Tergerak untuk Mengurus Jenazah

Tergerak untuk Mengurus Jenazah

Saat mendengar berita kematian tetangga, teman, kerabat, kenalan, atau orang-orang yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari dan seiman tentunya, pasti bergegas kita untuk segera takziah. Suatu waktu terbersit keinginan untuk ikut memandikan jenazahnya, tapi takut dan khawatir nanti salah caranya. Padahal salah satu bentuk kasih sayang antar saudara seiman adalah membantu pengurusan jenazah sampai dikuburkan.

Mengingat kalau diri ini juga suatu saat akan menemui ajalnya, pasti membutuhkan orang lain untuk mengurus mayat kita kelak kan. Jadi alangkah baiknya bila kita juga bisa bermanfaat untuk orang lain di akhir hidupnya.

Namun langkah untuk ikut merawat jenazah dari mulai memandikan hingga mengkafani masih maju mundur. Terbayang hal yang seram dan bayangan yang mungkin nanti akan menghantui setelahnya. Sampai akhirnya, terbuka kesempatan untuk Pelatihan Pengurusan Jenazah, kuberanikan diri untuk mendaftar. Kenapa harus punya keberanian untuk ikut pelatihan ini? 

Alasan utama ya seperti yang diuraikan diatas, takut …. Terbayang kondisi mayat yang harus ditangani dan kelak akan terus mengingatnya sebagai mimpi yang seram. Upaya untuk mengusir semua ketakutan itu tentu saja keberanian. Bukankah hasil pelatihan juga suatu saat akan dipraktekkan. Berani dan harus berani.

Akhirnya keputusan bulat, ikut mendaftar bersama beberapa teman dari majelis taklim yang sama.

Pelatihan yang diberikan meliputi praktek memandikan dan mengkafani jenazah. Disinilah baru kutahu syarat memandikan jenazah yang sebenarnya.

Ada lima syarat memandikan jenazah yang disampaikan oleh ustadzah, yaitu :

  1. Utamakan orang yang ditunjuk si mayit sebelum meninggal.
  2. Muslim, berakal, dan baligh.
  3. Terpercaya, amanah dan paling tahu sunnah.
  4. Jenazah laki-laki ditangani jamaah laki-laki, jenazah perempuan ditangani jamaah perempuan. Ayah dan ibu boleh memandikan putra putrinya selama masih kanak.
  5. Jika perempuan mati dan yang hidup laki-laki dan tidak ada suaminya, atau sebaliknya, maka jenazah tidak dimandikan tapi ditayamumkan oleh seorang dari mereka dengan memakai lapis tangan. Sabda Rasulullah, “Jika seorang perempuan meninggal di lingkungan laki-laki, maka hendaklah mayat itu ditayamumkan, lalu dimakamkan keduanya sama halnya dengan orang yang tidak mendapatkan air.” (HR. Abu Daud dan Al Baihaqi)

Syaratnya tidak memberatkan siapapun yang bersedia untuk melaksanakannya. Bila melakukannya akan mendapat ganjaran dari Allah, seperti yang disebutkan dalam HR Al Hakim 1354 – 1356, Al Baihaqi 3/395 yang menyebutkan : 

“Barang siapa yang memandikan jenazah, kemudian ia menutup aibnya, maka Allah ampuni dosanya hingga 40 kali, barang siapa mengkafani maka Allah akan mengenakannya pakaian dari sutera tipis (sundus) dan kain sutera tebal (istabraq). Barang siapa menggali kubur untuk jenazah dan menguburkannya, maka Allah akan memberi ganjaran kepadanya rumah yang akan ditinggali hingga hari kiamat.”

Pelatihan dilakukan detail disertai praktek. Inshaallah, ilmu diterapkan untuk sesama saat musibah menimpa.

Syarat yang harus dimiliki seseorang yang memandikan jenazah, seyogyanya sudah ada dalam diri dan siap jalankan amanah dari keluarga yang ditinggalkan.

Sudah waktunya bergerak dan Bismillah.