“Takdir”, Naskah Terbaik Event Nubar Jabar dalam Buku “Saat Berbagi Hati”

Dok. Pribadi

Takdir”, Naskah Terbaik Event Nubar Jabar dalam Buku “Saat Berbagi Hati”

Bagian 1

Sebuah rasa yang menggetarkan hati, membuat diri rela berbuat apa saja, bahkan mengorbankan perasaan dan mengesampingkan keinginan diri. Itulah cinta. Rasa yang justru mengikat dalam belenggu. Tetap bertahan ataukah menerima dengan sabar dan ikhlas. Inilah kisahku, terikat pada cinta dan janji suci yang harus aku penuhi ataukah kupilih meninggalkannya.

___________________________________________

“Hai, Dina, kan?” ucap lelaki itu tampak ragu.

Lima belas tahun, bukan rentang singkat yang dilalui. Di dalamnya bersemi rempah kehidupan pahit dan manis. Kadang berlumur basah air mata, kadang mengering bagai sahara. Rupanya tak begitu berubah. Sekilas mata memandang, mudah sekali lirikan mata mengenalnya. Alis hitam berjejer rapat saling bertaut, menegaskan tatapan matanya yang berusaha mengenaliku dari dekat.

“Iya.” Segaris tarikan bibir menyambut keraguannya.

“Bagaimana kabarmu?” tanya lelaki itu.

“Baik.”

Tak ada deretan kata lain mengiringi sepatah huruf yang keluar, karena kini hati berontak melawan memoar masa lalu. Di saat cinta membuncahkan jiwa, namun kandas terdampar dalam gunungan pasir pantai yang tersapu ombak kecewa. Lelaki itu berdiri tepat di samping, sembari memilah gawai yang hendak ia beli. Sosok yang membuatku dulu mencintai, teramat sangat.

Jika kini hatiku bergetar berjumpa dengannya. Semata karena rasa itu tetap utuh tersimpan dalam bingkai waktu bertahun silam. Tanpa terusik, terkecuali hari ini.

“Mau nyari apa? Itu?” tanyanya sembari menunjuk kaca etalase berisi deretan handphone.

“Tidak,” sahutku sembari berlalu, tak ingin berlama-lama dengannya dalam getaran hati tak menentu.

Kumerutuki diri, mengapa getaran sekian tahun yang tersimpan rapi kembali hadir. Barang belanjaan yang cukup berat perlahan kugeret. Tatapannya seakan tak rela kumenjauh.

“Dina! Mau ke mana?”

“Pulang.”

“Aku antar, ya?”

“Tidak, terimakasih.” Dua kata jawabanku menutupi gejolak yang kian membuncah.

Entah kenapa setelah sekian tahun tak bersua, rasa itu masih utuh untuknya. Bersyukur otakku kali ini bergerak lebih cepat menengahi setiap perasaan yang terasa.

Ah, untuk apa rasa ini? Dia telah berkeluarga dan bahagia bersama mereka.

Di kejauhan sepasang mata melepas langkahku hingga raib dari pandangan.

Barang-barang berat yang sedari tadi memaksa otot-ototku menahan bebannya langsung tergeletak di lantai. Kusenderkan punggung di kursi kayu.

Mengapa hari ini aku bertemu dengannya?

Embusan napas berat menjalari rongga hidung. Bayangan lima belas tahun bergelayut menggoda. Kebaikan yang tertanam di perilakunya untukku, melayangkan khayal dan menumbuhkan cinta. Sayangnya cinta itu hanya mampu kurutuki, mengapa ia tumbuh jika hanya berbuah kecewa.

Pernikahan itu tak seumur jagung. Ketidak setujuan ibunya, mengalahkan semua cinta yang bersemi. Memutus paksa jalinan suci dan perjodohannya setelah itu menjadi benteng kokoh antara aku dan dia.

Kehidupan terus berlanjut, kubina rumah tangga dengan lelaki yang tak pernah bisa kucintai. Meski ia memberikan berjuta cinta manis untukku. Sayang semua tak berjalan seindah harapan akan cinta. Kelahiran buah hati mengantarkannya dalam pelukan Ilahi. Cinta tak sepenuhnya mampu kutumbuhkan di antara ikatan yang terjalin, hingga Tuhan mengambilnya tanpa sempat kusemaikan cinta baru di hati untuk membalas perasaannya.

