TERSANGKUT DI PIPIMU YANG MERAH


CINTAKU SELALU BERMULA


Bukan lagi menjadi cita-cita
Setelah hati ini harus terdampar sakit saat tak ada nama tercantum dalam deretan pengumuman
Tak ada sangka ini bermula menjadi amuk rasa
Meski bukan nyanyian apatis
Hanya noda menggores bak lukisan kilat di langit
Namun tak bisa dielak
Guru di hati nuraniku telah tercatat di Lauhul Mahfuzh sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan lagit dan bumi.
Ketika selembar nota dinas ada di tangan
Bukan jalanan yang nyaman
Kutangkap sebagai takdir bagi hatiku yang biasa patuh
Dan
Sekali kau kupegang
Kupupuk dengan cinta
Kukayuh dengan perjuangan
Kupoles dengan ketabahan
Kubangun dengan keikhlasan
Kisah ini tak kan kuhentikan karena sudah menjadi bagian orkestra kehidupan
Sumberwringin desa di tepi danau
Jalanan berkelok sedikit terjal jarak penduduk yang jauh
Bau tanah yang harum sepanjang jalanan adalah motivasi yang indah
Bebatuan tersusun tanpa tata adalah mozaik tak terjawab indahnya
Suara jangkrik dan cenggeret adalah Simponi rindu membelah langit
Jeritan derit bambu adalah bagian musik klasik perjalananku
Maka kukayuh Negeriku dengan niat yang tulus
Adalah awal kontrak cintaku padamu anak-anak Indonesia


Sumberwringin April 2019