Temukan Teori yang Tepat

Sumber gambar : http;//www.liputan6.com/

Temukan Teori yang Tepat

Banyak peneliti pemula masih bingung untuk menemukan teori yang tepat. Terkait teori ini dituliskan dalam proposal penelitian ya. Namun, ada juga draft penelitian yang tidak menggunakan teori. Nah, diskusi ini digunakan untuk penelitian yang menggunakan teori.

Tujuan menemukan teori ini digunakan sebagai landasan teori. Kumpulan dari beberapa teori atau konsep digunakan juga untuk menyusun kerangka pikir penelitian. Bisa jadi digunakan untuk analisis hasil temuan dan metodologinya. Membandingkan antara fakta temuan dengan teori yang ada.

Bagaimana caranya? Menemukan teori dilakukan dengan banyak baca. Apa yang dibaca? Yakni membaca beberapa sumber pustaka. Apa saja? Sumber acuan umum misalnya buku referensi, buku teks, ensiklopedi, monograf, atau sumber teori lainnya. Dan acuan khusus, misalnya jurnal, buletin, skripsi, tesis, disertasi, majalah ilmiah, laporan penelitian, makalah seminar, proseding, dan lainnya.

Secara umum, sumber bacaan yang dicari haruslah yang relevan dengan tema dan topik penelitian, mutakhir, berbobot ilmiah. Bagaimana cara mengidentifikasinya? Cobalah untuk membuat mapping teori. Mapping dilakukan untuk memudahkan alur pikir teori atau konsep, teori ini nantinya membantu dalam analisis hasil. Dalam mapping ini isinya adalah beberapa teori atau konsep, dipetakan dalam tabel-tabel. Cari sebanyak-banyaknya.

Setelah dipetakan dalam tabel-tabel, maka akan tergambarkan mana teori yang sangat spesifik dibutuhkan dan teori mana yang digunakan untuk analisis nantinya. Akan nampak teori untuk mengembangkan analisis hasil, dan lainnya. Namun, harus diingat ya, jumlah pustaka yang banyak belum memainkan peran penting. Kualitas penelitian ditentukan oleh kualitas analisis hasil dan prosedural yang digunakan.

Tidak semua sumber bacaan dapat dijadikan acuan penelitian. Kejelasan sumber acuan menjadi hal yang sangat penting. Dalam mengutip atau mengambil acuan harus mencantumkan sumber acuan pustakanya. Ada etika keilmiahan yang harus dipegang erat. Yaitu mencantumkan sumber, nama pengarang, tahun terbit, judul, dan lainnya. Hindari juga praktek plagiasi. Gunakan saja parafrase dari kalimat-kalimat yang sama.

Nah, ketika teori sudah ditemukan, maka selanjutnya teori ini digunakan untuk menyusun kerangka pikir dan menyusun hipotesis bagi penelitian kuantitatif. Hipotesis sebagai dugaan atau kesimpulan sementara. Dugaan sebagai jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya harus diuji. Uji secara analisis berdasarkan dengan data empiris yang ada di lapangan.

Dirumuskan teori atau konsep yang relevan dengan topik penelitian. Batasan ruang lingkup teori dipilih sebagai peta berfikirnya penelitian. Data empiris lapang diujikan untuk menemukan kebenaran. Nah, teori nantinya akan menjadi batasan analisis. Teori akan menjadi pisau analisisnya nanti. Terlebih pada penelitian kualitatif tidak membutuhkan hipotesis, tetapi membutuhkan banyak diskusi teori.

Jika tidak ditemukan teori yang tepat, maka peneliti tidak akan mampu menyusun kerangka pikir dan analisis hasil bisa jauh dari tepat. Rumusan masalah tidak sejalan dengan teori. Rancangan penelitian tidak memenuhi asumsi teori. Kesalahan tafsir hasil. Fakta tidak dapat disandingkan dengan teori. Semua ini bisa saja terjadi jika teori yang ditemukan kurang relevan.

Demikian, maka teori perlu dilakukan telaah dan diskusi tersendiri. Fakta yang ditemukan bisa menjadi pengembangan teori baru. Bahkan dalam penelitian kualitatif, teori tidak dibutuhkan. Pada pendekatan tersebut, teori hanya bersifat sebagai peta pikir penelitian. Pentingnya teori menjadi pola pikir penelitian, walaupun bisa juga didasarkan pada penelitian terdahulu yang relevan.

Semoga bermanfaat

rumahmediagrup/Anita Kristina