Perjalanan hidup kadang begitu pelik, tapi mesti dijalani. Menapaki hari di antara derita. Menumbuhkan perjuangan lebih yang tak sekadar meratapi nasib. Aku mengeluh pada mulanya, syukurnya kesadaran berbaik hati menghampiri. Ada amanah Tuhan yang tanggung jawab akannya berada di tanganku. Menjalin waktu bersamanya, hingga ia kini tumbuh dewasa jauh dari usianya.

“Bu.” Sentuhan di bahu mengagetkanku.

“Sayang! Sudah pulang?”

“Iya, Bu. Ibu kenapa? Sakit? Barang-barangnya, kok, tergeletak begitu saja. Biasanya habis belanja semua langsung Ibu susun rapi di tempatnya.”

“Tidak apa-apa. Tadi Ibu sedikit lelah.” Senyumku menutup getir rasa yang menghantui.

Sebulan berlalu semenjak pertemuanku dengannya. Akan tetapi bias getar saat itu tak kunjung hilang. Entah rahasia apa yang ingin Tuhan ungkapkan kepadaku. Langkahku terhenti kembali, manakala jalan tertutup posturnya yang tinggi. Aku hampir menabraknya. Kali ini wajahnya tak secerah bulan lalu. Bibirnya begitu putih dan kering, matanya sayu, kegagahannya terkikis entah ke mana.

“Maaf,” ucapku sembari membetulkan map-map yang hampir berjatuhan.

“Tidak apa-apa. Kamu kerja di sini?”

“Iya. Kamu ngapain di sini?” Meski wajahnya yang pucat telah memberi jawaban bahwa ia sedang menjalani masa pengobatan, tetap pertanyaan itu kulontarkan.

 “Aku hendak menemui dokter di sini.”

“Siapa?” Jiwa perawatku menutup gemuruh resah di dada.

Rasa iba melihat wajahnya yang pucat membuat lidahku tak henti bertanya. Kuarahkan ia di sebuah kursi kosong.

“Pak Sundjaji Gunawan.”

Pak Sundjaji Gunawan? Beliau dokter penyakit dalam di rumah sakit ini. Apa gerangan yang sedang ia derita?

Deringan ponsel di kantong memaksaku untuk meninggalkannya. Map-map yang kubawa telah ditunggu untuk diperiksa. Sepatah kata pamit berlalu, mengiringi langkahku kian menjauh darinya.

Cinta masih utuh di hati, ingin kumerengkuh pundaknya. Bertanya dalam dekapan. Mana yang sakit? Apa yang dirasakan? Tapi, aku tahu. Itu tak mungkin. Kini aku hanya orang asing untuknya.

***

“Maafkan Ibu, Din.” Isak wanita tua di sampingku mengakhiri ungkapan sesalnya.

Kugenggam tangannya sembari tersenyum. “Tidak apa-apa, Bu. Semua sudah berlalu belasan tahun. Tak perlu diungkit kembali.”

“Ibu, dari tadi dicariin. Ternyata duduk di sini.” Seorang wanita cantik tiba-tiba memecah kesyahduan sesal Ibu. Bergegas pipi basahnya diusap.

“Memangnya ada apa?”

Wanita itu berlalu pergi tanpa menjawab menuju ruangan perawatan. Hanya matanya berisyarat agar gerak kakinya diikuti.

Ibu pun beranjak dari tempatnya. Tanpa sepatah kata, ia hanya memandangku dengan tatapan yang tak pernah kudapati sebelumnya. Begitu lembut.

Andai dulu matamu selembut itu, Bu.

Bergegas kutepis pikiran aneh yang menyusup lembut. Andai waktu bisa diputar balik. Aku ingin bersamanya, merawatnya kala ia sakit seperti ini. Langkahku terayun meninggalkan koridor rumah sakit. Jam kerja berakhir, saatnya bercengkrama dengan Aisyah, buah hati pelipur laraku.

Bersambung….

Ebook “Saat Berbagi Hati” https://play.google.com/store/books/details?id=FMmwDwAAQBAJ

rumahmediagrup/walidahariyani