“Takdir”, Naskah Terbaik Event Nubar Jabar dalam Buku “Saat Berbagi Hati”

“Takdir”, Naskah Terbaik Event Nubar Jabar dalam Buku “Saat Berbagi Hati”

Bagian 1

https://rumahmediagrup.com/2019/11/16/takdir-naskah-terbaik-event-nubar-jabar-dalam-buku-saat-berbagi-hati/

Bagian 2

“Bagaimana, Din? Apa kau mau?” Pertanyaan Ibu meluncur tak terduga.

Pagi ini, entah angin apa yang membawanya ke rumah kecilku. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar. Ibu serta merta menanyakan hal yang jauh di lubuk hatiku adalah mimpi. Namun, dalam nyata mimpi hanyalah ilusi.

“Tapi, Mas Isa sudah beristri, Bu.” Sergahku sebelum lidah telanjur mengiyakan.

“Iya. Tapi, kau bisa lihatkan bagaimana sikapnya kemarin? Ibu benar-benar merasa bersalah kepadamu. Seandainya Isa tak memiliki anak dari wanita itu, sudah lama Ibu memintanya bercerai.”

Mendadak kepalaku bak terhantam godam begitu berat.

Cerai?

Kata itulah dulu yang memisahkanku. Aku tak ingin ada wanita lain merasakan hal serupa.

“Jangan, Bu! Cukup hanya aku yang merasakan pahitnya sebuah perpisahan.”

“Dina, maafkan, Ibu. Dulu Ibu begitu buta dengan rayuan dan kekayaannya. Kini, Ibu menyadari bahwa hubungan sebuah keluarga tak semata hanya harta. Ibu tahu ini terlambat. Tapi, bolehkah Ibu memperbaikinya?”

Berat. Jawaban apa yang mesti kuberi? Menjadi istri kedua dari mantan suamiku sendiri. Satu sisi ingin segera mengiyakan. Bukankah itu berarti kubisa berpuas diri membelainya? Sisi lain, apa kata orang. Apa kata wanita itu?

Ah, aku tak bisa memutuskannya.

“Ibu menunggu jawabanmu, Din. Isa pun setuju dengan usul Ibu.” Kalimat terakhir sebelum Ibu berpamitan.

***

“Hei, kau mantan istri suamiku dulu, kan?” Wanita itu, entah tahu dari mana alamat rumahku. Ia datang tanpa permisi, untung saja Aisyah masih berada di sekolahnya.

“Maaf, apa maksud kedatanganmu kemari?” Aku tak ingin berbasa-basi.

“Aku tahu, mertuaku datang menemuimu dua hari yang lalu. Aku juga tahu, apa maksud kedatangannya kemari. Kau tahu? Dulu Isa tampak begitu menarik bagiku. Tapi, kini kerjanya hanya sakit-sakitan. Aku tak keberatan jika kau menerima apa yang dia minta kepadamu. Itu artinya aku tak perlu lagi merawat lelaki penyakitan itu. Tapi, satu hal yang harus kau ingat. Dia tetap suamiku, dan hartanya adalah milikku.”

Kata-kata itu menohok keras diriku. Namun, semakin kuberusaha menolaknya. Hasrat hatiku pada sisi yang telah lama tersemaikan akan cinta, berontak begitu kuat hingga dadaku terasa sesak.

Entah kata-kata itu dari alam sadar ataukah bawah sadarku. Aku menerima tawaran Ibu. Setelah kujelaskan apa yang hendak kuputuskan pada Aisyah. Isa datang menemuiku bersama Ibu.

Pernikahan itu kembali terulang. Ikatan dan janji suci terjalin dalam burainya belasan tahun lalu. Kembali menyulam kasih. Jiwaku sungguh terdampar kembali pada masa silam. Kecupan hangat yang kudamba mendarat manis di keningku. Hingga, kebaya putih yang kukenakan tak sempat terganti. Seiring kecupannya, Mas Isa tak sadarkan diri.

“Mas, sadarlah, Mas.” Usapku pelan di kepalanya.

