilis teman kalau ada kegiatan KKG. Dia kan udah lulus lebih awal, tadinya barangkali dia masih punya skripsi yang dia buat buat bahan rekomendasi.” Jawabnya

                “Eh dia malah menyarankan ke sini.” Sambungnya lagi

                “ Oh gitu ya Pak.” Jawabku singkat.

                “ Iya Neng. Neng udah nyoba-nyoba cari kerja, atau mau ikut sukwan ?” tanyanya lagi.

                “ Ngga Pak, Bapak saya juga ngga mau ngajak saya katanya kasihan.” Aku menjelaskan

                “ Eh, iya ya. Bapak kan ngajar juga ya .” katanya lagi

                “ Sekarang kegiatan Neng apa ?” Dia mulai bertanya lagi

                “ Ngga ke mana mana Pak, di rumah aja. “ Jawabku

                “ Sebenarnya dari minggu kemarin saya mau ke sini tapi Neng lagi ga ada. Katanya lagi ke Banten. Emang ke rumah siapa di Banten ?” Tanyanya.

                “ Oh iya Pak, saya habis dari Banten, dari rumah temen. Temen kuliah. Mumpung masih bisa maen ke sana. Nanti mah ga tau.” Jawabku

                “ Oooh temennya ada yang dari Banten ya. Jauh juga.” Dia berkata lagi agak keheranan.

                “ Oh ya, kalau Bapak ngajar di mana?” aku mulai bertanya walau sebenarnya aku ini termasuk gadis yang pemalu. Apalagi sama seseorang yang baru kukenal. Dan aku ga pernah bertanya kalau ga terlalu penting. Aku lebih sering jadi pendengar. Aku kalau sama orang baru biasanya ga cepet akrab. Bahkan mereka yang baru mengenal aku pasti pertamanya menganggap aku sombong. Mungkin karena aku orang yang serius dan jarang tersenyum.

                Dia panjang lebar menjelaskan tentang dirinya. Tentang pekerjaannya bahkan tentang istrinya. Katanya istrinya itu anak seorang Kepala Dinas. Tapi dia tak mau dibawa pindah ke sini olehnya. Istrinya itu tinggal di kecamatan yang berbeda. Aku sendiri jadi heran kenapa dia lebih sering menjelek-jelekkan istrinya. Aku yang belum pernah berumah tangga tentu saja kurang paham.

                “ Neng, kalau mau, saya punya teman yang bisa membantu biar nanti bisa cepet diangkat jadi PNS.” Tiba-tiba saja dia berkata seperti itu.

Aku hanya tersenyum menjawab apa yang dikatakanya. Dalam hati aku berkata, “ untuk apa aku minta bantuan sama dia, bapakku aja bisa mencari bantuan sama temennya.” Tapi aku hanya menjawab dengan senyuman kecil. Setelah ngobrol panjang lebar dia pun pamit sambil membawa skripsiku.

                Senja mulai turun perlahan. Langit tampak cerah. Namun bagiku hari-hari yang kulalui tetap sama penuh dengan kejenuhan. Kerjaku hanya tidur saja jika pekerjaan rumah sudah selesai. Seperti saat itu, aku yang tengah tidur di kamarku tiba-tiba mendengar suara pintu ruang tamu dibuka. Dan ibu mempersilahkan tamunya masuk. Karena kamarku bersebelahan dengan ruang tamu pasti aku mendengar semua aktivitas yang terjadi di sana. Tiba-tiba ibu masuk ke kamar dan membangunkanku. Ia berbicara perlahan bahwa tamu itu ingin bertemu denganku. Aku paling malas menemui tamu jika aku lagi tidur. Apalagi harus menemuinya langsung dengan wajah yang semrawut. Karena kalau cuci muka dulu aku harus ke luar lewat pintu yang langsung ke ruang tamu. Dengan berbagai alasan aku berbicara kepada ibu bahwa aku tidak mau menemuinya. Apalagi aku sudah tahu siapa yang akan menemuiku itu. Ibu ke luar lagi dari kamarku dan menemui tamu itu. Kesempatan itu aku gunakan untuk ke luar kamar dengan cara loncat dari jendela. Saking aku ga mau menemuinya. Entah alasan apa yang ibu berikan kepada tamu itu.

                Setelah aku terbebas dari kamarku. Aku malah pergi ke rumah nenek yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumahku. Aku bersembunyi di rumah nenek. Nenek sampai heran kenapa aku sampai pergi ke rumahnya. Padahal aku tiap waktu ke rumahnya. Mungkin karena melihat keadaanku yang masih acak-acakan, beliau jadi penasaran.

