Dilema Berkepanjangan

Acara praDiklatsar yang berlangsung dua hari itu memberikan semangat baru bagi siswa yang memang memasuki ekstra kurikuler pasukan pengibar bendera.

Kegiatan yang cukup memberikan kontribusi bagi siswa sekaligus juga sekolah, ketika diadakan setiap lomba memberikan piala kejuaraan.

Tak terkecuali Wini yang kemarin memaksakan diri untuk mengikuti upacara pembukaan sekaligus kegiatan praDiklatsar di sekolahnya untuk satu malam.

Semua nampak lancar menginjak disetiap acara pembukaan saat itu. Namun ketika tiba-tiba Wini yang tengah tegang berdiri mengikuti upacara, merasa sedikit pusing dan penglihatan mulai kabur, terasa ada cahaya biru-biru gelap yang semakin menyedot tenaga badannya yang tadi tegap berdiri.

Dan tiba-tiba tubuhnya terkulai lemas seketika, ambruk di tengah upacara sedang berlangsung. Semua yang melihat langsung sigap mengangkat tubuh Wini yang pingsan.

Wajahnya pucat tak bercahaya. Tatapan sedikit kosong ketika teman-teman dari kelompok Palang Merah Remaja mulai berusaha membuatnya untuk sadarkan diri.

Semua kembali ke barak utama. Melanjutkan acara, yang kebetulan memasuki waktu Maghrib untuk istirahat sejenak.

Tak lama setelah teman-teman berusaha untuk membuat Wini sadar diri, akhirnya dengan sangat lemah Wini tiba-tiba membuka mata dengan tatapan yang masih kosong.

Semua merasa bersyukur, meskipun mereka semua saling memberi tatapan saling penuh tanya. Kenapa kejadian tadi bisa menimpa Wini tiba-tiba. Bukankah Tini dari awal acara mengikuti dengan sikap sempurna tak tampak keluhan sedikitpun.

Panitia tidak mau membuat Wini semakin merasa terus tegang, sampai pada akhirnya setuju untuk dipulangkan. Meski diawal Wini merasa akan baik-baik saja tidak bersedia pulang…

Foto : dokumentasi prubadi