“Jaga ia dengan baik. Jangan sampai terjadi apa-apa padanya, karena banyak berkas yang perlu ia tanda tangani.”

Wanita itu. Entah seberapa besar dunia bersemayam di hatinya. Bahkan jiwa manusiawinya tak lagi berfungsi. Langkahnya masih terdengar jelas menjauh dari ruangan gawat darurat.

“Terima kasih, Din. Kau mau menerima Isa kembali.” Ibu tampak semakin menua, bahkan jauh dari usianya yang sudah tua.

Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Jauh dalam hatiku, entah dari sisi yang mana. Ada banyak pertanyaan untuk diriku sendiri.

Apa yang kau pikirkan? Mau-maunya menerima lelaki itu. Lelaki yang begitu lemah. Lelaki yang tak bisa melindungimu. Lelaki yang menerima saja perpisahan atas permintaan Ibunya. Lelaki yang menjadi kerbau jinak untuk Ibunya. Selalu dikendalikan dengan tali kekang.

Kumengusap wajahku. Menepis suara-suara asing yang menggema.

Aku tahu. Mungkin aku terlihat bodoh. Bahkan dianggap bodoh. Tapi, aku juga tahu bahwa aku tak bisa terus menerus menahan perasaanku. Bahwa cintaku tetap utuh untuknya, meski rentang waktu begitu  jauh terhampar. Aku tak bisa menolak, bahwa aku ingin memeluknya. Aku tak bisa menolak, bahwa aku ingin bersamanya. Apa pun yang terjadi. Cintaku mungkin akan kau bilang cinta buta. Mungkin iya. Tapi, aku menganggapnya cinta sejati yang tulus. Yang tak mengindahkan apa pun. Seperti saat ini.

Gerak tangan lelaki itu buyarkan lirih-lirih ngilu di hati. Lelaki yang kini kembali sah menjadi kekasih hati.

“Din,” panggilnya.

“Iya, Mas. Sebentar, ya. Aku panggilkan dokter.”

“Tak perlu, Din. Saat ini, aku hanya butuh kamu.” Matanya begitu sayu, genggaman tangannya begitu lemah.

“Mas, apa yang dirasakan sekarang. Mana yang sakit?” tanyaku penuh khawatir.

“Din, maafkan aku, ya.” Ia tak menjawab pertanyaanku.

“Sudahlah, Mas. Semua sudah berlalu. Sebentar, ya. Aku panggilkan Ibu dan dokter dulu.” Perlahan kulepaskan genggaman tangannya. Ibu dan dokter harus tahu, bahwa Mas Isa telah siuman.

“Bu, bolehkah Aisyah bertanya satu hal?” Aisyah menemaniku duduk di kursi lorong rumah sakit. Sementara Ibu dan dokter berada di dalam ruangan Mas Isa.

“Boleh. Aisyah mau bertanya apa?”

“Mengapa Ibu menjalani semua ini? Bukankah Ayah Isa sudah beristri?”

Kutatap mata gadis di depanku. Kusentuh bahunya perlahan.

“Aisyah. Kita tak akan tahu takdir seperti apa yang akan kita jalani. Mungkin ini adalah takdir Ibu. Meski sebenarnya, jika Ibu mau. Ibu bisa memilih untuk tidak menjalaninya. Tapi, saat kita telah menentukan pilihan. Itulah sebenar-benarnya takdir. Jalanilah apa yang telah dipilih dengan ikhlas dan tulus, karena hanya itu yang mampu mengantarkanmu pada kebahagiaan sejati.”

Kuelus rambut panjangnya yang terburai. Mendekatkannya ke dada. Memeluknya dalam hangat kasihku.

Sayang. Ini adalah takdir yang Ibu pilih. Karena cinta mengalahkan semua rasa dan Ibu tak ingin kehilangan cinta ini kembali. Namun, jika takdir ini singgah kepadamu. Ibu berdoa kau tak menjalani masa seberat Ibu.

Ending.

Dapatkan bukunya di google book play store https://play.google.com/store/books/details?id=FMmwDwAAQBAJ

rumahmediagrup/walidahariyani