Setelah aku ceritakan semua dia malah berkata “ Kamu tuh ya, ada laki-laki bertandang ko kamu malah kabur.” Nenek malah menyalahkanku.

 “ Bagaimana mau cepet dapat jodoh kalau sikapmu seperti ini sama laki-laki.” Ucapan nenek seolah menyesali perbuatanku.

Duh dasar nenek. Beliau merasa malu mungkin karena cucu perempuannya ini masih juga menyendiri belum punya pendamping. Jangankan menikah punya calon aja belum. Sedangkan anak tetangga masih kecil juga sudah banyak yang tunangan. Aaah, dasar di kampung. Ga boleh liat anak gadis tua sedikit.

                Keesokan harinya saat aku ikut ngerumpi sama ibu-ibu tiba-tiba temen si Bapak itu datang.

                “ Neng, si Pak Nano ada gak, dia mau pinjam skripsi sama saya, tapi saya suruh nemuin Neng aja?” tanyanya kepadaku.

                “ Oh ada Bu.” Jawabku singkat

                “ Tadinya dia minta diantar sama Ibu, tapi Ibu lagi sibuk.” Kata tetanggaku ini

                “ Neng tahu nggak, dia itu duda lhooo. Dia itu naksir sama Neng.” Dia melanjutkan ceritanya.

                “ Oh my God!” dalam hati aku terkejut. Pantas saja dia selalu menceritakan kejelekan istrinya. Ternyata mantan istri. Malah sampai mau membantu aku untuk menjadi PNS segala. Rupanya ada maunya. Untung saja aku ga mau. Mungkin juga dengan peristiwa yang kemarin dia juga sadar bahwa aku tak mau sama dia. Memang maksud kedatangannya kemarin ke rumahku adalah untuk mengembalikan skripsi yang dipinjamnya dariku. Dia tak kan kenal denganku kalau bukan tetanggaku ini yang menyuruhnya untuk menemuiku. Lah dasar tetangga selalu aja usil masalah hidupku. Mungkinkah mereka kasihan sama aku yang belum juga laku ? ataukah ada maksud lain dibalik semua itu. Yaaa… yang namanya di kampung selalu saja jadi bahan perbincangan bila ada gadis yang sudah berumur tapi belum juga menikah. Bahkan keaadaan ini pun turut mempengaruhi ibuku. Bagaimanapun aku punya prinsip hidup sendiri. Aku tak kan menikah sebelum aku punya pekerjaan. Aku hanya ingin menikah dengan laki-laki yang aku suka. Aku ga suka perjodohan. Apalagi ada seorang tetangga yang seolah-olah menjadi biro jodoh. Aku paling sebel sama dia. Dia sering berbincang-bincang dengan ibu. Dan selalu saja membandingkan aku dengan gadis-gadis lain yang sudah bertunangan. Makanya aku suka melarang ibu untuk sering-sering ngerumpi. Karena ujung-ujungnya pasti aku yang jadi bahan omongan.

                Pernah suatu hari aku menasehati ibu. “ Bu, yang namanya rumah tangga itu tak semudah yang dibayangkan dan diomongkan. Orang-orang hanya melihat dari luarnya saja. Jika kita dapat kesulitan, apakah mereka bisa membantu ? Tidak Bu. Susah senang rumah tangga itu kita sendiri yang merasakan. Orang lain tak kan ikut merasakan. Bahkan membantu kesusahan kita pun belum tentu. Jadi, biarlah mereka dengan omongannya masing-masing, jangan diambil pusing.” Ibu hanya terdiam mendengar omonganku. Aku tahu, ibu sudah banyak termakan omongan tetangga. Yang bisanya hanya ngomong saja. Sebenarnya aku punya alasan yang kuat kenapa aku telat menikah. Ya karena aku kuliah dulu. Sedangkan mereka paling tinggi lulusan SMA langsung menikah. Bahkan ada yang lulusan SMP. Dan itu pun kebanyakan mereka itu dijodohkan. Ibuku pun termasuk salah seorang yang nikah muda. Jadi dia pun mungkin ingin anaknya sama dengannya. Tapi aku punya prinsip hidup yang berbeda dengan ibu. Zaman sudah berubah. Tak kan lari gunung dikejar. Jodoh akan datang jika saatnya tiba dan cinta tak bisa dipaksakan. Maafkan aku Ibu.

One comment

Comments are closed.