Tak Mau Jadi Benalu

Tak Mau Jadi Benalu

Disaat teman-temannya bisa kuliah dengan lancar, menikmati fasilitas yang diberikan orang tua mereka tanpa harus memikirkan biaya. Berbeda dengan anak muda yang satu ini. Ia tak pernah mengandalkan biaya dari orang tuanya. Ia kuliah nyambi jualan burung. Setiap sabtu dan minggu ia pergi ke salah satu pasar burung di Yogyakarta untuk membeli burung yang kemudian dijual lagi.

Alhamdulillah, dari hasil jual burung cukup untuk biaya kuliah, tak jarang bisa ngasih uang kepada keluarganya.

Ia kuliah di Politeknik LPP salah satu Universitas di Yogyakarta. Diusianya yang masih muda, ia sudah tumbuh menjadi anak yang mandiri. Ia malu jadi benalu, ia tak mau jadi beban untuk orang tua. Selagi masih bisa berusaha sendiri maka tidak perlu merengek dan meminta. Meski terkadang ia hanya makan sehari sekali, tak mengapa, asal biaya kuliah beres, begitulah prinsipnya.

Dia yang seharusnya fokus untuk belajar. Tapi fikirannya jadi bercabang, ia harus pandai memanage keuangangan, dengan uang segini harus cukup sampai tanggal sekian, harus cukup untuk bayar ini dan itu tanpa harus meminta Bpk dan Ibu.

Ia adalah anak muda yang pekerja keras dan cerdas. Terbukti di akhir kuliahnya, disaat teman-temannya sibuk mencari kerja. Dia sudah diterima di dua Perusahaan, Perusahaan Tebu di Lombok dan Perusahaan Kelapa Sawit di Kalimantan.

Saya sangat dekat sekali dengan laki-laki ini. Dialah Mas gagahku, teman hidupku, tempatku mengapdikan diri, dia adalah suamiku.

Setiap ingat bagaimana ia cerita perjuangannya dulu karena yang saya ceritakan di atas hanya sebagian kecil, selalu membuat saya meneteskan air mata. Dari kerasnya hidup yang ia jalani kini ia tumbuh menjadi laki-laki yang mental kemandiriannya sangat kuat.

Kawan, begitulah seharusnya anak muda. Masa muda adalah masa emas jangan malah dibuat bermalas-malasan, jangan mudah menyerah dengan keadaan. Jadilah pemuda yang produktif, siap berkontribusi seluas mungkin, siap mengemban tanggung jawab dan tugas untuk kebermanfaatan banyak orang. Kalau kata Mas Ahmad Rifai Rif’an ” Hidup hanya sekali, jangan sampai ada dan tiadanya kita di dunia ini tak ada bedanya. Muda penuh karya, tua banyak harta, mati gapai surga”.

Rumahmediagrup/Vita