Thawaf Tanpa Busana

Thawaf Tanpa Busana

Seperti yang diceritakan dalam sejarah, Ka’bah sebagai kiblat kaum muslimin sudah ada sejak sebelum masa Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim bersama putranya Nabi Ismail mendapat perintah untuk meninggikan pondasinya karena waktu itu bisa jadi ka’bah runtuh atau bahkan rata dengan bumi. Setelah selesai tugasnya, Nabi Ibrahim berdoa dengan diaminkan oleh Nabi Ismail. Beliau berdoa supaya beliau dan keturunannya menjadi hamba yang tunduk dan patuh kepada Tuhannya.

Dan demikianlah, sepanjang masa ka’bah selalu diagungkan. Konon masyarakat jahiliyah yang mengagungkan ka’bah dan mengklaim melaksanakan ajaran Nabi Ibrahim terbiasa melakukan keliling ka’bah atau thawaf tanpa busana, karena mereka berpendapat bahwa pakaian yang mereka kenakan tidak lagi suci lagi setelah mereka gunakan sehari hari. Kaum jahiliyah baik laki-laki maupun perempuan berthawaf tanpa busana sambil berdendang.

Kebiasaan berthawaf tanpa busana itu berlanjut hingga tahun ke 10 hijriah dimana turun firman Allah SWT yang memberi kaum musyrik Mekah tenggang waktu untuk mempersiapkan diri meninggalkan Mekah agar benar-benar menjadi kota suci. Pada saat itulah Rasulullah mengutus Sayidina Ali untuk mengumumkan pada saat pelaksanaan haji tahun ke sepuluh itu tidak diperkenankan lagi seorangpun berthawaf tanpa busana.

Rumahmediagrup/muslimatulfaiqoh

One comment

Comments are closed.