Tersesat di Madinah

Tersesat di Madinah

Saya termasuk orang yang tak terlalu awas dengan arah. Kecerdasan spasial tak terlalu tinggi. Jadi ya begitulah untuk urusan petunjuk arah, saya kurang bisa diandalkan.

Nah, saat umroh kemarin, di Makkah, Alhamdulillah saya berhasil punya patokan sehingga tak pernah nyasar saat pulang ke hotel, dari Masjidil Haram yang pintunya banyak itu hingga rawan bikin bingung. Patokan saya adalah Zamzam Tower yang tepat di seberang hotel tempat kami menginap.

Malah suami yang sering bingung arah saat kami berdesakan mencari pintu keluar menuju hotel. Saya sudah nyaman dengan patokan saya, dan selalu benar saat kami mencari arah pintu keluar sehingga sering nyandain suami, “Ih, Abi lupa melulu,” saat suami bingung mencari pintu.

Nah, di Madinah, lain lagi. Jalan dari hotel ke Masjid Nabawi ternyata tak terlalu khas. Ada banyak blok yang serupa penampakannya di sebelah hotel kami. Dan, karena biasanya kami bersama-sama saat berangkat ke masjid, saya abai, tak terlalu memperhatikan sekeliling.

Masalah muncul suatu hari, sehabis salat Jumat. Jamaah yang membludak membuat suasana Masjid Nabawi padat riuh. Saya agak hilang orientasi.

Tadinya saya masih jalan bareng dengan dua orang jamaah wanita satu rombongan. Tapi kami terpisah di tengah berjubelnya orang. Berdesakan dengan orang Arab yang tinggi-tinggi, saya menengok ke belakang, mereka berdua sudah tidak kelihatan.

Di sinilah tragedi dimulai. Saya tersesat. Salah ambil pintu keluar. Malah makin menjauh dari hotel. Duh, bagaimana ini. Telepon suami. Tak terangkat. Chat WhatsApp juga centang satu. Agak deg-degan saya.

Siang terik, lelah karena berjalan lumayan jauh. Sendirian. Di negeri asing. Saya terus merapal doa. “Ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini.”

Akhirnya saya buka aplikasi Maps. Saya masukkan nama hotel tempat kami menginap. Astaghfirullah, ternyata posisi saya lumayan jauh. Beberapa blok jaraknya.

Bismillah. Dengan panduan Maps itu saya berjalan di teriknya matahari Madinah. Apalagi sambil menahan pipis. Plus lapar, karena memang jam makan siang. Haha lengkaplah sudah.

Saya berjalan terus sampai akhirnya ketemu toko yang cukup familiar. Oh, ini sudah mendekati hotel. Alhamdulillah.

Di ujung jalan, ternyata suami sudah menunggu. Saya mengembuskan napas lega.

Ternyata dari tadi suami juga berusaha menghubungi saya tetapi tidak tersambung. Mungkin sinyal lemot. Melihat ibu-ibu yang lain sudah sampai di hotel, sementara istrinya belum, cemaslah beliau.

“Umi ini lho. Abi cari-cari dari tadi. Abi sampai khawatir, jangan-jangan diculik pria Arab. Piye jal?”

Kami berpelukan. Seperti Teletubbies. Saya nyengir.

“Alhamdulillah nggak jadi ilang, Bi, istrimu ini. Nggak ada gantinya, loh. Limited edition.” Kami tertawa bersama. Lega.

***

Malamnya saya merenung. Kejadian tersesat siang tadi sepertinya teguran dari Allah. Saya mungkin agak takabur, saat di Makkah merasa hebat karena bisa menemukan arah dengan mudah tanpa tersesat. Di Madinah, Allah kasih saya pelajaran.

Tanah Haram memang istimewa. Pahala beribu-ribu kali lipat dengan keberkahan berlimpah ruah. Namun, Allah juga langsung kasih teguran jika kita melakukan kesalahan. Cash. Langsung di tempat.

Makanya di sana kita harus hati-hati dalam bertindak dan berbicara, bahkan membatin pun tak boleh sembarangan. Eh, sebenarnya berhati-hati itu tak cuma saat di Tanah Haram ya, tetapi di mana pun kita berada. Semua itu agar kita senantiasa selamat dan mendapatkan kebaikan.

rumahmediagrup/meikurnia

One comment

Comments are closed.