Tak Memandang

Pentigraf

Pak Eman mengayuh becaknya demi menutup kebutuhan. Bukan ingin kaya seperti kabar yang beredar. Dia tak mau seperti pungguk merindukan bulan. Berusaha bagi dia, itu lebih baik daripada menunggu perjalanan nasib. Mana mungkin bisa kaya, sedangkan pendapatan sehari kadang tidak cukup untuk beli beras, pikirnya Sejumlah uang di tangan takkan lama bertahan. Seperti air mengalir di sungai.

Pak Eman memiliki disiplin yang tinggi. Dari hasil belajar mengaji, dia mampu berdisiplin menyisihkan uang Rp. 500 sampai Rp1.000 untuk shodaqoh Jumat dan tabungan di bumbung bambu yang dibuatnya.. Entah sudah berapa banyak uang yang ia tabung. Dia ingin umroh saja tujuan utamanya, yang tentu kita tahu itu tujuan mulia.

Suatu sore saat istrinya mengunjungi orang tuanya, pak Eman mendapat penumpang untuk mengantar pp, antar sekaligus menunggu sampai pulang. Biasanya ongkos yang diberikan penumpang tiga kali lipat dari ongkos biasa. Usai salat magrib di sebuah mushola, pak Eman kembali duduk menunggu di atas becaknya. Waktu sudah cukup malam dari mengantar penumpang, saat kakinya melangkah sampai di depan pintu rumahnya. Pintu dalam keadaan sedikit terbuka. Dia mengira istrinya sudah datang. Langsung saja dia masuk dan memanggil-manggil istrinya. Namun tidak ada suara di dalam rumah. Sampai di kamar dia tertegun tak percaya. Dia dapati bambu bumbung miliknya telah pecah.

Asparaga, 27062020