Temali Asa

Temali Asa

Kugegaskan langkahku menuju stasiun terakhir. Sebelum nanti melanjutkan perjalanan dengan angkutan desa dan disambung lagi dengan menaiki delman.

Hampir saja tertinggal kereta, satu menit lagi kereta diberangkatkan. Petugas stasiun mulai meniup peluit, tanda persiapan kereta untuk segera diijinkan meninggalkan stasiun.

Hati ini berdesir, seolah ada yang lepas dan tertinggal. Namun aku harus lebih kuat untuk melewatinya, harapan itu harus kurajut kembali, asa itu harus tetap tertanam dihati, untuk orang- orang yang kucintai.

Memulai tugas di tempat yang jauh dari keramaian, meninggalkan keluarga, demi kelangsungan pendidikan adik- adik dan tanggung jawab merawat ibu, meneruskan tugas bapak, setelah kepergiannya menghadap sang pencipta.

Dinginnya udara pegunungan, aroma pepohonan terguyur gerimis hujan, ditingkahi suara sepatu kuda yang akan mengantarku menuju sebuah tempat. Tempat di mana aku akan membaktikan keilmuanku sebagai bentuk tanggung jawab untuk keluargaku.

Perlindungan hama penyakit dan tanaman, spesialis keilmuan dari ilmu pertanian yang ku ambil, kini saatnya kubaktikan dalam hidup ini.

Ada rasa haru dan bangga ketika kuinjakan kaki di tempat tugas pertamaku, ada rasa gelisah yang masih tertinggal di hati, ada juga rasa sedih dan rindu yang masih menggelayuti. Wajah orang- orang terkasih yang menguatkanku untuk terus maju dan bertahan.

Kemampuan adaptasi dengan cepat sangat dibutuhkan ketika kita memasuki lingkungan baru, begitupun kemampuan berkomunikasi efektif, akan membuat kita lebih nyaman dalam berhubungan dengan sesama. Pesan bapak selalu kuingat dari masa kuliah sampai hari ini hidup bermasyarakat, dahulukan adab dari pada ilmu. Inilah yang kurasakan kebaikan-kebaikan dari pesan bapak almarhum.

Hidup jauh di perantauan, bertemu banyak keluarga baru, sedikit demi sedikit mengikis kerinduanku. Rutinitas yang kujalani mulai membuahkan hasil dan mulai menutupi ruang-ruang kosong di hati ini. Satu asa yang masih tersimpan rapi, kan kuperjuangkan adik- adik sampai menuju titik cita-citanya dan kan kubawakan ibu segenggam kebanggaan untuknya, sebagai baktiku atas kerhidoan dan doa- doa tulusnya untukku.

rumahmediagrup/anisahsaleh

One comment

Comments are closed.