Teriakan Menjadi Bukti

By Nurilatih

Waktu menunjuk pukul 06. 50. 10 menit merupakan waktu yang amat pendek menuju tempat kerja di mana jalan yang kulalui adalah jalan sempit dan berkelok-kelok.

Sampai pada belokan pertama dari jalan raya, saya harus mengurangi kecepatan sepanjang perjalanan itu. Terlihat dari kejauhan tepatnya dibelokan jalan makam yang biasanya pengendara tidak bisa bergerak mendahului, beberapa orang secara bersamaan keluar dari pintu makam dan memenuhi jalan. Dengan sigap saya mengurangi kecepatan kendaraan. Seorang lelaki tinggi besar mengatur kendaraan yang lalu-lalang. Karena tidak bisa bergerak maka secara otomatis kuhentikan motor. Rupanya orang tersebut tidak tahu bahwa di belakangnya ada kendaraan saya yang telah berhenti. Tubuhnya pun tertabrak ke motorku.

Dia berteriak. “Allahuakbar Allahuakbar” Teriakannya mengejutkan orang-orang sekitarnya yang sebenarnya tidak tahu tepatnya kejadian.

Orang-orang yang duduk di sudut makam meneriakkan kepadaku agar aku berhati-hati bahkan lebih berderap intonasinya, menyalahkan bahwa aku telah bertindak terburu-buru dan telah menabrak orang tinggi besar dihadapanku yang telah membuat spionku sampai berbelok. Kubiarkan mereka berteriak. Aku hanya memandang dengan tajam, yang membahasakan bahwa orang tersebut telah bersalah menabrak diriku motorku. tak peduli bagiku teriakan orang-orang yang mereka tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Bagiku minta orang lain mengerti tidak harus dibahasakan, diakui pada posisi benar tidak harus diteriakkan

Asparaga, 28022020