It’s Just “Bubuy Sampeu” Miss…

Di kegiatan lomba olahraga kemarin, Fauziah Nur Matinah sangat senang mengikuti sekaligus memberikan semangat membara kepada kawan se-grupnya.

Olahraga bola volley yang di gemarinya, ternyata membuahkan hasil, meski baru ke babak semi final hari ini, dan itu sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi para pemenang.

Ada yang terlihat agak kelelahan di sana. Ya, ibu Retno yang sedang hamil muda itu terus berkegiatan, mengompori anak-anak agar selalu bersemangat mengikuti setiap sesi lomba yang diadakan di sekolah.

Semua siswa sayang terhadap semua guru mereka, apalagi ibu Retno yang selalu aktif ikut serta mendampingi mereka.

Sebaiknya ibu istirahat saja, semua biar kawan-kawan saya yang mengaturnya Bu?.”

“Iya, sebaiknya Bu Retno ngasoh aja dulu, makan sana!,” Bu Lastri mencoba mengingatkan, kalau seseorang yang sedang hamil itu harus betul-betul mengerti kondisi. Jangan sampai kelelahan apalagi telat makan.

Bu Retno yang memang sudah sedikit nampak kelelahan, hanya memberikan isyarat sebuah senyuman.

Meski akhirnya keadaan tidak dapat dipaksakan lagi untuk mengikuti kegiatan di lapangan.

Pak Soni satpam di sekolah mengerti ketika Bu Retno meminta agar dapat di antarkan pulang ke rumah, karena kondisi yang mengalami kelelahan.

Semua dapat mengerti atas keadaan Bu Retno yang memang tidak boleh terlalu memaksakan untuk beraktivitas terlalu berat.

Dua hari Bu Retno mulai merasakan mual di sekolah. Siswa yang paham akan kondisi terus menjaga dan memberikan perhatian sebisa mereka.

Bu lestari-pun mulai agak kelabakan dengan kondisi saat ini. Namun masih dapat memberi pengertian atas kondisi yang harus dilalui.

Bu, kira-kira adakah yang punya makanan untuk ibu hamil ya?.”

Bu Lestari yang sedang mengetik data di komputer tiba-tiba berhenti. Menengok dan memperha

Hmm, memangnya Bu Retno ngidam apa sih? ayolah katakan tidak usah malu. Siapa tahu bisa mewujudkan keinginan jabang bayi saat ini.”

“Aku kebayang loh, Bu. Dulu orangtua suamiku yang baik membuatkan makanan dari ubi jalar, entah bagaimana yang pasti rasanya enak sekali, apalagi di tuang kinca gula merah,” kata Bu Retno sambil senderan di kursi sofa tamu ruang kerja membayangkan makanan yang sedang ia idam-idamkan.

Bu Lestari segera ke luar ijin ke depan sebentar. Entah apa yang akan dilakukannya, secepat itu dia berfikir untuk memberikan sebuah kejutan untuk Bu Retno.

Tak dinyana, ternyata Bu Lestari memberi kabar ini ke saudaranya di kampung. Sebisa mungkin, agar di buatkan bakar singkong dari kampung yang dibakar dengan cara di maasukan ke bara api di dalam tungku jaman dulu. Menggunakan kayu bakar sebagai sumber api nya.

Dengan senyuman terkulum anak-anak bersorak-soray menyaksikan serunya perlombaan. Sampai akhirnya di ambil keputusan siapa yang menjadi juaranya. Hari yang benar-benar menyenangkan untuk mereka.

Jam pulang-pun berdering, semua warga mulai berhamburan untuk pulang ke rumahnya masing-masing, merehatkan badan dan pikiran setelah cukup lelah seharian berkegiatan.

Pagi kini menjelang, suasana yang cukup dingin menemani derasnya hujan di pagi ini. Siapapun pasti malas untuk terbangun.

Namun hidup adalah sebuah kepastian untuk yang selalu bangkit dari malasnya, mencapai segala cinta dari kebersamaan yang masih terjaga.

Bu Lestari dan anak-anak sudah tiba di sekolah. Dengan perasaan senang, ia menyimpan singkong bakar yang di inginkan dari kemarin oleh Bu Retno. MasyaAllah, kebaikan yang memang sering diharapkan memberi kebaika pula untuk semua orang.

Bu Retno masuk ke ruangan, anak-anak yang juga ikut-ikutan ingin memberikan kejutan pada Bu Retno yang kebetulan hari itu hari kelahirannya.

Barakallahu fi umrik ya Miss.. semoga selalu sehat, bahagia, dan jangan lupa untuk selalu bahagiaaaa.”

Teriak anak-anak siswa sekolah pada hari itu. Bu Retno terharu dengan kejutan yang tidak disangkanya itu.

Bu Lestari yang tiba-tiba datang, membuat gempar semua yang ada di ruangan itu, termasuk Bu Retno, yang tadinya kelihatan berkaca-kaca merasa terhibur dengan dandanan Bu Lestari yang seperti seorang mbok-mbok di pasar.

Dengan celotehan lucunya beliau pun berkata dengan logat Inggris yang sangat kental,

It’s just a “bubuy sampeu” Miss Retno! Please,” sambil menyerahkan bungkusan plastik putih dan segera dibuka di meja kerja Bu Retno.

Bu Retno terkejut sekaligus senang tak terkira, makanan ini yangyang memang sedang dia inginkan. Semua yang ada di sana melihat keseruan dalam kebersamaaan. Kompak dan saling membahagiakan.

Bu Lestari-pun senang karena kejutannya tersampaikan. Bu Retno langsung menyantap makanan yang ada di depannya itu, aaah lahapnya.

Semua pun segera ikut menyerbu untuk menikmatinya bersama. Bakar singkong yang mantul-mantul rasanya itu, tak kan bisa ditemui di manapun, kecuali di hati yang penuh bunga cinta.

Cinta sahabat, cinta kebersamaan, indah layaknya dalam sebuah keluarga.

Pict : dokumen pribadi.

2 comments

    1. MasyaAllah,,, barakallahu Fik,, aku nulis masih banyak typo akaaaak 😅🙏,, semoga beliau yang sudah tiada di tempatkan terbaik di sisi Allah SWT 😇😇😇

Comments are closed.