Terus Belajar Menerima Emosi

Sumber foto : dokumentasi pribadi

Terus Belajar Menerima Emosi

Masih terngiang jelas di telingaku, sekitar tiga tahun lalu, seorang wali murid yang sedang duduk di sebelahku, secara otomatis berkomentar, “Orang kurang iman.” Ketika ada berita orang gantung diri.

Saat itu, akhir tahun 2016, kondisi kejiwaanku sedang berada di titik nadir. Aku jadi terpicu dengan komentar tersebut.

Sementara itu, belum lama ini nitizen ramai membully ibu yang menggelonggong balitanya. Stigma “kurang syukur, kurang iman, kurang ibadah” langsung tersemat tanpa ampun. Kali ini alhamdulillah mentalku sudah jauh lebih baik. Sudah tidak lagi terpicu seperti dulu. Hanya doa yang bisa kupanjatkan semoga ibu itu bisa mendapat penanganan yang baik.

Sungguh … ringannya mulut berkomentar. Padahal tak sesederhana itu menghakimi para penyintas gangguan mental. Ada banyak lapisan yang harus dikupas dan digali sampai menemukan runutan akar masalah sedari dulu dan pemicunya yang sekarang ini. Akar itu semua bahkan bisa jadi berasal dari nenek moyangnya dulu.

Sebab kita tidak pernah tahu seperti apa kehidupan para penyintas itu dulunya.

Seperti orang lain yang juga tidak akan pernah tahu, bahkan suamiku sendiri, belum pernah tahu rasanya di posisiku. Berjuang melawan trauma muntah. Benar-benar trauma itu membuatku ingin menyerah dan menyudahi saja semua. Ya … menyudahi mengurus anak. Ada rasa ingin kabur entah kemana asalkan tidak lagi mendengar hoek dan melihat muntahan anak.

Sebab akar masalahnya, dulu semasa kecil aku sering kali sakit disertai muntah sampai berguling-guling saking sakitnya. Sakit ini sudah kuidap sejak balita, remaja dan lanjut sampai dewasa jelang menjadi ibu.

Benar-benar mengalami sendiri selama 17 tahun lamanya. Dimulai pada usai 14 tahun, aku selalu saja muntah setiap menstruasi di hari pertama. Mukaku membiru, bulir keringat besar-besar membuatku menggigil, muntah pun tak berjeda dari subuh sampai magrib.

Jadi harus sedia wadah disamping tempat tidur. Sebab sudah tak kuat merangkak ke kamar mandi untuk menuntaskan muntah yang berkali-kali. Persis Tyaga yang sedang memegang baskom dan Jehan yang menghadap stoples besar sebagai wadah muntahnya (seperti di foto).

Seperti itulah dan rutin aku sakit setiap bulan. Atas kebesaran Allah saja, aku baru bisa sembuh saat berusia 31 tahun. Ketika sudah bisa hamil Tyaga.

Trauma muntah itu teramat dalam. Jangankan berpikir untuk hal yang rumit bagi otak ibu depresi meski itu sekadar bersyukur, beriman dan beribadah. Bisa tetap waras dan tidak terlintas lagi pikiran membantai anak saat muntah, itu sudah alhamdulillah sekali. Sebab dorongan itu sangat kuat.

Karena sekadar mendengar hoek-hoek dan melihat muntahan terjun bebas keluar dari mulut mungil anakku, aku benar-benar terpicu. Jika diumpakan, itu seperti mendengar desis ular dan akhirnya melihat ular kobra dalam posisi siap menyerang. Memang berlebihan.

Ada rasa ingin menghabisi ular itu supaya tidak lagi berdesis dan menyerangku. Seperti berkelebat halunisinasi. Padahal yang kuhadapi adalah anakku sendiri. Seperti yang terlihat pada foto.

Sensasi yang sangat menyeramkan, bukan?

Seperti itulah rasanya di posisi ibu depresi atau entah apalah diagnosa dokter psikiater kala itu. Karena pada kenyataannya pengobatanku di bulan Januari 2017 belum sampai tuntas sampai ketemu diagnosa yang sesungguhnya.

Aku menghentikannya sendiri pada bulan Febuari 2017 karena tak tahan dengan efek obat anti depresan dan mood stabilizer untuk bipolar. Membuatku mengantuk luar biasa, lemas, lunglai, lesu. Padahal anak-anakku tak punya siapa-siapa untuk mengurus mereka selain aku. Jadi aku harus kuat.

