Takhbib, Merusak Rumah Tangga Orang Lain

Takhbib, Merusak Rumah Tangga Orang Lain

Memiliki perasaan cinta dan ketertarikan terhadap lawan jenis, adalah hal yang lumrah. Tentu saja, bila cinta tersebut tumbuh di waktu dan tempat yang tepat.

Tidak ada yang bisa tahu kapan dan bagaimana cinta berlabuh. Namun sebagai manusia yang beradab, menjaga etika dan norma yang berlaku itu sangat penting. Jangan sampai demi mengejar kesenangan pribadi, pasrah menjadi benalu pada rumah tangga orang lain.

Semua rumah tangga, pasti ada masa pasang-surutnya. Bahkan kadang perlu menepi sejenak. Menata hati, meluruskan niat. Memperbaiki biduk agar bisa berlayar kembali.

Saling belajar memahami karakter pasangan masing-masing. Tidak membiarkan masalah menumpuk. Lalu mencari pelarian demi kepuasan diri. Alih-alih fokus menyelesaikan masalah, tapi justru memupuk bara, yang sewaktu-waktu siap meledak.

Tetaplah bersikap santun saat ingin mengingatkan kesalahan pasangan. Bila dengan orang lain bisa dengan mudah memberi perhatian, maka justru perhatian terbaik harus didapatkan oleh pasangan sendiri. Jangan sampai terbalik, dengan orang lain bersikap hangat, namun dengan pasangan justru bersikap acuh.

Perbuatan merusak rumah tangga seorang muslim disebut dengan “takhbib”. Lalu bagaimana hukumnya dalam Islam?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Barang siapa menipu dan merusak (hubungan) seorang hamba dari tuannya, maka ia bukanlah bagian dari kami. Dan barang siapa merusak (hubungan) seorang wanita dari suaminya, maka ia bukanlah bagian dari kami”.
(HR. Abu Hurairah)

Orang-orang yang dengan sengaja berusaha menghalalkan segala cara untuk merusak mahligai rumah tangga yang telah dibangun, maka kelak di akhirat akan mendapat laknat dari Allah.

Imam Al Haitsami juga mengkategorikan perbuatan dosa ini menjadi dosa yang besar.
Dalam kitabnya yakni Al Zawajir ‘an Iqtiraf al Kabair, beliau menyebutkan jika dosa besar yang ke-257 dan 258 adalah merusak seorang wanita agar terpisah dari suaminya dan merusak seorang suami agar terpisah dari istrinya.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Iblis menempatkan singgasananya di atas air, lalu mengirim bala tentaranya (setan) yang kedudukannya paling dekat dengan iblis adalah yang paling besar godaannya. Salah satu di antara mereka datang, lalu berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu’. Iblis menjawab, ‘Kau tidak melakukan apapun.’ Lalu yang lain datang dan berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya, hingga dia berpisah dengan istrinya’. Iblis mendekatinya, lalu berkata, ‘bagus kamu’
(HR. Muslim)

Perbuatan yang bisa dikategorikan merusak rumah tangga orang lain di antaranya:

  1. Memberikan waktu, perhatian, dan materi yang berlebihan, bukan pada pasangan halalnya.
  2. Menyebut kebaikan diri sendiri, lalu membandingkan dengan pasangan orang lain.
  3. Dengan sengaja menggoda atau mengajak berzina.
  4. Mengadu domba pasangan suami istri agar bercerai dan meninggalkan keluarganya.

Bila memang ada masalah yang tidak bisa diselesaikan berdua, maka seyogyanya melibatkan pihak ketiga yang amanah. Berusaha bersama mencari bagaimana penyelesaiannya.

Saat perceraian menjadi solusi terbaik, maka lakukanlah dengan cara yang beradab. Islam menghalalkan perceraian. Ingat, bagaimana dulu memulai hubungan pernikahan dengan baik. Maka saat ingin mengakhiri, lakukan juga dengan cara yang baik pula.

Jangan lupa perbanyak doa, semoga selalu diberikan kekuatan iman dan kebesaran hati, untuk mengambil keputusan terbaik dalam menjalankan biduk rumah tangga.

Ya Allah, benahilah agamaku yang menjadi benteng urusanku. Benahilah duniaku yang menjadi tempat kehidupanku. Benahilah akhiratku yang menjadi tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai kebebasan dari segala keburukan.
(HR. Muslim)

Semoga Allah menjaga mahligai pernikahan dari gangguan makhluk-Nya. Bersama dengan pasangan, mengarungi bahtera rumah tangga sehidup, sesurga, Insyaa Allah.

Barakallahu fiikum.

rumahmediagrup/siskahamira