Terbuka Tengahnya

Terbuka Tengahnya

Hari itu Senin. Aku harus berangkat pagi. Upacara bendera setiap Senin pagi.

Ada yang beda hari itu. Aku mengenakan seragam baru. Dan hari pertama mengenakan pangkat baru di pundak. Pangkat 4.C. sebagai PNS.

Beberapa kali bercermin. Kupandangi baju baruku. Terutama bagian pundak itu terkesan gagah. Kulihat sisiran rambutku yang baru saja cukur kemarin. Terlihat wajah baru, baju baru, dan pangkat baru.

Aku malas melihat bagian celanaku karena agak kebesaran. Entah apa yang ada di benak penjahit. Ikat pinggang juga tidak baru. Apalagi sepatu, sudah setahun kubeli. Malas melihat bagian bawah.

“Ma, papa berangkat,” pamitku kepada isteri.

“Iya, Pa. Hati-hati di jalan,” ucapnya dari ruang dapur. Ia merapikan bekas sarapan kami.

“Harus agak ngebut dikit, ni,” gumamku setelah melihat jam tangan. Perjalanan sekitar 30 menit.

“Wah, anak-anak SD sudah hadir. Jangan-jangan aku terlambat,” pikirku sambil sekilas melihat anak-anak SD. Aku melewati sekolah itu setiap hari.

Kulihat seorang anak lelaki bersergam SD sedang asyik berjalan. Ups, restleting celananya terbuka. “Apakah kuberitahu tapi aku sedang buru-buru. Biarlah sebagai pelajaran baginya agar jangan terburu-buru dalam berpakaian,” pikirku.

Kendaraan kulaju lebih kencang. Khawatir terlambat dan gerbang dikunci. Begitulah peraturan yang diterapkan di sekolahku setiap Senin pagi agar kekhidmatan upacara tidak terganggu.

Bersyukur, aku tiba lebih awal. Baru ada seorang guru rupanya. Anak-anak mulai banyak. Aku langsung menempel jariku di absensi fingerprint.

“Assalamualaikum, Pak Joko. Bagaimana kabarnya?” sapaku kepada Pak Joko. Dia guru Pendidikan Agama Islam yang juga seorang hafiz. Dia hafal 30 juz Al-Qur’an.

“Alaikum salam,” jawabnya, “Pak Heru, tengahnya terbuka,” lanjutnya.

“Tengah? Mungkin kancing baju menurutnya,” pikirku, “Tidak ada, Pak,” jawabku.

“Itu, Pak. Resleting celananya terbuka,” katanya.

“Hah!” Aku terperangah dan cepat-cepat menutupnya.

Rumediagrup/saifulamri

2 comments

  1. Ya, Master Seiful,kalau kita pergi terburu-buru suka begitu he… Keren tulisannya

Comments are closed.