Padahal ada ketakutan luar biasa yang membuat jantungku berdegup kencang. Rasanya mau copot seluruh tulang dan jantungku. Menghadirkan sensasi nyeri luar biasa di tulang dan jantung. Akhirnya menjadikan manifestasi pelampisan marah pada anak. Saking takutnya menghadapi anak yang sedang muntah. Maka meledaklah marahku yang bak monster. Padahal sesungguhnya, marahku itu pada diri sendiri. Sebab aku pernah membenci keadaanku yang dulu sering muntah.

“Anak muntah kok malah dimarahi.” Penghakiman ini justru datang dari diriku sendiri. Terngiang terus di telingaku. Berasal dari pikiranku sendiri. Karena trauma mendalam itu, membuatku masih sulit MENERIMA KENYATAAN bahwa anak sakit muntah adalah hal biasa. Namun menjadi kejadian luar biasa bagi penderita trauma,

Alhamdulillah … itu semua terjadi dulu sebelum intens belajar MINDFULNESS PARENTING di Agustus 2016. Meski dalam prosesnya sekitar dua tahun lalu aku masih menampari bibir mungil Tyaga yang tidak bisa berhenti muntah.

Saat terulang lagi menghadapi Tyaga sakit muntah Sabtu minggu lalu dan Jehan kemarin, aku sudah bisa menahan tangan dan bentakan bengisku pada Tyaga Jehan.

Karena selama 3 tahun berproses membaik, aku belajar MENERIMA EMOSI (ACCEPTANCE), yaitu PENERIMAAN KEADAAN DAN KENYATAAN SATU PER SATU.

Atas seizin Allah, MINDFULNESS PARENTING menyadarkanku untuk hadir “di sini dan sekarang.”

Bahwa fase hidup kedua anakku yang sedang sakit muntah saat ini dan sekarang bukanlah fase hiduku di masa lalu.

Secara terus menerus aku menancapkan kalimat afirmasi di atas. Afirmasi ini bisa digunakan untuk berbagai tujuan. Tetapi secara umum dipakai untuk memprogram ulang pikiran bawah sadar dan mendorong seseorang untuk mempercayai hal-hal tertentu, misalnya citra positif tentang diri sendiri. (Aprillia, Dian. 2017. Afirmasi, Kata-kata Positif yang Mengubah Hidup. Beritagar.id. https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/afirmasi-kata-kata-positif-yang-mengubah-hidup).

Lalu menancapkan kalimat ACCEPTANCE (PENERIMAAN) kepada jiwa masa kecilku (INNER CHILD) seperti berikut ini :
1. AKU TERIMA ANAKKU SAKIT. INI HAL BIASA TERJADI DALAM HIDUP.
2. SAKIT BISA MUNTAH, BUKAN BERARTI AKU INI IBU YANG TIDAK BAIK DAN GAGAL.
3. SAKIT MUNTAH ANAKKU BERBEDA DENGAN SAKIT MUNTAHKU SEMASA KECIL.
4. SAKIT MUNTAH ANAKKU CEPAT TERTANGANI DENGAN BAIK, JADI TIDAK AKAN MEMBUAT ANAKKU MENDERITA SEPERTI MASA KECILKU DULU.
5. BISMILLAH AKU MAMPU DAN KUAT MENERIMA, MENDENGAR HOEK DAN MELIHAT MUNTAH. AKU TETAP KUAT MENTAL, TIDAK TERPICU MENJADI MARAH YANG MELEDAK.
6. MESKIPUN MUNGKIN AKU MASIH MARAH, JANGAN SAMPAI TANGANKU MENYAKITI TUBUH ANAKKU LAGI.
7. TAHAN … TAHAN … TAHAN … JANGAN SAMPAI MULUTKU MENYAKITI KEDUA ANAKKU DENGAN MEREPET MENGELUARKAN KALIMAT YANG MELUKAI HATI. ITU SAMA SAJA MELAKUKAN KEKERASAN VERBAL.
8. PELUK ERAT RIBKA KECIL. KAMU PASTI BISA MELEWATI FASE SULIT KALI INI.

Alhamdulillah aku berhasil!

Meski semalam sempat menampar lantai satu kali saja akibat benar-benar sudah tidak sanggup menahan penat menghadapi anak yang sakit muntah bergantian saban weekend ini. Tapi aku masih bisa bertahan waras hingga saat ini meski tak ada suami menemani. Karena suami sedang sibuk dengan pekerjaannya. Namun aku yakin ada Allah yang selalu melindungi kami.

Sujud syukur tak terkira atas lindungan-Mu selama ini ya Allah….

Sokaraja, 8 November 2019

rumahmediagrup/ribkaimari

2 comments

Comments are closed.