Terlena Rasa Sombong

Terlena Rasa Sombong

Rasa sombong pernah terselip dalam diri ini. Saat orang memuji betapa beruntungnya memiliki anak yang penurut, hmm langsung membuncah perasaan, “ini lho contoh ibu yang hebat.”

Belum cukup sampai di situ. Kembali senyum simpul dan nada sinis terucap dalam hati saat belajar membaca Al Qur’an. Diri sendiri merasa bacaannya sudah paling benar dari santri lainnya. 

Akhirnya apa yang terjadi dari kejadian tersebut?

Di atas langit masih ada langit. Anak penurut bisa jadi karena bosan dimarahi, ujung-ujungnya mereka bisa kurang inisiatif dan kreatif karena selalu menunggu perintah sebelum melakukan sesuatu yang seharusnya bisa segera dilakukan. 

Begitu pula saat belajar mengaji. Ketika tiba giliran ngaji perorangan, lidah terasa kelu dan berat. Banyak sekali huruf hijaiyah yang keliru diucapkan, padahal saat menyimak santri lain membaca, diri ini yakin benar akan lebih baik dari bacaan tadi. 

Sungguh bila perasaan bangga / ujub, sombong datang pada diri kita, maka orang lain akan disepelekan. 

“Tidak ada suatu perkara yang lebih merusak amalan daripada perasaan ujub dan terlalu memandang jasa diri sendiri.” ( Al-Fawa’id, hal 147)

Perlahan namun harus, perasaan sombong, bangga atau ujub harus dikikis dari diri ini. 

Allah sangat tidak menyukai kesombongan, tersirat dalam firman-Nya :

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri(18) Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai(19).” (QS. Lukman : 31/18 – 19)

Sia-sia segala ibadah yang kita lakukan bila masih terselip rasa sombong walau sebesar biji zarah.

Wallahu alam bishawab.

rumahmediagrup/hadiyatitriono